Pages

 

Senin, 27 Desember 2010

Tahrijul Hadits

1 comments
PERWAKAFAN DI INDONESIA
DAN BEBERAPA PERMASALAHANNYA
A. Latar Belakang Masalah
Di antara persoalan penting yang ditekankan dalam Islam adalah shadaqah jariyah (yang terus menerus bermanfaat sampai setelah matinya orang yang memberi shadaqah). Inilah yang secara istilah disebut "wakaf Khairi." Secara definitif dapat diuraikan sebagai berikut, "Harta yang dikeluarkan dari (berasal) milik perorangan, untuk diambil manfaatnya oleh salah satu lembaga sosial Islam, karena mencari pahala dari Allah SWT"
Rasulullah SAW pernah mengisyaratkan (memerintahkan) kepada Umar RA untuk mewakafkan hartanya di Khaibar, dan tidak ada seorang pun dari sahabat
Lanjuuutt..

Fiqih Perbandingan (Qiyas)

0 comments
PENGGUNAAN QIYAS SEBAGAI DALIL HUKUM
DALAM PENETAPAN HUKUM ISLAM

A. Latar Belakang Masalah
Dalam pengambilan suatu hukum, para mujtahid selalu menggunakan istinbat yang selalu memperhatikan terhadap dalil-dalil yang berkenaan dengan hukum tersebut, baik dalil tersebut berupa nash Al-qur’an maupun nashAs-sunnah, baik yang bersifat qoth’I maupun bersifat dhonni.
Akan tetapi sekalipun demikian, tentang cara para mujtahid didalam memproses atau memproduk sebuah hukum juga mengalami adanya perbedaan, meskipun dalil dan cara yang digunakannya sama,
Lanjuuutt..

Sabtu, 25 Desember 2010

Qiyas

0 comments
QIYAS

I. Definisi Qiyas
Menurut bahasa qiyas berarti ukuran, mengetahui ukukran sesuatu, membandingkan, atau menyamakan sesuatu dengan yang lain 1. Pengertian qiyas secara istilah terdapat beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama’ushul, walaupun redaksinya berbeda namunmengandung pengertian yang sama. Diantaranya menurut ahli Ilmu Ushul, Qiyas adalah: Mempersamakan suatu kasus yang tidak ada nash hukumnya dengan suatu kasus yang ada nash hukumnya, karena persamaan kedua itu dalam ilat
Lanjuuutt..

Jumat, 24 Desember 2010

Al quran sumber hukum Fiqih

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sumber hukum ada 4 bagian, antara lain yaitu Al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan qiyas. Kali ini penulis akan memafarkan tentang sumber hukum ushul fiqh pada bagian Al-Qur’an.
Dan alasan penulis untuk menulis makalah ini dan memaparkannya yaitu untuk mengetahui apa sebenarnya pengertian A-=Qur’an dan mengkaji hukum-hukum yang ada di dalam al-qur’an yaitu nash Qhat’i dan
Lanjuuutt..

AL MASLAHAH MURSALAH

0 comments
AL MASLAHAH MURSALAH
1. Definisinya
Masalah Mursalah ( Kesejataraan umum ) Yakni yang dimutlakkan, ( Maslahah berfungsi umum ) menurut istilah Ulama Ushul yaitu, maslahah di mana syari’at tidak mensyari’atkan hukum untuk mewujudka maslah itu. Juga tidak terdapat dalil yang menunjukkan atas pengakuanya atau pembatalanya, maslahah itu disebut mutlak, karena tidak dibatasi dengan dalil pengakuan atau dalil pembatalan. Contohnya yaitu, yaitu maslahah yang karena maslahah itu, sahabat mensyari’atkan pengadaan penjara, atau mencetak mata uang, atau menetapkan (hak milik) pertanian sebagai hasil kewenangan warga sahabat itu sendiri dan ditentukan pajak penghasilannya. Atau maslahah- maslahah lain yang harus dituntut dengan keadaan- keadaan darurat kebutuhan dan atau karena kebaikan, dan belum disyari’atkan hukumnya, juga tidak terdapat saksi syara’
Lanjuuutt..

Minggu, 19 Desember 2010

Membuat Laporan Dalam Grafik

0 comments
Membuat Laporan Dalam Grafik

Tujuan Instruksional Khusus:
1.      Bisa menampilkan laporan dalam bentuk grafik
2.      bisa membuat beberapa jenis grafik

Pada bab ini dijelaskan mengenai pembuatan laporan dalam bentuk grafik. Kelebihan grafik dibanding dengan laporan biasa adalah lebih mudah dilihat dan dianalisa karena secara visual bisa dilihat besar kecilnya suatu nilai disertai dengan efek warna. Seperti peribahasa mengatakan, “dengan gambar, bisa menerangkan seribu kata”.
Untuk membuat grafik dalam halaman ASP dibutuhkan komponen mtambahan karena ASP sendiri tidak menyediakan pembuatan grafik. Ada banyak sekali komponen grafik yang bisa digunakan baik yang free/gratis maupun yang komersial. Untuk materi ini, digunakan komponen FusionChart merupakan komponen grafik yang free tetapi memiliki fitur yang sangat menarik berbasiskan flash.
Lanjuuutt..

Web statis dan Dinamis

0 comments

Web statis dan Dinamis
HTML (Hypertext Markup Language) merupakan sebuah bahsa untuk menampilkan sesuatu. Dokumen HTML merupakan sebuah file teks yang berisi tag-tag, atribut-atribut, dan teks. Tag dan atribut mengatur bagaimana teks dan gambar harus ditampilkan. Pada saat browser mengirimkan request terhadap file ini, server mengirimkan file tersebut.
Karena dokumen HTML dihasilkan dari sebuah file dan bersifat statis maka untuk mengubahnya harus dilakukan dengan mengedit file HTML. Misalnya saja anda telah memiliki katalog suku cadang kendaraan yang berisi 500 jenis barang. Setiap barang memiliki informasi detil seperti ukuran, jenis bahan, atau warna yang ukurannya paling tidak 2 lembar folio. Untuk memasukan informasi 500 barang tadi diperlukan 500 dokumen HTML. Bisa anda bayangkan berapa waktu yang diperlukan untuk membuat file tersebut.
Lanjuuutt..

pendidikan

0 comments

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dengan metode pendidikan yang tersistematis dan inovatif akan memunculkan beragam metode pendidikan yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di seluruh penjuru tanah air Indonesia, transformasi keilmuan pada generasi bangsa tidak akan pernah habis di makan waktu karena perkembangan teknologi dan science (ilmu pengetahuan) selalu memberikan hal baru pada setiap zamannya untuk pengembangan teknologi, dengan menciptakan metode pendidikan yang sesuai dengan sosial budaya bangsa Indonesia, sehingga akan menghasilkan generasi yang berkualitas, mansiri, bijak dalam memanfaatkan potensi yang ada dan memiliki rasa nasionalisme.
Lanjuuutt..

Rabu, 03 November 2010

filosofis pendidikan

0 comments
TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG LI
NGKUNGAN

PENDIDIKAN ISLAM

A. Pengertian Lingkungan Tarbiyah Islamiyah
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang ikut serta menentukan corak pendidikan Islam, yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap anak didik, lingkungan disini adalah lingkungan yang berupa keadaan sekitar yang mempengaruhi pendidikan anak . Lingkungan pendidikan Islam adalah suatu institut atau lembaga dimana pendidikan itu berlangsung, dan juga dapat dipahami bahwa tarbiyah Islamiyah itu adalah suatu lingkungan
Lanjuuutt..

Pendidikan 2

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dengan metode pendidikan yang tersistematis dan inovatif akan memunculkan beragam metode pendidikan yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di seluruh penjuru tanah air Indonesia, transformasi keilmuan pada generasi bangsa tidak akan pernah habis di makan waktu karena perkembangan teknologi dan science (ilmu pengetahuan) selalu memberikan hal baru pada setiap zamannya untuk pengembangan teknologi, dengan menciptakan metode pendidikan yang sesuai dengan sosial budaya bangsa Indonesia, sehingga akan
Lanjuuutt..

Minggu, 31 Oktober 2010

Konsep Pendidikan

2 comments
Latar Belakang Masalah : Islam menuntut agar manusia dididik dari segala aspek (jasmani, akal,dan jiwa) tanpa perbedaan dan pemisahan, dan sedapat mungkin disajikan secara simultan. Hal ini terlihat jelas dalam meteri-materi yang disajikan Al-Quran dan Hadits. Uraian-uraiannya tidak hanya menyentuh jiwa, tetapi juga diiringi dengan argumentasi yang logis, atau yang dapat dibuktikan sendiri oleh manusia (anak didiknya) melalui penalaran akalnya. Dengan ini manusia akan merasa diajak berperan dalam menemukan, memiliki dan bertanggung jawab untuk memeliharanya.

Lanjuuutt..

Sabtu, 30 Oktober 2010

Pendidikan Pesantren

0 comments
Latar Belakang : Menurut (Dirjen Bimbingan Islam Departemen Agama Republik Indonesia) Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan agama Islam, yang dilakasanakan dengan sistem asrama (pondok) dengan kyai yang mengajarkan agama kepada para santri, dan masjid sebagai pusat lembaga pesantren.
Di dalam pondok pesantren terdapat elemen-elemen yang mendasar yaitu : pondok, santri, pengajian kitab klasik kyai sederhana dan saling tolong menolong. (Hasbullah, 1999: 40)
Lanjuuutt..

Kamis, 13 Mei 2010

Tantangan Pendidikan Islam

0 comments
Latar Belakang Masalah : Pendidikan Islam merupakan sebuah pendidikan yang harus dilakukan secara sadar untuk mencapai tujuan yang jelas melalui syari’at Islam. Pendidikan Islam adalah universal dan hendaknya diarahkan untuk menyadarkan manusia bahwa dirinya adalah hambah tuhan yang berfungsi menghambahkan diri kepadanya. Jadi pendidikan Islam adalah menyadarkan manusia agar dapat mewujudkan penghambaan diri kepada Allah Swt sang pencipta baik secara sendiri-sendiri, maupun secara bersama-sama.
Lanjuuutt..

Proses Pendidikan

0 comments
PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI SUATU PROSES
PEMBENTUKAN PRIBADI MUSLIM


A. Pendahuluan
Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu “paedagogie” yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemah-kan dengan “tarbiyah” yang berarti pendidikan.
Dalam perkembangan istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.
Lanjuuutt..

Pendidikan Nasional

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Salah satu alat untuk meningkatkan taraf hidup bangsa adalah Pendidikan. Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mempengaruhi manusia, agar ia mampu mewujudkan apa yang ia pandang sebagai makna eksistensi manusia di dunia ini, dengan membina budi pekerti dan turut membina kebudayaan sesamanya demi kebaikan pribadi sekeluarga, kebaikan sesama bangsa dan sesama manusia. Dengan demikian terbina budi pekerti atau cara hidup pribadi orang seorang dan kebudayaan atau cara hidup bermasyarakat. (Reksohadi Projo, 1979:18)
Lanjuuutt..

Psikologi Pendd

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada negara-negara yang sudah berkembang ataupun yang sudah memahami stabilitas politik dan agama, pendidikan menjadi perhatian penting bagi masyarakat. Bahkan pada sekitar waktu peluncuran pesawat ruang angkasa pertama kali, sebagian besar masyarakat dunia tidak lagi hanya memperhatikan, melainkan menjadi demam memikirkan pendidikan, masyarakat mulai ramai memperdebatkan fungsi dan tujuan pendidikan.
Orang-orang yang paling getol memperdebatkan pendidikan cenderung berpendirian, bahwa tujuan pendidikan dasar adalah mempersiapkan generasi mudah untuk
Lanjuuutt..

Pendd dlm Islam

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pengajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah bertujuan agar siswa dapat memperoleh kemampuan berfikir logis, kritis dan sistematis. Melalui pengajaran pendidikan agama Islam, siswa mampu mengembangkan kemampuan untuk berfikir secara logis, memiliki keterampilan berfikir kritis dalam kehidupan sehari-hari, dan berbudi luhur.
Umumnya pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah yang masih menggunakan sistem konvensional, dimana guru menerangkan siswa mendengarkan dan mencatat serta pengajaran tugas. Sehingga keterlibatan siswa di sini adalah keterlibatan pasif mereka hanya menerima, mempelajari apa yang mereka peroleh di kelas.
Lanjuuutt..

Tujuan Pendidikan

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Al-Qur'an memandang bahwa manusia adalah makhluk biologis, psikologis dan sosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lainnya. Manusia sebagai insan dan al-nas dengan hembusan illahi atau roh Allah yang memiliki keterbatasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang takdir Allah. Pemikiran tentang hakikat manusia dibahas dalam filsafat manusia. Agaknya, manusia sendiri tak henti-hentinya memikirkan dirinya sendiri dan mencari jawab akan apa, dari mana dan mau kemana manusia itu. PemAhaman yang tak utuh tentang manusia dapat berakibat fatal bagi perlakuan seseorang terhadap sesamanya, misalnya saja pandangan bahwa manusia merupakan fase lanjutan dari spesies tertentu yang mengalami evolusi dan natural selection, akan berimpikasi pada keyakinan bahwa manusia akan terus berkembang menuju penyempurnaan spesies.
Lanjuuutt..

Minat Beli

0 comments
Latar Belakang Masalah: Berkembangnya tehnologi akhir-akhir ini berakibat pada kemajuan jaman sehingga cenderung membawa dampak positif dan negatif yang mengenai pada masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari gejala kehidupan masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia misalnya adanya gejala lunturnya kecintaan pada nilai moral dan norma kehidupan bangsa, banyaknya tindak korupsi, perkosaan, pembunuhan dan kejahatan dalam berbagai bentuk lainya. Hal ini sebenarnya berkaitan dengan produk pendidikan terutama pembentukan akhlak manusia yang akhir-akhir ini mengalami dekadensi moral yang mengarah pada dehumanisasi.
Lanjuuutt..

Sarana Prasarana

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN
A. latar Belakang Masalah
Masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan diantaranya rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar khususnya siswa Sekolah Menengah Atas ( SMA ). Pendekatan pembelajaran masih terlalu didominasi oleh peran guru (teacher centered), guru lebih banyak menempatkan siswa sebagai obyek dan bukan sebagai subyek didik. Pendidikan kita kurang menempatkan kesempatan kepada siswa dalam berbagai mata pelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif obyektif dan logis. Demikian pula dalam proses pembelajaran PKn, hendaknya guru menggunakan metode yang membuat siswa banyak beraktifitas. Dengan banyaknya beraktifitas yang dilakukan oleh siswa akan dapat menghilangkan rasa jenuh dalam
Lanjuuutt..

Metode Tanya Jawab

0 comments
Latar Belakang Masalah: Pembelajaran pada dasarnya membahas pertanyaan: apa, siapa, mengapa, bagaimana, dan seberapa baik tentang pembelajaran. Pertanyaan apa berkaitan dengan isi atau materi pembelajaran. Pertanyaan siapa berkaitan dengan guru dan siswa sebagai subjek dari kegiatan pembelajaran. Bagaiama kualifikasi, kompetensi, dan perilaku seorang guru yang lebih baik. Bagaimana cara memotivasi siswa untuk belajar?.
Bagaimana guru membangkitkan partisipasi siswa sehingga dapat mengembangkan potensi individunya secara optimal?.

Lanjuuutt..

Manajemen Kalkulatif

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Belum ada korelasi yang pasti antara tingkat ksejahteraan guru dengan peningkatkan kompetensi yang berujung pada profesionalisme. Ada seorang guru yang gajinya tersisa minim sekali tetapi kinerjanya tetap tak terganggu. Sebaliknya ada juga guru yang gajinya terbilang besar tetapi kinerjanya kurang bagus. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa secara umum kondisi gaji merupakan salah satu variabel yang mendorong semangat kerja para guru. Semangat inilah yang mungkin dapat diaktualisasikan dalam bentuk peningkatan pengetahuan menuju peningkatan kompetensi yang diinginkan.
Pada banyak kasus profesionalisme lebih dipegaruhi oleh kompetensi kepribadian yang dimiliki. Guru guru yang memiliki dedikasi tinggi, akan mengajar dengan baik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada.
Lanjuuutt..

Metode Ceramah

1 comments
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Proses pembelajaran bidang studi Bahasa Arab di MI memiliki fungsi yang penting dalam memberikan pondasi yang kuat dan dalam bagi siswa guna membentuk suatu konstruksi individu yang berakhlaq al-karimah di masa-masa mendatang (Ma’arif, 2003 : 12). Di masa yang akan datang, suatu konstruksi individu yang berakhlaq al-karimah (mempunyai budi pekerti yang luhur) berperan besar dalam proses pembangunan bangsa dan memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat di mana pun dirinya akan berdomisili. Proses pembelajaran bidang studi Bahasa Arab bersandar pada kurikulum pembelajaran dan pengajaran Agama Islam yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Lingkungan oleh Departemen Agama.
Lanjuuutt..

Baca Tulis Al Qur an

0 comments
PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL-QUR'AN DENGAN MENGGUNAKAN METODE INDEKS MEET CARD
DI KELAS VII SMP A. WAHID HASYIM TEBUIRENG JOMBANG



A. LATAR BELAKANG
Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatu guna kepentingan pengajaran.
Di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang, pemahaman siswa kelas VII pada materi ajar Al-Qur'an Hadits sangat rendah dilihat dari hasil tes praktek pada semester I tahun pelajaran 2009-2010 dengan rata-rata nilai di bawah KKM yaitu 5,80. padahal KKM untuk pelajaran Al-Qur'an hadits adalah 6.00. hal ini disebabkan metode yang diterapkan guru tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Berdasarkan masalah di atas maka dalam penelitian ini, kami mengambil judul "Card Kelas VII di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang"

B. RUMUSAN MASALAH
Setelah memperhatikan latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1. Apakah penggunaan metode Indek Meet Card dapat meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur'an siswa kelas VII di SMP Tebuireng Jombang.
2. Sejauh mana peningkatan kemampuan baca tulis Al-Qur'an siswa kelas VII melalui penerapan Metode Indek Meet Card di SMP Tebuireng Jombang.

C. CARA PEMECAHAN MASALAH
Satu persatu atau dibuat kelompok-kelompok kecil, siswa diperlakukan secara khusus agar penguasaan keterampilan baca tulis Al-Qur'an dengan metode Indeks Meet card mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.
D. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur'an kelas VII SMP Tebuireng Jombang dengan metode Indeks Meet card.

E. MANFAAT PENELITIAN
Secara umum penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan atau memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas. Secara khusus, penelitian ini diharapkan dapat mempunyai kontribusi kepada siswa, guru, dan lembaga yang bersangkutan.
1. Bagi siswa
a. Siswa lebih aktif, kreatif dan termotivasi untuk meningkatkan proses dan hasil belajarnya, serta akan memberdayakan kemampuan baca tulis Al-Qur'annya.
b. Siswa dapat mengembangkan pada materi lain yang terkait dalam membaca dan menulis.
c. Siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru yang kelak bisa berguna bagi mereka sendiri.
2. Bagi Umum
a. Dapat meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan dalam menjalankan tugas sebagai guru.
b. Menambah wawasan tentang metodologi pembelajaran mata pelajaran Al-Qur'an Hadits.
c. Dapat menstimulus guru dalam melakukan inovasi pembelajaran mata pelajaran Al-Qur'an Hadits.
d. Dapat membantu didalam memperbaiki mutu pembelajaran mata pelajaran Al-Qur'an Hadits.
e. Dapat memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.
f. Dapat meningkatkan rasa percaya diri guru.
3. Bagi lembaga yang Bersangkutan
a. Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan kemajuan lembaga pendidikan yang bersangkutan.
b. Dapat dijadikan sebagai bahan introspeksi untuk perbaikan kebijakan berikutnya.


F. HIPOTESIS TINDAKAN
Berikut ini adalah hipotesis tindakan yang diajukan pada penelitian ini :
a. Jika metode Index Meet card digunakan pada siswa kelas VII di SMP. A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang maka kegiatan baca tulis Al-Qur'an dapat meningkat.
b. Pembelajaran dengan metode Index Meet Card akan menambah kemampuan baca tulis Al-Qur'an siswa.
c. Penggunaan metode Index Meet card menjadikan proses belajar mengajar lebih terkontrol dan terarah serta terpenuhinya hasil belajar yang direncanakan.

G. RENCANA PENELITIAN
1. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP. A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang dengan jumlah siswa 30 orang.
2. Tempat Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di SMP. A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang. penulis mengambil lokasi ini dengan pertimbangan bekerja pada sekolah tersebut, sehingga memudahkan pencarian data dan subyek penelitian yang sangat sesuai dengan profesi penulis.
3. Waktu Penelitian
Dalam berbagai pertimbangan dan alasan, penulis menentukan penggunaan waktu penelitian dalam jangka waktu 3 bulan mulai September sampai dengan bulan Nopember pada semester Genap tahun pelajaran 2009-2010.
4. Rencana Tindakan
Waktu untuk melaksanakan tindakan pada bulan Nopember, mulai dari siklus I, siklus II dan siklus IV.
5. Indikator Kinerja
a. Perencanaan
Meliputi perencanaan materi pelajaran, latihan membaca, latihan menulis dengan media kartu
b. Tindakan
Kegiatan mencakup :
1. Siklus I meliputi pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup
2. Siklus II (sama dengan I)
3. Siklus III (sama dengan II)
c. Refleksi
Dimana perlu adanya pembahasan antara ketiga siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.

H. JADWAL PENELITIAN

NO KEGIATAN Minggu
Ke ….. Minggu
Ke ….. Minggu
Ke …..
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Perencanaan x x
2 Proses Pembelajaran x
3 Evaluasi x
4 Pengumpulan Data x x x
5 Analisis Data x
6 Penyusunan Hasil x x
7 Pelaporan hasil x x
Lanjuuutt..

Media Gambar

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Proses pendidikan di sekolah dasar, dalam pembelajarannya mempunyai fungsi dan pengaruh yang sangat besar dalam membangun konstruksi kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Semua kegiatan pembelajaran di jenjang pendidikan sekolah dasar hendaknya dikelola dengan baik, berdaya guna, dan berhasil guna dengan bimbingan yang cermat, pendekatan yang tepat, dan pemahaman yang memadai kondisi psikologis siswa di sekolah dasar, yang memang pada dasarnya memerlukan perhatian dan wawasan yang cukup.
Pada pendidikan dasar enam tahun di sekolah dasar secara prinsipil menempatkan banyak elemen yang dipertaruhkan, karena pada jenjang ini merupakan jenjang peletakan pondasi dasar dalam proses pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Pondasi yang kokoh akan membuat proses pembelajaran di jenjang selanjutnya relatif lebih ringan karena tinggal melanjutkan dan meneruskan proses pembelajaran yang telah ada. Seringkali para guru di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan di sekolah dasar, seperti di tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) bahkan di perguruan tinggi mengeluh, karena siswanya lemah dalam penguasaan dan keterampilan yang berhubungan secara langsung bentuk-bentuk kemampuan-kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa secara mutlak.
Bidang studi matematika seringkali menjadi pilihan atau salah satu mata pelajaran yang kurang disukai dan diminati siswa bahkan bisa dikatakan ditakuti oleh siswa. Bidang studi matematika yang memiliki hubungan langsung dengan keterampilan dasar berhitung ini menempati urutan pertama pada daftar mata pelajaran yang menjadi ‘hantu’ pada siswa di hampir semua lembaga pendidikan di berbagai jenjang, baik di tingkat sekolah dasar, tingkat lanjutan pertama maupun tingkat lanjutan atas. Bahkan pernah ditemui kenyataan bahwa ada siswa di jenjang sekolah lanjutan tingkah atas (SLTA), sekarang disebut Sekolah Menengah Atas (SMA) pada waktu penjurusan menjatuhkan pilihan pada jurusan bahasa tanpa memperhatikan kemampuan dan keterampilannya dalam bidang bahasa –baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris– dengan sebuah pertimbangan sederhana bahwa di jurusan bahasa tersebut siswa yang bersangkutan tidak akan menerima atau ‘menikmati’ pelajaran matematika dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) nya.
Sebuah kenyataan yang naif dan memprihatinkan bagi kalangan pendidikan, termasuk di dalamnya adalah guru. Namun tidak bisa dipungkiri begitu saja oleh banyak pihak yang terkait erat dengan dunia pendidikan bahwa kenyataan ini bisa saja dilatarbelakangi oleh fakta bahwa pembelajaran di tingkat dasar kurang memenuhi harapan yang diinginkan dan kurang memenuhi target ketercapaian kegiatan belajar mengajar (KBM) sehingga siswa merasa kesulitan mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan siswa bersangkutan mempunyai tingkat keterampilan matematis-logis yang rendah.
Pada umumnya, siswa di sekolah dasar mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika. Kesulitan yang berkembang pada diri hampir keseluruhan siswa di tingkat sekolah dasar pada bidang studi matematika ini yaitu kesulitan dalam menyelesaikan operasional yang berhubungan dengan keterampilan dasar matematika. Keterampilan dasar pada bidang studi matematika meliputi: (1) operasi penjumlahan, (2) operasi pengurangan, (3) operasi perkalian, dan (4) operasi pembagian.
Kenyataan tersebut di atas, pada umumnya seringkali dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa pada bidang studi matematika. Apabila permasalahan tersebut tidak segera diambil tindakan penanggulangan oleh pihak-pihak yang mempunyai hubungan yang erat dan mempunyai kewenangan (policy) dalam menentukan kebijakan dan kelancaran proses pendidikan dan pembelajaran maka niscaya siswa akan menemui kesukaran dan tertinggal dalam mengikuti proses pembelajaran bidang studi matematika.
Lebih-lebih, pada siswa yang memang pada dasarnya mempunyai motivasi belajar yang rendah, mereka akan putus asa dan menjaga jarak dengan proses pembelajaran bidang studi matematika. Sebuah realitas yang patut dicermati bersama.
Guru sebagai salah satu pihak yang mempunyai kewenangan (policy) dalam menentukan kebijakan pendidikan terutama dalam proses pembelajaran langsung di lapangan mempunyai tanggung jawab yang besar guna mengatasi permasalahan atau problematika ini. Hal ini berdasarkan realitas bahwa secara prinsipil bidang studi matematika merupakan mata pelajaran yang sangat penting dan perlu sekali untuk dikuasai siswa karena berhubungan langsung dengan salah satu aspek kecerdasan individu, dalam pengertian yang luas (Moesono, 2000:04).
Kemampuan dan keterampilan matematis-logis berikut ragam bentuk operasionalnya menentukan rentan atau tidaknya landasan pijakan kemampuan siswa dalam menyerap materi pembelajaran beragam bidang studi maupun bermacam-macam disiplin ilmu eksakta, seperyi fisika, kimia, matematika, astronomi, nautika, dan lain-lain serta bidang ilmu yang memang secara nyata memerlukan kecerdasan dan keterampilan operasional bilangan secara aplikatif.
Guru dituntut mempunyai kemampuan dan kreatifitas tersendiri dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika. Guru pengajar matematika harus bisa melepaskan diri dari predikat ‘guru yang menakutkan’, sebuah atribut yang seringkali diberikan siswa kepada guru mengingat begitu ‘mengerikannya’ bidang studi matematika. Guru juga hendaknya mempunyai ide-ide yang kreatif, inovatif, dan tepat sasaran dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya, baik secara profesional maupun moralitas. Bentuk kepercayaan orang tua murid dan wali murid untuk menyerahkan anaknya menjadi siswa dan anak didik guru di sekolah merupakan sebuah kepercayaan yang sangat tinggi dan harus dipertanggungjawabkan secara profesional, terlebih secara moral kepada diri sendiri, masyarakat, dan kepada Allah SWT.
Dalam upaya menuju ke arah peningkatan kemampuan dan keterampilan siswa dalam berbagai operasional matematis, guru hendaknya mengembangkan sebuah strategi pembelajaran yang mengenai sasaran, berdaya guna dan berhasil guna, serta dapat memberikan persepsi baru bahwa bidang studi matematika bukanlah mata pelajaran yang ‘menakutkan’ dan belajar matematika itu sebenarnya mudah (Suyadi, 1989:09).
Sejalan dengan kerangka berpikir seperti tersebut di atas, guru hendaknya mampu secara reflektif memberikan penyadaran (katarsis) kepada siswa bahwa pada dasarnya bidang studi matemayika –yang dalam proses pembelajarannya menitikberatkan pada pengasahan keterampilan operasional matematis-logis dengan angka-angka sebagai objek pembelajarannya– tidaklah berbeda jauh dengan bidang studi dan disiplin ilmu yang lain. Apabila siswa yang bersangkutan mempunyai motivasi yang rendah dalam proses pembelajarannya maka dirinya akan terus-menerus menemui kesukaran dan tertinggal jauh dalam penguasaan materi pembelajaran bidang studi matematika ini.
Selain melakukan kegiatan reflektif yang menekankan pada aspek penyadaran (katarsis) siswa, guru juga bisa memilah, memilih, dan mencermati metode yang tepat yang kiranya menemukan kesesuaian apabila diterapkan pada siswa dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar (KBM), dengan merujuk pada situasi, kondisi, latar belakang, dan karakteristik siswa di kelas itu sendiri.
Pada momentum seperti ini, peneliti merasa tepat dan mantap untuk mengetengahkan serta mendeskripsikan proses dan hasil dari penelitian tindakan kelas (PTK) yang peneliti kerjakan di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek pada tahun pelajaran 2004/2005. Karena dalam penelitian tindakan kelas (PTK) yang peneliti lakukan dengan target keterampilan operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga ini peneliti berusaha mendeskripsikan upaya-upaya yang peneliti lakukan agar keterampilan siswa dalam operasional penjumlahan siswa di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dapat menunjukkan peningkatan. Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti ini terangkum dalam sebuah kegiatan yang secara prosedural menggunakan sistematika prosedur penelitian tindakan kelas (PTK). Kegiatan penelitian ini secara konkret mengambil judul kegiatan penelitian : “Penelitian Tindakan Kelas: Penggunaan Media Gambar Sebagai Alat Peraga Untuk Peningkatan Kemampuan Operasional Penjumlahan pada Bidang Studi Matematika Siswa Kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek”.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang ada dalam penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dirumuskan sebagai berikut :
(1) Bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan siswa pada bidang studi Matematika di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga?
(2) Apakah usaha peningkatan kemampuan operasional penjumlahan siswa pada bidang studi Matematika di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga menunjukkan peningkatan seperti yang diinginkan?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini secara umum adalah untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh kegiatan peningkatan kemampuan operasional penjumlahan dalam bidang studi Matematika siswa di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pada tahun pelajaran 2004/2005.
Adapun tujuan khusus penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini adalah untuk mendapatkan deskripsi tentang :
(1) Peningkatan pemahaman dan penguasaan siswa pada materi pembelajaran bidang studi Matematika, khususnya dalam materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan baik.
(2) Peningkatan profesionalisme guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) pada bidang studi Matematika.
(3) Peningkatan profesionalisme guru dalam penggunaan media gambar sebagai alat peraga guna pengelolaan proses pembelajaran bidang studi Matematika dengan baik, khususnya pada peningkatan kemampuan operasional penjumlahan.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini, meliputi:
1. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Meningkatkan kemampuan dalam menyusun rancangan penelitian dan pengajaran (RP) dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pada kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika, dengan arahan pada peningkatan kemampuan operasional penjumlahan pada siswa.
b. Bagi Siswa
Meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan siswa sebagai salah satu tolak ukur tingkat keberhasilan kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika yang telah dilakukan bersama antara guru dan siswanya.
Meningkatkan prestasi serta pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dengan media gambar sebagai alat peraga sebagai bentuk kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa dalam bidang studi Matematika.
c. Bagi rekan seprofesi
Sebagai salah satu model pendekatan dan strategi dalam meningkatkan prestasi belajar bidang studi Matematika pada siswa yang dapat diaplikasikan secara berdaya guna dan berhasil guna di sekolah masing-masing.
2. Manfaat Teoritis
Sebagai salah satu model pendekatan dan strategi pembelajaran guna meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan siswa pada bidang studi Matematika yang bisa diterapkan pada siswa di sekolah dasar, dengan menggunakan metode pembelajaran alternatif.

1.5 Ruang Lingkup Kegiatan Penelitian
Kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dibatasi dalam sebuah ruang lingkup seperti berikut ini :
1. Penelitian ini dilaksanakan di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek pada semester satu tahun pelajaran 2004/2005.
2. Pembelajaran difokuskan pada upaya peningkatan kemampuan operasional penjumlahan siswa pada bidang studi matematika dengan menggunakan pendekatan pengurangan berulang.
3. Di sisi lain juga meningkatkan pemahaman, penguasaan, dan prestasi pembelajaran berkaitan dengan materi pembelajaran yang diberikan pada siswa kelas I sekolah dasar dalam bidang studi Matematika.
4. Kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika khususnya dalam meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada siswa di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek difokuskan pada iklim pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan bagi siswa dan guru.
1.6 Asumsi Dasar
Kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini berjalan dalam sebuah kerangka asumsi peneltian yang mendasar seperti berikut ini:
1. Siswa di kelas tersebut cenderung mempunyai tingkatan kemampuan operasional penjumlahan dalam bidang studi Matematika yang rendah.
2. Guru pengajar dan guru kelas relatif kurang memiliki kreatifitas dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran khususnya dalam meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan dalam bidang studi Matematika dan menggunakan beragam sumber sebagai media pembelajaran dan teknik pendekatan atau strategi pembelajaran yang inovatif dalam mengelola kegiatan belajar mengajar.
3. Pengembangan kemampuan pembelajaran bidang studi Matematika dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pada siswa merupakan sebuah upaya yang tepat sasaran guna membantu dan membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).
1.7 Batasan Istilah
Penafsiran yang tidak tepat dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dapat dihindari dan diminimalisasi dengan menyajikan batasan terhadap istilah-istilah yang menjadi kata kunci dalam penelitian ini.
Istilah-istilah yang dimaksud dalam penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini adalah meliputi:
(1) Peningkatan kemampuan penjumlahan; merupakan suatu usaha koordinatif yang bersandar pada nilai-normatif pembelajaran dan diatur secara teknis dalam metode pembelajaran, khususnya dalam bidang studi Matematika, dengan target pembelajaran yakni pencapaian situasi dan kondisi yang mengakomodasi kemampuan dan keterampilan siswa dalam memahami, menguasai dan mempergunakan operasional penjumlahan secara aplikatif dalam berbagai ragam soal.
(2) Media gambar sebagai alat peraga; merupakan suatu upaya mengoptimalkan penggunaan alat peraga berbentuk gambar sebagai media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika, khususnya dalam acuan peningkatan kemampuan operasional penjumlahan.
(3) Penelitian tindakan kelas (PTK); merupakan suatu pendekatan untuk memperbaiki proses dan hasil pendidikan melalui perubahan, dengan memotivasi guru agar mencermati kegiatan belajar mengajar (KBM) yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing, agar bersedia mengkritisi praktek mengajarnya itu dan merubahnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pembelajaran Bidang Studi Matematika di Sekolah Dasar
Pada pendidikan di sekolah dasar, proses pembelajaran mempunyai fungsi dan pengaruh yang sangat besar dalam membangun konstruksi kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Semua kegiatan pembelajaran di jenjang pendidikan sekolah dasar hendaknya dikelola dengan baik, berdaya guna, dan berhasil guna dengan bimbingan yang cermat, pendekatan yang tepat, dan pemahaman yang memadai kondisi psikologis siswa di sekolah dasar, yang memang pada dasarnya memerlukan perhatian dan wawasan yang cukup.
Pada pendidikan dasar enam tahun di sekolah dasar secara prinsipil menempatkan banyak elemen yang dipertaruhkan, karena pada jenjang ini merupakan jenjang jenjang peletakan pondasi dasar dalam proses pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Pondasi yang kokoh akan membuat proses pembelajaran di jenjang selanjutnya relatif lebih ringan karena tinggal melanjutkan dan meneruskan proses pembelajaran yang telah ada. Seringkali para guru di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan di sekolah dasar; seperti di tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) bahkan di perguruan tinggi mengeluh, karena siswanya lemah dalam penguasaan dan keterampilan yang berhubungan secara langsung bentuk-bentuk kemampuan-kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa secara mutlak.
Bidang studi matematika seringkali menjadi pilihan atau salah satu mata pelajaran yang kurang disukai dan diminati siswa bahkan bisa dikatakan ditakuti oleh siswa. Bidang studi matematika yang memiliki hubungan langsung dengan keterampilan dasar berhitung ini menempati urutan pertama pada daftar mata pelajaran yang menjadi ‘hantu’ pada siswa di hampir semua lembaga pendidikan di berbagai jenjang, baik di tingkat sekolah dasar, tingkat lanjutan pertama maupun tingkat lanjutan atas.
Sebuah kenyataan yang naif dan memprihatinkan bagi kalangan pendidikan, termasuk di dalamnya guru. Namun tidak bisa dipungkiri begitu saja oleh banyak pihak yang terkait erat dengan dunia pendidikan bahwa kenyataan ini bisa saja dilatarbelakangi oleh fakta bahwa pembelajaran di tingkat dasar kurang memenuhi harapan yang diinginkan dan kurang memenuhi target ketercapaian kegiatan belajar mengajar (KBM) sehingga siswa merasa kesulitan mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan siswa bersangkutan mempunyai tingkat keterampilan matematis-logis yang rendah.
Pada umumnya, siswa di sekolah dasar mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika. Kesulitan yang berkembang pada diri hampir keseluruhan siswa di tingkat sekolah dasar pada bidang stud Matematika ini yaitu kesulitan dalam menyelesaikan operasional yang berhubungan dengan keterampilan dan Matematika. Keterampilan dasar pada bidang studi Matematika meliputi : (1) operasi penjumlahan, (2) operasi pengurangan, (3) operasi perkalian, dan (4) operasi pembagian.
Kenyataan tersebut di atas, pada umumnya seringkali dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa pada bidang studi Matematika. Apabila permasalahan tersebut tidak segera diambil tindakan penanggulangan oleh pihak-pihak yang mempunyai hubungan yang erat dan mempunyai kewenangan (policy) dalam menentukan kebijakan dan kelancaran proses pendidikan dan pembelajaran maka niscaya siswa akan menemui kesukaran dan tertinggal dalam mengikuti proses pembelajaran bidang studi matematika. Lebih-lebih, pada siswa yang memang pada dasarnya mempunyai motivasi belajar yang rendah, mereka akan putus asa dan menjaga jarak dengan proses pembelajaran bidang studi matematika. Sebuah realitas yang patut dicermati bersama.
Guru sebagai salah satu pihak yang mempunyai kewenangan (policy) dalam menentukan kebijakan pendidikan terutama dalam proses pembelajaran langsung di lapangan mempunyai tanggung jawab yang besar guna mengatasi permasalahan atau problematika ini. Hal ini berdasarkan realitas bahwa secara prinsipi bidang studi matematika merupakan mata pelajaran yang sangat penting dan perlu sekali untuk dikuasai siswa karena berhubungan langsung dengan salah satu aspek kecerdasan individu, dalam pengertian yang luas (Moesono, 2000:04).
Guru dituntut mempunyai kemampuan dan kreatifitas tersendiri dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika. Guru pengajar matematika harus bisa melepaskan diri dari predikat ‘guru yang menakutkan’, sebuah atribut yang seringkali diberikan siswa kepada guru nengingat begitu ‘mengerikannya’ bidang studi matematika. Guru juga hendaknya mempunyai ide-ide yang kreatif, inovatif, dan tepat sasaran dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnnya, baik secara profesional maupun moralitas.
Dalam upaya menuju ke arah peningkatan kemampuan dan keterampilan siswa dalam berbagai operasional matematis, guru hendaknya mengembangkan sebuah strategi pembelajaran yang mengenai sasaran, berdaya guna dan berhasil guna, serta dapat memberikan persepsi baru bahwa bidang studi matematika bukanlah mata pelajaran yang ‘menakutkan’ dan belajar matematika itu sebenarnya mudah (Suyadi, 1989:09).
Sejalan dengan kerangka berpikir seperti tersebut di atas, guru hendaknya mampu secara reflektif memberikan penyadaran (katarsis) kepada siswa bahwa pada dasarnya bidang studi matemayika –yang dalam proses pembelajarannya menitikberatkan pada pengasahan keterampilan operasional matematis-logis dengan angka-angka sebagai objek pembelajarannya– tidaklah berbeda jauh dengan bidang studi dan disiplin ilmu yang lain.
Selain melakukan kegiatan reflektif yang menekankan pada aspek penyadaran (katarsis) siswa, guru juga bisa memilah, memilih, dan mencermati metode yang tepat yang kiranya menemukan kesesuaian apabila diterapkan pada siswa dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar (KBM), dengan merujuk pada situasi, kondisi, latar belakang, dan karakteristik siswa di kelas itu sendiri.
2.2 Media Gambar Sebagai Alat Peraga
Keterampilan berhitung siswa merupakan salah satu bentuk keterampilan dasar yang menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika. Tingkat keberhasilan kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika tersebut memiliki pengaruh yang besar pada prestasi belajar siswa.
Suatu kegiatan belajar mengajar (KBM) yang sering menemui kendala dan hambatan yang dapat berkembang menjadi sebuah problematika pembelajaran yang besar dapat mempengaruhi tingkat ketercapaian prestasi belajar siswa pasca proses pembelajaran. Upaya-upaya untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang baik berimplementasi langsung pada upacar secara terus menerus dan menyeluruh pada peningkatan prestasi belajar siswa.
Peningkatan prestasi belajar siswa; merupakan sebuah usaha yang dilakukan antara beberapa pihak yang terkait dalam pengembangan dan pengelolaan pendidikan, seperti guru, orang tua siswa (wali murid), dan pihak-pihak yang lainnya (Suryaman, 1990:12).
Dalam proses pembelajaran bidang studi matematika, dikenal beragam teknik pendekatan, strategi pembelajaran, dan model pembelajaran yang tepat sasaran, berdaya guna, dan berhasil guna yang bisa diterapkan secara aplikatif kepada siswa di kelas guna pencapaian target pembelajaran seperti yang diinginkan dan diharapkan oleh berbagai pihak.
Berbagai metode pendekatan, strategi pembelajaran maupuj model pengajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika masing-masing memiliki pernik dan relung sendiri-sendiri, dan masing-masing memiliki kelebihan serta kekurangan dan karakteristik yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas tertentu namun masing-masing memiliki satu tujuan yang sama yakni memperlancar proses kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika dan meningkatkan prestasi belajar siswa pasca kegiatan belajar mengajar (LBM) bidang studi matematika.
Penggunaan media gambar sebagai alat peraga memiliki pengertian yang mendasar. Pada kegiatan ini, guru mengupayakan sebuah optimalisasi alat peraga dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika sebagai media pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) itu sendiri secara kontributif, tepat sasaran, berdaya guna dan berhasil guna. Media gambar ditempatkan sebagai alat peraga yang dapat membantu siswa untuk mengaktualisasikan diri lebih jauh dalam kegiatan pembelajaran khususnya pada target capaian peningkatan kemampuan penyelesaian operasional penjumlahan pada siswa di sekolah dasar, secara memadai.
Peningkatan kemampuan operasional penjumlahan ini secara implementatif akan meningkatkan prestasi belajar siswa dalam ruang lingkup yang lebih besar. Kegiatan peningkatan prestasi belajar siswa tidak bisa dibebankan pada satu pihak semata. Usaha-usaha yang mengarah pada peningkatan prestasi belajar siswa hendaknya dilakukan secara bersama, koordinatif, dan berkesinambungan. Hal ini akan mengurangi kemunculan kendala dan hambatan yang dapat berkembang menjadi problematika tersendiri, yang dapat menyulitkan dan menyurutkan usaha untuk mencapai tujuan bersama tersebut.
Prianto (1995:23) dalam makalahnya yang berjudul “Media Pembelajaran, Suatu Model Penunjang Prestasi Siswa” yang dibacakannya dalam Seminar Sehari Peran Media Belajar: Aplikasi dan Kreatifitas Guru mengatakan bahwa usaha guna meningkatkan hasil prestasi belajar siswa seringkali berhadapan dengan kendala atau hambatan bahwa:
(i) guru ataupun jajaran pengelola pendidikan di sekolah cenderung apatis dan tidak melakukan upaya-upaya konkret untuk keluar dari realitas ini;
(ii) lingkungan masyarakat atau keluarga siswa juga relatif kurang memberikan dukungan dalam proses pembelajaran; dan
(iii) minimnya fasilitas yang bisa mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika.
Selain berhadapan dengan faktor guru dan lingkungan yang melatarbelakangi siswa yang kurang memberikan dukungan serta minimnya fasilitas pendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar (KBM). Usaha meningkatkan prestasi belajar siswa dalam bidang studi matematika juga berhadapan dengan faktor siswa itu sendiri. Rendahnya motivasi belajar pada siswa di sekolah dasar menciptakan permasalahan tersendiri yang membuat banyak pihak, terutama guru sebagai institusi pertama yang berhadapan langsung dengan situasi dan kondisi tersebut.
Guru dituntut untuk bekerja keras mengupayakan solusi guna mengatasi permasalahan atau problematika tersebut. Rendahnya motivasi belajar pada siswa menuntut untuk segera disikapi dan dicarikan sebuah jalan keluar. Karena, jika situasi dan kondisi ini dibiarkan berlarut-larut maka tidak hanya siswa itu sendiri yang nantinya merugi karena tertinggal dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dan diikuti dengan penurunan hasil prestasi belajarnya. Tentu saja penurunan prestasi belajar ini secara nyata dapat diamati dan dicermati pada kemampuan dan keterampilan siswa dalam mengaplikasikan materi pembelajaran yang seharusnya mampu dikuasainya pada kegiatan sehari-hari, baik di lingkungan pembelajaran di sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.
Salah satu langkah kongkret yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga dalam mendukung kelancaran dan keberhasilan kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika pda siswa kelas I sekolah dasar. Penggunaan media gambar sebagai alat peraga dalam menunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika diasumsikan mampu untuk menjawab pertanyaan tentang permasalahan dan problematika yang dihadapi oleh banyak pihak yang terkait dengan dunia pendidikan –khususnya pendidikan di tingkat dasar– yakni meningkatkan keterampilan berhitung perkalian siswa, terutama pada siswa di kelas I sekolah dasar.
Kecerdasan yang ada pada manusia dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk kecerdasan, yang mana antara satu bentuk kecerdasan dengan bentuk kecerdasan yang lain mempunyai hubungan dan keterkaitan yang sangat erat dan kompleks. Ada delapan bentuk kecerdasan yang biasa disebut sebagai kecerdasan majemuk. Kecerdasan ini berfungsi secara bersamaan dengan cara yang berbeda-beda pada diri setiap individu. Beberapa individu mempunyai tingkatan yang tinggi pada semua atau hampir semua aspek kecerdasan tersebut. Tetapi ada sebagian individu yang lain, mempunyai kekurangan dalam semua aspek kecerdasan, kecuali aspek-aspek kecerdasan yang bersifat mendasar. Secara global, manusia di antara dua kutub ini, sangat berkembang dalam kecerdasan tertentu, dan agar terbelakang dalam aspek kecerdasan lainnya.
Lebih lanjut, Gardner dan Amstrong (dalam Akbar, 2002:88) mengatakan bahwa ada delapan kecerdasan yang dimiliki setiap manusia yang disebut sebagai multiple intellegences (kecerdasan majemuk), yang meliputi :
(i) kecerdasan linguistik; kemampuan menggunakan kosakata dalam kalimat yang efektif baik lisan maupun tertulis;
(ii) kecerdasan matematis-logis; kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar;
(iii) kecerdasan spasial; kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual-spasial, dan mengorientasikan diri secara matrik spasial;
(iv) kecerdasan kinetis-jasmani; keahlian menggunakan seluruh tubh untuk mengekspresikan ide dan perasaan, keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan dan mengubah sesuatu;
(v) kecerdasan musikal; kemampuan menangani bentuk-bentuk musikalk dengan cara mempersepsi, membedakan, menggubah, dan mengekspresikannya;
(vi) kecerdasan interpersonal; kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati; maksud; motivasi; serta perasaan orang lain;
(vii) kecerdasan intrapersonal; kemampuan memahami diri secara akurat, kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri secara proporsional.
(viii) Kecerdasan naturalis; kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap fenomena alam lain-lainnya.
Bentuk-bentuk kecerdasan ini dapat menjalankan fungsi dan kegunaannya secara bersamaan dengan cara yang berbeda-beda pada diri setiap individu. Ada individu mempunyai tingkatan yang sangat tinggi pada semua atau hampir semua aspek kecerdasan tersebut. Tetapi ada juga sebagian kecil individu yang lain, mempunyai kekurangan dalam semua aspek kecerdasan, kecuali aspek-aspek kecerdasan yang bersifat mendasar. Pada dasarnya, manusia di dalam kegiatannya sehari-hari, baik dalam bertindak maupun berpikir terperangkap di antara dua kutub ini, di sisi lain sangat berkembang dalam kecerdasan tertentu, tetapi terkadang di lain pihak agak terbelakang dalam aspek kecerdasan lainnya.
Kecerdasan matematis-logis merupakan kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar dan tepat. Kemampuan ini menempati posisi kedua setelah kecerdasan linguistik, hal ini menunjukkan bahwa setelah aktivitas berkomunikasi yang mempergunakan bahasa maka yang diperlukan dalam hidup dan berkehidupan adalah kemampuan mempergunakan logika dalam memfungsikan penggunaan angka-angka sebagaimana mestinya. Kecerdasan matematis ini meliputi empat keterampilan dasar yang mencakup (i) operasional penjumlahan, (ii) operasional pengurangan, (iii) operasional perkalian, (iv) operasional pembagian.
2.3 Indikasi Keberhasilan Kegiatan Belajar Mengajar
Indikator tingkat keberhasilan yang menunjukkan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika yang menargetkan pada peningkatan keterampilan operasional penjumlahan siswa dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga adalah sebagai berikut :
(1) Peningkatan kemampuan pemahaman dan penguasaan materi pembelajaran siswa
Peningkatan kemampuan operasional penjumlahan siswa secara kualitas terlihat dalam kemampuan melakukan penyelesaian operasi penjumlahan dengan cepat dan tepat pada proses pembelajaran bidang studi Matematika. Tingkat kemampuan dan keterampilan siswa dalam melakukan aktivitas operasional penjumlahan relatif memudahkan pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran ini memberikan gambaran yang kongkret pada peningkatan prestasi belajar siswa dalam bidang studi matematika.
(2) Tingkat efisiensi kegiatan belajar mengajar (KBM)
Efisiensi proses interaksi antara siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika yang berpusat pada keterampilan operasional penjumlahan siswa yang ditandai dengan adanya peningkatan frekuensi interaksi pembelajaran dalam bidang studi matematika itu sendiri.


BAB III
METODE PENELITIAN

Kegiatan penelitian ini secara prosedural mempergunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Penggunaan prosedur penelitian tindakan kelas (PTK) dalam penelitian meningkatkan kemampua operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika di siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga ini didasari oleh realitas bahwa guru sebagai lembaga profesi yang dituntut untuk selalu mempunyai kemampuan untuk mengikuti perkembangan zaman, karena perubahan struktural sosial masyarakat berdampak langsung pada perilaku siswa di sekolah dan keaktifannya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika.
3.1 Rancangan Penelitian
Secara prinsipil, penelitian tindakan kelas (PTK) mempunyai tujuan yakni mengembangkan format keterampilan-keterampilan baru atau suatu metode pendekatan yang baru guna memecahkan berbagai permasalahan (problem solving) yang ada dan berkembang di kelas selama kegiatan belajar mengajar (KBM); yang berpengaruh pada hasil prestasi belajar siswa melalui aplikasi secara prosedural penelitian dan evaluasi secara langsung di lingkungan profesi pendidikan.
Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah pengkajian yang dilakukan terhadap permasalahan yang relatif sederhana dalam ruang lingkup yang sempit; yang memiliki hubungan dan keterkaitan dengan pola perilaku individu atau kelompok orang (group) di suatu lingkungan tertentu secara kausalitas. Penelitian peningkatan kemampuan menyelesaikan operasional pembagian siswa dalam bidang studi Matematika dengan menggunakan pendekatan pengurangan berulang, pada prinsipnya, juga secara jelas mempergunakan aturan-aturan prosedural dan sistematis rancangan penelitian tindakan kelas (PTK).
Pada umumnya, penelitian tindakan kelas (PTK) ini juga diikuti dengan aktivitas-aktivitas pengkajian yang cermat dan teliti terhadap suatu strategi pendekatan tertentu dan mengkaji hingga sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh strategi pendekatan tersebut terhadap pola perilaku objek yang sedang diteliti secara terperinci dan holistik (Joyohadikusumo, 2001:20).
Tingkat perubahan yang terjadi secara menyeluruh pada objek penelitian ini akan menjadi masukan data tersendiri yang pada proses selanjutnya akan dihubungkan dengan variabel penelitian yang berupa strategi pendekatan. Penelitian tindakan kelas (PTK) memberikan upaya kritis peneliti terhadap objek penelitian; termasuk diri peneliti tersendiri. Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) guru juga berperan sebagai praktisi, merupakan sebuah elemen bagian dari instrumen penelitian.
Secara prinsipil, penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki proses dan hasil pendidikan melalui perubahan dengan memotivasi guru agar mencermati kegiatan belajar mengajar (KBM) yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing, agar bersedia mengkritisi praktek mengajarnya itu dan merubahnya.
Wibawa (2003:56) mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) mempunyai makna sadar atau reflektif dan kritis terhadap kegiatan belajar mengajar (KBM), dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadp perubahan dan perbaikan mutu serta kualitas proses pembelajaran, baik yan bersifat evolusi maupun revolusi.
Pada awalnya, penelitian tindakan kelas (PTK) digunakan untuk mencari pemecahan dari masalah-masalah sosial, seperti pengangguran, kenakalan remaja, maupun anak jalanan, yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Penelitian tindakan kelas (PTK) diawali dengan suatu kajian terhadap permasalahan tersebut secara sistematis. Hasil kajian dijadikan suatu formula untuk mengatasi permasalahan tersebut (Suriah, 2003:43).
Dalam proses realisasi dari perencanaan, dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang hasilnya digunakan sebagai materi refelksi atas apa yang terjadi di lapangan. Hasil dari refleksi kemudian menjadi landasan upaya perbaikan dan penyempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan ini dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai kualitas suatu tingkat keberhasilan tertentu dapat diwujudkan.
Kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini tercakup dalam dua siklus dan terdiri dari dua kali pertemuan. Siklus pertama dilaksanakan pada pertemuan pertama, sedangkn siklus kedua pada pertemuan kedua.
Secara rinci, tahapan-tahapan kegiatan belajar mengajar (KBM) pada maisng-masing siklus pembelajaran dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 dapat dicermati di bawah ini, yang meliputi :
(1) Siklus pertama;
(i) Penyampaian sosialisasi awal.
(ii) Guru menyampaikan materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga.
(iii) Guru memberikan penugasan berupa latihan soal.
(iv) Evaluasi pertama.
(2) Siklus kedua;
(i) Guru memberikan pengajaran remedia
(ii) Guru memberikan penugasan kedua berupa latihan soal
(iii) Evaluasi kedua
(iv) Simpulan

3.2 Tempat Penelitian
Kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dilaksanakan di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Tempat penelitian ini dipilih oleh peneliti berdasarkan pada pertimbangan bahwa :
(a) Siswa di kelas tersebut tingkat keterampilannya dalam penyelesaian operasional pembagian menunjukkan tingkatan kemampuan yang relatif rendah;
(b) Kondisi prestasi belajarnya dalam mata pelajaran bidang studi Matematika juga relatif rendah sehingga perlu diambil tindakan yang nyata;
(c) Peneliti merupakan salah seorang pengajar dan bertanggung jawab penuh sebagai pemimpin pada sekolah tersebut sehingga merasa mempunyai tanggung jawab secara moral.
3.3 Instrumen Penelitian
Dalam sebuah kegiatan penelitian, instrumen penelitian menempati posisi yang sangat penting dalam menunjang kelancaran proses penelitian dan memberikan kontribusi yang besar dalam menunjang validitas hasil dari penelitian itu sendiri. Data yang valid (dapt dibuktikan kebenarannya) akan menjadi prosentase yang besar dalam validitas hasil penelitian.
Instrumen utama penelitian tindakan kelas (PTK) adalah peneliti itu sendiri, peneliti –dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah guru– merupakan orang atau elemen yang memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan pihak-pihak yang lain karena data konisi dari objek penelitian yakni siswa adalah guru. Seluruh realitas data dan bagaimana upaya-upaya menyikapi dan menganalisisnya. Untuk mendukung dan melengkapi instrumen utama digunakanlah instrumen penunjang. Instrumen penunjang tersebut meliputi: (1) pedoman observasi, (2) catatan lapangan, (3) dokumentasi, dan (4) foto.
Pada penggunaan instrumen penunjang, prosentasenya dalam penelitian tindakan kelas (PTK) relatif kecil dibandingkan dengan instrumen utama. Tetapi, penggunaan instrumen penunjang akan lebih mendukung validitas data yang ditampilkan oleh instrumen utama yaitu peneliti. Jadi, kehadiran instrumen penunjang tidak bisa dianggap tidaklah penting begitu saja. Instrumen penunjang pada dasarnya relatif membantu memberikan pemahaman yang konkret terhadap proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti, dalam hal ini adalah guru karena penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan guru sebagai pelaku kegiatan pengajaran dan peneliti. Melalui data yang diberikan dalam instrumen penunjang, validitas hasil penelitian relatif dapat diterima oleh banyak pihak.

3.4 Proses Analisis Data
Data yang diperoleh dari pengamatan dan penilaian selama proses pembelajaran dan hasil pembelajaran diklasifikasikan berdasarkan kelompok siswa dalam kelas yang selanjutnya dianalisis dengan teknik analisis data kualitatif. Rofiudin dan Sukoco (2002:12) mengatakan bahwa data utama yang dianalisis adalah data verbal dari peneliti sendiri, yang berupa gambaran terperinci proses dan hasil belajar siswa. Sedangkan, data penunjang meliputi data dari hasil observasi dan catatan lapangan.
Langkah-langkah analisis data adalah mengkaji data yang terkumpul secara keseluruhan dari semua instrumen, mereduksi data, dan menyimpulkannya serta memverifikasinya kembali. Tindakan verifikasi mutlak diperlukan untuk melakukan pemeriksaan terakhir pada data yang telah ada melalui sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, misalnya buku penunjang teori, data siswa, dan informasi serta tanggapan dari teman sejawat yang berkolaborasi mendukung kegiatan penelitian ini.
Analisis data penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan beberapa pedoman yang dapat dijadikan sebagai indikator dalam penganalisisan data hasil proses belajar siswa. Lebih lanjut tentang hal-hal yang bisa dan dapt digunakan sebagai indikator dan mengindikasikan tingkat keberhasilan suatu kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 akan dipaparkan dalam beberapa aspek mendasar.
Proses penganalisisan data dilakukan dengan berpedoman pada beberapa kriteria keberhasilan proses pembelajaran. Pedoman analisis proses pembelajaran bidang studi Matematika dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecmatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 dilakukan dengan menggunakan tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1 Pedoman Analisis Proses Belajar Siswa
Nama : …………………………………………
No. Absen : …………………………………………
No Kriteria Penilaian Keaktifan Siswa dalam KBM Prosentase Keaktifan Siswa dalam KBM
Ya Tidak
1. Siklus Pertama
1. Penyampaian sosialisasi awal
2. Penyampaian materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga
3. Penugasan pertama yakni mengerjakan latihan soal
4. Evaluasi pertama
2. 1. Pengajaran remedial
2. Penugasan kedua yakni mengerjakan latihan soal
3. Evaluasi kedua
4. Simpulan
Kegiatan penganalisisan data dan penyimpulan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini ditentukan dengan standar prosentase keberhasilan penelitian sebagai berikut :
1. Prestasi belajar siswa secara individual yang dinilai dari produk kegiatan penyelesaian operasional penjumlahan pada siklus kedua dan pengamatan selama kegiatan pembelajaran sepanjang siklus berlangsung adalah sekurang-kurangnya mendapatkan nilai 65 atau pencapaian nilai dai siswa rata-rata sekurang-kurangnya 85 atau prosentase pencapaian rata-rata 85%.
2. Prosentase keterlibatan aktif siswa dalam prosedur pembelajaran secara individual yang berlangsung sepanjang siklus, baik siklus pertama, kedua dan ketiga adalah sekurang-kurangnya 65% atau prosentase keberhasilan pencapaian dari masing-masing siswa rata-rata sekurang-kurangnya 85%.
3. Prosentase kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal latihan operasional pembagian yang diberikan secara individual sekurang-kurangnya 65% atau prosentase keberhasilan pencapaian dari masing-masing siswa rata-rata sekurang-kurangnya 85%.


BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian
Setelah melalui serangkaian tahapan proses penelitian, didapatkan seperangkat data yang dapat dianalisis untuk mengetahui tingkat keberhasilan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang stidi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini.
Berdasarkan pada kurikulum 2004 maka tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini adalah untuk mendapatkan gambaran yang nyata tentang usaha-usaha yang dilakukan oleh guru pengajar bidang studi Matematika untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam penyelesaian operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagia alat peraga secara optimal di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek.
Sedangkan, secara khusus, kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini memiliki tujuan sebagai berikut :
(i) Meningkatkan keterampilan siswa dalam operasional penjumlahan dalam bidang studi Matematika;
(ii) Meningkatkan prestasi belajar siswa pada bidang studi Matematika;
(iii) Meningkatkan profesionalisme guru dalam membimbing dan meningkatkan keterampilan siswa dalam operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga.
Secara lebih dalam, tahapan-tahapan pembelajaran dalam tiap siklus dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 akan diuraikan dalam wacana singkat di bawah ini :
(1) Siklus pertama
Pada siklus pertama, pertemuan pertama, pada tahapan awal guru memberikan sosialisasi awal tentang kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika terutama pada materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga kepada siswa. Tahapan sosialisasi awal ini juga digunakan untuk memberikan motivasi belajar bidang studi Matematika agar siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi dalam bidang studi Matematika.
Pada tahapan kedua, guru menyampaikan materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagia alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan jelas, lengkap, terperinci, dan tepat sasaran. Uraian materi didukung dengan keterangan-keterangan di papan tulis dan contoh soal untuk memudahkan pemahaman dan penguasaan materi pembelajaran oleh siswa.
Pada tahapan ketiga, guru memberikan penugasan berupa latihan soal yang berisikan materi tentang operasional penjumlahan dengan media gambar sebagai alat peraga pendukung kepada siswa. Latihan soal yang diberikan adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman, penguasaan, dan kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung.
Pada tahapan keempat, guru melakukan evaluasi dari pekerjaan siswa mengerjakan latihan soal menyelesaikan operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika. Hasil evaluasi akan digunakan guru sebagai materi pembelajaran remedial pada siklus dan pertemuan kedua.
Lebih lanjut tentang tahapan-tahapan pembelajaran dalam siklus pertama kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005, dapat dilihat pada uraian di bawah ini :
(a) Tahapan pertama;
Guru memberikan sosialisasi awal tentang kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika terutama pada materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) kepada siswa. Tahapan sosialisasi awal ini juga digunakan untuk memberikan motivasi belajar bidang studi Matematika agar siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi dalam bidang studi Matemtika.
(b) Tahapan kedua;
Guru menyampaikan materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambaf sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika dengan kelas, lengkap, terperinci, dan tepat sasaran. Uraian materi didukung dengan keterangan-keterangan di papan tulis dan contoh soal untuk memudahkan pemahaman dan penguasaan materi pembelajaran oleh siswa.
(c) Tahapan ketiga;
Guru memberikan penugasan berupa latihan soal yang berisikan materi tentang operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) kepada siswa. Latihan soal yang diberikan adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman, penguasaan, dan kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung.
(d) Tahapan keempat
Guru melakukan evaluasi dari pekerjaan siswa mengerjakan latihan soal operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika secara aplikatif. Hasil evaluasi akan digunakan guru sebagai materi pembelajaran remedial pada siklus dan pertemuan kedua.
(2) Siklus kedua
Pada siklus kedua, pertemuan kedua, pada tahapan awal, guru memberikan pembelajaran remedial guna membantu siswa yang mengalami ketertinggalan materi pembelajaran pada tahapan siklus pertama. Sedangkan, bagi siswa yang sudah mempunyai pemahaman dan penguasaan yang baik pada materi pembelajaran operasional penjumlahan maka pembelajaran remedial memiliki fungsi guna pemantapan pemahaman dan penguasaan pada materi pembelajaran agar lebih baik lagi.
Pada tahapan kedua, guru memberikan penugasan berupa latihan soal dengan materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika. Materi soal yang diberikan relatif mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada latihan soal di siklus pertama.
Pada tahapan ketiga, guru melakukan evaluasi dan penilaian hasil pekerjaan siswa berupa latihan soal dengan materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika secara aplikatif dan tepat sasaran.
Pada tahapan keempat, guru menyusun simpulan sederhana mengenai hasil dari proses pembelajaran yang baru saja dilalui bersama. Kegiatan menyusun simpulan secara reflektif akan membimbing siswa mengevaluasi diri sendiri, mengenali kemampuan dan kekurangan dari masing-masing pribadi siswa sebagai modal dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam proses pembelajaran selanjutnya.
Lebih lanjut tentang tahapan-tahapan dalam kegiatan pembelajaran di siklus kedua dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaanmedia gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini, secara rinci dapat dilihat dalam uraian singkat di bawah ini.
(a) Tahapan pertama;
Guru memberikan pembelajaran remedia guna membantu siswa yang mengalami ketertinggalan materi pembelajaran pada tahapan siklus pertama. Sedangkan, bagi siswa yang sudah mempunyai pemahaman dan penguasaan yang baik pada materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung maka pembelajaran remedia memiliki fungsi guna pemantapan pemahaman dan penguasaan pada materi pembelajaran agar lebih baik lagi.
(b) Tahapan kedua;
Guru memberikan penugasan berupa latihan soal dengan materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan (KBM) bidang studi Matematika secara aplikatif. Materi latihan soal yang diberikan relatif mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada latihan soal di siklus pertama.
(c) Tahapan ketiga
Guru melakukan evaluasi dan penilaian hasil pekerjaan siswa berupa latihan soal dengan materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika
(d) Tahapan keempat
Guru menyusun simpulan sederhana mengenai hasil dari proses pembelajaran yang baru saja dilalui bersama. Kegiatan menyusun simpulan secara reflektif akan membumbing siswa mengevaluasi diri sendiri, mengenali kemampuan dan kekurangan dari masing-masing pribadi siswa sebagai modal dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam proses pembelajaran selanjutnya.
Berikut ini data yang menunjukkan peningkatan ketrampilan penyelesaian operasional penjumlahan siswa pasca kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005. Peningkatan tersebut terlihat pada data analisis proses belajar maupun data analisis nilai siswa pasca kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 yang dapat dicermati dalam tabel-tabel berikut ini.
Tabel 4.1 Data Analisis Proses Belajar Siswa (Siklus 1)
No Nama Kriteria Penilaian Berdasarkan Pengamatan
Menyimak Materi Pemahaman Materi Mengerjakan Latihan Soal Evaluasi
1 Jergi R C B B A
2 Sudianto C C K C
3 Aping. G A C B B
4 Dian.P K K C C
5 Pahrul B B A A
6 Gani Yoga B B B B
7 Idah Fit B C A A
8 Mega Sil K C B B
9 M. Amin. S C C C B
10 M. Zaini B A A A
11 Ryandika C C C B
12 Sundari C C B B
13 Ungguh. P K K C C
14 W. Rahman A A A B
15 Yogi Eko B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Tabel 4.2 Data Analisis Proses Belajar Siswa (Siklus 2)
No Nama Kriteria Penilaian Berdasarkan Pengamatan
Pembelajaran remedial Mengerjakan Latihan Soal Evaluasi Simpulan
1 Jergi R B B B A
2 Sudianto B C C C
3 Aping. G A C B B
4 Dian.P B B C C
5 Pahrul B B A A
6 Gani Yoga A B A B
7 Idah Fit B C A A
8 Mega Sil A A B B
9 M. Amin. S C C C B
10 M. Zaini B A A A
11 Ryandika C A C B
12 Sundari A C B B
13 Ungguh. P B B C C
14 W. Rahman A B A B
15 Yogi Eko A B C B


Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Tabel 4.3 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 1)
No Nama Analisis Pengerjaan Soal Latihan (Tiap Nomor)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Jergi R C C B B A B B A
2 Sudianto C C C B B C K C
3 Aping. G A B A A B C B B
4 Dian.P K C C B C K C C
5 Pahrul B B B C B B A A
6 Gani Yoga B B A A A B B B
7 Idah Fit B A C C B C A A
8 Mega Sil K K C C A C B B
9 M. Amin. S C B B K C C C B
10 M. Zaini B B A C C A A A
11 Ryandika C K K C K C C B
12 Sundari C K C C B C B B
13 Ungguh. P K B B B A K C C
14 W. Rahman A B C C B A A B
15 Yogi Eko B B B C B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Tabel 4.4 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 2)
No Nama Analisis Pengerjaan Soal Latihan (Tiap Nomor)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Jergi R B A B B A B B A
2 Sudianto C A A B B C B C
3 Aping. G A A A A B A A B
4 Dian.P B C C B C B B C
5 Pahrul A B B C B B A A
6 Gani Yoga B B A A A B B B
7 Idah Fit B A C A B C A A
8 Mega Sil B B C A A C B B
9 M. Amin. S A B B B C C B B
10 M. Zaini B A A A C A A A
11 Ryandika A B C C C C C B
12 Sundari A A C C B B A B
13 Ungguh. P A B A B A A A C
14 W. Rahman A C C A B A A A
15 Yogi Eko C B A C B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
4.2 Pembahasan
Kegiatan proses penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan bidang studi matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 menurut hemat peneliti telah tepat mengenai sasaran.
Pada siklus pertama, kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru sedikit banyak telah mampu meningkatkan dan menggairahkan pengelolaan kegiatan pembelajaran dengan baik. Siswa dengan penuh perhatian mendengarkan uraian penjelasan materi pembelajaran bidang studi Matematika. Ada motivasi yang tinggi dari dalam diri siswa untuk lebih memperhatikan uraian penjelasan dari guru pengajar bidang studi Matematika karena rasa keingintahuan yang lebih untuk memahami lebih jauh tentang materi yang diuraikan oleh guru pengajar bidang studi Matematika.
Keaktifan dan kesungguhan siswa ini memiliki implementasi secara langsung pada kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa dalam penugasan kedua. Siswa di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek secara garis besar telah mampu dan terampil dalam penyelesaian operasional penjumlahan. Pemahaman, kemampuan dan keterampilan siswa tersebut terdeskripsikan dengan jelas, khususnya pada kemampuan dan keterampilan operasional penjumlahan tersebut di atas dengan baik dan benar.
Kemampuan dan keterampilan siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek untuk memahami dan menguasai dengan benar materi pembelajaran yang disampaikan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika ini mengisyaratkan bahwa secara umum siswa di kelas dan sekolah tersebut telah menunjukkan peningkatan keterampilan operasional pembagian dengan hasil yang cukup baik.
Bertolak pada realitas selama kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gamba sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini maka dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan oleh peneliti telah mencapai tujuan seperti yang diharapkan.
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Sesuai dan sejalan dengan materi dalam rumusan masalah dan tujuan penelitian, secara umum setelah melakukan kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini sebagai salah satu dari sekian banyak ragam dan bentuk alternatif metode pembelajaran bidang studi Matematika yang dapat meningkatkan keterampilan operasional penjumlahan berimplementasi langsung pada pada hasil prestasi belajar siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek ini kiranya telah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
Secara khusus, hasil penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dapat disimpulkan :
1. Peningkatan prestasi belajar siswa tampak pada peran serta aktif siswa pada tahapan-tahapan siklus pembelajaran. Aktivitas-aktivitas siswa sepertui (1) mendengarkan dengan sungguh-sungguh uraian materi pelajaran dari guru; (2) mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan materi pembelajaran operasional penjumlahan (3) mengerjakan latihan soal, dan (5) melakukan evaluasi bersam untuk mendapatkan simpulan yang tepat dari kegiatan yang baru saja dilakukan merupakan suatu bentuk peran serta aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).
2. Peningkatan prestasi belajar siswa pada bidang studi Matematika juga terimplementasi secara lengkap pada hasil yang nyata seperti kemampuan dan keterampilan operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga dengan baik dan benar.
5.2 Saran
Berpijak pada pengalaman singkat peneliti dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan medua gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini, peneliti memiliki sedikit sumbangan saran kepada beberapa pihak, meliputi :
1. Kepada rekan-rekan sejawat yang ingin meningkatkan kemampuan dan keterampilan serta prestasi belajar siswanya, apabila situasi dan kondisi yang berkembang di sekolah atau lingkungan pendidikannya relatif mempunyai kesamaan dengan apa yang ada di sekolah peneliti, maka disarankan untuk menggunakan metode ini sebagai strategi pembelajaran.
2. Kepada kepal sekolah dan jajaran pengelola kebijakan sekolah, disarankan agar dapat memberikan fasilitas dalam sosialisasi implementasi metode pembelajaran ini, sejalan dengan signifikansi hasil penelitian yang telah peneliti lakukan.
3. Kepada orang tua dan wali murid diharapkan mempunyai kepedulian yang tinggi dan proaktif dengan proses pembelajaran yang sedang dilakukan di sekolah.
4. Kepada siswa itu sendiri agar senantiasa tidak berhenti sampai pada tahapan pembelajaran ini apabila menginginkan kemampuan dan keterampilannya senantiasa terasah dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA

Akbar. 2001. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Grasindo.
Bahari, Abdullah dkk. 2000. Metode Belajar Anak Kreatif. Bandung: Dwi Pasha Press.
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Bidang Studi Matematika di Sekolah Dasar. Jakarta: Puskur, Balitbang, Depdiknas.
Markus, Alim. 1998. Manajemen Pendidikan Sekolah Terbuka: Representasi Sistem Pendidikan De-Birokratisasi. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Moesono, Djoko. 2000. Mari Berhitung, Belajar Matematika dengan Mudah. Jakarta: Pustaka Jaya Press.
Prianto, Ahmad Joko. 1995. Media Pembelajaran, Suatu Model Penunjang Prestasi Siswa. Dibacakan dalam Seminar Sehari Peran Media Belajar: Aplikasi dan Kreatifitas Guru tanggal 02 Agustus 1995 di Malang.
Rahman, Arief. 2000. Sistem Pendidikan Indonesia: Potret Realitas Manajemen yang Mengambang. Yogyakarta: Lentera.
Sukoco, Padmo. 2002. Penelitian Kualitatif: Metodologi, Aplikasi, dan Evaluasi. Jakarta: Gunung Agung.
Surakhmad, Iwanurrif. 1990. Mengembangkan Pendidikan di Lingkungan Keluarga. Yogyakarta: Yayasan Obor.
Suriah, N. 2003. Penelitian Tindakan. Malang: Bayu Media Publishing.
Suryaman, Maman. 1990. Kerangka Acuan Peningkatan Prestasi Belajar Siswa. Bandung: Aksara.
Wibawa, B. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat Tenaga Kependidikan.


Lampiran 1
Tabel 3.1 Pedoman Analisis Proses Belajar Siswa
Nama : …………………………………………
No. Absen : …………………………………………
No Kriteria Penilaian Keaktifan Siswa dalam KBM Prosentase Keaktifan Siswa dalam KBM
Ya Tidak
1. Siklus Pertama
1. Penyampaian sosialisasi awal
2. Penyampaian materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga
3. Penugasan pertama yakni mengerjakan latihan soal
4. Evaluasi pertama
2. 1. Pengajaran remedial
2. Penugasan kedua yakni mengerjakan latihan soal
3. Evaluasi kedua
4. Simpulan


Lampiran 2
Tabel 4.1 Data Analisis Proses Belajar Siswa (Siklus 1)
No Nama Kriteria Penilaian Berdasarkan Pengamatan
Menyimak Materi Pemahaman Materi Mengerjakan Latihan Soal Evaluasi
1 Jergi R C B B A
2 Sudianto C C K C
3 Aping. G A C B B
4 Dian.P K K C C
5 Pahrul B B A A
6 Gani Yoga B B B B
7 Idah Fit B C A A
8 Mega Sil K C B B
9 M. Amin. S C C C B
10 M. Zaini B A A A
11 Ryandika C C C B
12 Sundari C C B B
13 Ungguh. P K K C C
14 W. Rahman A A A B
15 Yogi Eko B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3

Lampiran 3
Tabel 4.2 Data Analisis Proses Belajar Siswa (Siklus 2)
No Nama Kriteria Penilaian Berdasarkan Pengamatan
Pembelajaran remedial Mengerjakan Latihan Soal Evaluasi Simpulan
1 Jergi R B B B A
2 Sudianto B C C C
3 Aping. G A C B B
4 Dian.P B B C C
5 Pahrul B B A A
6 Gani Yoga A B A B
7 Idah Fit B C A A
8 Mega Sil A A B B
9 M. Amin. S C C C B
10 M. Zaini B A A A
11 Ryandika C A C B
12 Sundari A C B B
13 Ungguh. P B B C C
14 W. Rahman A B A B
15 Yogi Eko A B C B


Lampiran 3
Tabel 4.3 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 1)
No Nama Analisis Pengerjaan Soal Latihan (Tiap Nomor)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Jergi R C C B B A B B A
2 Sudianto C C C B B C K C
3 Aping. G A B A A B C B B
4 Dian.P K C C B C K C C
5 Pahrul B B B C B B A A
6 Gani Yoga B B A A A B B B
7 Idah Fit B A C C B C A A
8 Mega Sil K K C C A C B B
9 M. Amin. S C B B K C C C B
10 M. Zaini B B A C C A A A
11 Ryandika C K K C K C C B
12 Sundari C K C C B C B B
13 Ungguh. P K B B B A K C C
14 W. Rahman A B C C B A A B
15 Yogi Eko B B B C B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3

Lampiran 4
Tabel 4.4 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 2)
No Nama Analisis Pengerjaan Soal Latihan (Tiap Nomor)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Jergi R B A B B A B B A
2 Sudianto C A A B B C B C
3 Aping. G A A A A B A A B
4 Dian.P B C C B C B B C
5 Pahrul A B B C B B A A
6 Gani Yoga B B A A A B B B
7 Idah Fit B A C A B C A A
8 Mega Sil B B C A A C B B
9 M. Amin. S A B B B C C B B
10 M. Zaini B A A A C A A A
11 Ryandika A B C C C C C B
12 Sundari A A C C B B A B
13 Ungguh. P A B A B A A A C
14 W. Rahman A C C A B A A A
15 Yogi Eko C B A C B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3

PENELITIAN TINDAKAN KELAS


PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SEBAGAI ALAT PERAGA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN OPERASIONAL PENJUMLAHAN PADA BIDANG STUDI MATEMATIKA
SISWA KELAS I SDN DIWEK II KECAMATAN DIWEK
TAPEL 2004/2005


KARYA TULIS ILMIAH



















Oleh :

MARJUTIN, A.Ma.Pd.
NIP. 130 418 366



PEMERINTAH KABUPATEN JOMBANG
DINAS PENDIDIKAN
SDN DIWEK II

LEMBAR PENGESAHAN


1. Judul : Penggunaan Media Gambar Sebagai Alat Peraga Untuk Peningkatan Kemampuan Operasional Penjumlahan pada Bidang Studi Matematika Siswa Kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek Tapel 2004/2005
2. Identitas Peneliti :
Nama : MARJUTIN, A.Ma.Pd.
NIP : 130 418 366
Jabatan : Guru Pembina
3. Lokasi Penelitian : Kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek
4. Waktu Penelitian : Januari s.d April 2005
5. Biaya Penelitian : Mandiri



Jombang, 20 Juni 2005
Mengetahui Mengetahui
Kepala UPT Dinas Pendidikan Kepala SDN Diwek II
Kecamatan Diwek Kecamatan Diwek




Drs. Eko Sukrispriono Kasmijatun, BA.
NIP. 130 742 677 NIP. 130 418 252

Kepala Dinas Pendidikan
Kabupaten Jombang




Drs. Gatot Kartonohadi, M.Si.
NIP. 010 056 057
KATA PENGANTAR

Puji syukur yang tiada terhingga penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya penulis dapat menyusun karya tulis ilmiah penelitian tindakan kelas. Hal ini tentunya tak lepas dari beberapa hal yaitu: bantuan, dorongan serta bimbingan yang sangat berguna bagi penulis maupun pihak lain. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Yth. Bapak Drs. Suyanto selaku Bupati Jombang yang berkenan dan meluangkan waktu membuka karya tulis ilmiah ini.
2. Yth. Bapak Drs. Gatot Kartonohadi, M.Si., selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang yang telah memberi kesempatan kepada penulis mengikuti Penelitian Tindakan Kelas ini.
3. Yth. Bapak Drs. Moch. Sukadi selaku Kepala Bidang Pengembangan Aparatur Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang.
4. Yth. Kasi Pengembangan Aparatur TK/SD yang telah banyak dan sabar membimbing penulisan karya tulis ini.
5. Bapak Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Diwek yang telah memberikan ijin mengikuti bimbingan penelitian tindakan kelas ini.
6. Bapak dan Ibu Guru SDN Diwek II Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang yang telah membantu mendapatkan data yang diperlukan dalam pembuatan karya tulis ini.

Penulis menyadari bahwa dalam Penelitian Tindakan Kelas ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu sumbang saran dari pembaca sangat diharapkan.
Akhirnya semoga hasil penelitian dapat berguna bagi semua pihak utamanya kepada lembaga pendidikan di Jombang.


Jombang, Juni 2005
Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL i
LEMBAR PENGESAHAN ii
ABSTRAKSI iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL viii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 7
1.3 Tujuan Penelitian 7
1.4 Manfaat Penelitian 8
1.5 Ruang Lingkup Kegiatan Penelitian 10
1.6 Asumsi Dasar 11
1.7 Batasan Istilah 12
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pembelajaran Matematika di SD 14
2.2 Media Gambar Sebagai Alat Peraga 18
2.3 Indikasi Keberhasilan KBM 24
BAB III : METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian 26
3.2 Tempat Penelitian 30
3.3 Instrumen Penelitian 30
3.4 Proses Analisa Data 32
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian 36
4.2 Pembahasan 50
BAB V : PENUTUP
5.1 Simpulan 51
5.2 Saran 52
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
3.1 Pedoman Analisis Proses Belajar Siswa 33
4.1 Data Analisis Nilai Siswa (Siklus 1) 44
4.2 Data Analisis Nilai Siswa Secara Individu (Siklus 2) 45
4.3 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 1) 46
4.4 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 2) 46
Lanjuuutt..

Minggu, 09 Mei 2010

KTI Siswa Trampil

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan manusia dalam seluruh aspek kepribadian dan kehidupannya.
Pendidikan memiliki kekuatan (pengaruh) yang dinamis dalam kehidupan manusia di masa depan. Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki secara optimal, yaitu pengembangan potensi individu yang setinggi-tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya dimana dia hidup.
Permasalahannya, apakah yang dimaksud dengan pendidikan? Pendidikan merupakan suatu fenomena manusia yang sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu maka pendidikan dapat dilihat dan dijelaskan dari berbagai sudut pandang, seperti dari sudut pandang psikologis, sosialogi dan antropologi, ekonomi, politik, komunikasi dan sebagainya. Oleh sebab itu pula definisi yang dikemukakan oleh para ahli sangat beragam, sehingga cukup sulit menemukan definisi yang representatif, dapat diterima oleh seluruh pihak. Definisi yang dikemukakan oleh para ahli memiliki tekanan dan orientasi yang berbeda-beda karena landasan falsafah yang digunakannya berbeda-beda pula. Betapapun sulitnya mendefinisikan pendidikan, namun untuk keperluan aplikasinya tetap perlu memiliki pegangan tertentu, agar apa yang kita lakukan di sekolah memiliki pijakan yang kita yakin.
Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembang-kan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagmaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Merujuk pada permasalahan itulah maka penulis merumuskan visi dan misi kunci sukses menuju sekolah unggul di Jombang.
Visi : Menciptakan manusia yang berimtaq, berprestasi, disiplin, jujur serta mempunyai keterampilan dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator Visi :
1. Memiliki siswa yang cerdas (IQ, EQ, SQ)
2. Memiliki siswa yang terampil
3. Memiliki siswa yang berkepribadian
4. Memiliki layanan pendidikan yang prima dan profesional
5. Melaksanakan manajemen berbasis sekolah
Misi : Untuk merealisasikan visi tersebut, sekolah hendaklah :
1. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga setiap siswa berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimiliki.
2. Menumbuhkan penghayatan terhadap agama dan mengimplemen-tasikan dalam sikap dan perbuatan
3. Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran.
4. Menunjang dan memotivasi keahlian dan keterampilan siswa sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki.
5. Membina hubungan yang baik dengan komite, perangkat desa, masyarakat dan seluruh warga sekolah.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara meningkatkan kualitas pendidikan untuk menuju sekolah unggul ?
2. Bagaimana cara meningkatkan pencapaian prestasi siswa secara akademik maupun non akademik ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui cara meningkatkan kualitas pendidikan menuju sekolah unggul.
2. Untuk mengetahui cara meningkatkan pencapaian prestasi siswa secara akademik maupun non akademik.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Meningkatkan Kualitas Pendidikan
Yang dimaksud kualitas pendidikan adalah mutu dari sekolah yang dapat dilihat dari hasil lulusan siswa sekolah tersebut. Salah satu cara meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan cara meningkatkan mutu atau kualitas guru, yaitu guru harus memiliki kemampuan profesional dalam berbagai kapasitasnya sebagai pendidik. Studi Balitbang Dikbud (1992) menunjukkan bahwa guru yang bermutu dapat diukur dengan lima faktor utama, yaitu: (1) kemampuan profesional, (2) upaya profesional, (3) kesesuaian waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional, (4) kesesuaian antara keahlian dengan pekerjaannya, dan (5) kesejahteraan yang memadai.
a) Kemampuan profesional guru (professional capacity) terdiri dari kemampuan intelegensi, sikap, dan prestasinya dalam bekerja. Dalam berbagai penelitian, kemampuan profesional guru sering ditunjukkan dengan tinggi rendahnya hasil pengukuran kemampuan menguasai materi pelajaran yang diajarkan. Secara sederhana, kemampuan profesional ini bisa ditunjukkan dengan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan tentang materi pelajaran yang diajarkan termasuk upaya untuk selalu memperkaya dan meremajakan pengetahuan tersebut.
b) Upaya profesional guru (professional efforts) adalah upaya seorang guru untuk mentransformasikan kemampuan profesional yang dimilikinya ke dalam proses belajar mengajar. Dalam beberapa peneliti, upaya profesional guru tersebut ditunjukkan oleh penguasaan keahlian mengajar baik keahlian dalam menguasai materi pelajaran, penggunaan bahan-bahan pengajaran, pengelolaan kegiatan belajar murid, maupun upaya untuk selalu memperkaya serta meremajakan kemampuannya dalam mengembangkan program-program pengajaran.
c) Waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional (teacher’s time) menunjukkan intensitas waktu yang dipergunakan dari seorang guru untuk tugas-tugas profesionalitasnya. Teacher’s time ini merupakan salah satu indikator penting dari mutu guru, seperti ditunjukkan oleh konsep “waktu belajar” (time on task) yang diukur dari intensitas belajar siswa secara perorangan. Time on task ini telah ditemukan oleh berbagai penelitian secara konsisten sebagai prediktor terbaik dari mutu hasil belajar peserta didik.
d) Kesesuaian antara keahlian dengan pekerjaannya (link and match). Guru yang bermutu ialah mereka yang dapat mendukung proses belajar mengajar sampai tuntas dan benar. Untuk itu diperlukan keahlian, baik dalam menguasai secara tuntas suatu disiplin ilmu pengetahuan maupun metodologi dan pendekatan belajar mengajar. Oleh karena itu jika guru mengajarkan mata pelajaran yang bukan keahliannya, dapat dipastikan bahwa guru tersebut tidak dapat menciptakan proses pembelajaran yang bermutu. Dalam kaitannya dengan kebijaksanaan Link and Match, ketiga faktor pertama yang diperhitungkan menentukan guru yang bermutu tersebut belumlah mencukupi. Kesesuaian antara keahlian dengan pekerjaannya ini penting dengan asumsi bahwa guru yang dipersiapkan untuk mengajar suatu bidang studi dianggap bermutu jika guru tersebut mengajar bidang studi yang bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, maka kesesuaian guru mengajar dengan bidang studi yang ditekuninya di LPTK merupakan prasyarat yang mutlak untuk menilai seorang guru dikatakan bermutu dan profesional.
e) Penghasilan dan kesejahteraan yang dapat memelihara dan memacu peningkatan profesionalisasi guru. Seorang profesional harus mampu mencurahkan sebagian besar perhatiannya terhadap kegiatan profesional-nya, seperti peningkatan keahlian, memperkaya pengetahuan, serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas pekerjaan. Upaya-upaya profesional ini perlu didukung oleh penghasilan dan kesejahteraan mereka yang memadai sebagai imbalan terhadap seorang profesional. Penghasilan atau kesejahteraan yang layak ini mutlak diperlukan oleh seorang profesional karena hasil kerja mereka dituntut kualitasnya oleh pihak-pihak yang dilayani.

2.2 Meningkatkan Pencapaian Potensi Siswa Secara Akademik Maupun Non-Akademik
Sekolah harus mampu memberikan layanan yang sebaik-baiknya dengan menyerap kebutuhan dan keinginan peserta didik dalam meningkatkan mutu atau prestasi. Upaya lembaga untuk meningkatkan mutu dengan berdasar kepada keinginan atau masukan dari pelanggan disebut Quality Function Deployment (QFD). Oleh karena itu, lembaga pendidikan memiliki kewajiban menyediakan metode belajar yang bervariasi bagi peserta didiknya, dan lembaga juga harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengetahui gaya belajar, serta ketersediaan fasilitas yang memungkinkan terakomodasinya metode mengajar guru dan gaya belajar siswa.
Dalam meningkatkan mutu pendidikan ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, antara lain:
1. Siswa, meliputi :
a. Kemampuan
b. Lingkungan, termasuk lingkungan sosial ekonomi, budaya dan geografis.
c. Intelegensi, kepribadian, bakat dan minat
2. Guru
a. Kemampuan
b. Latar belakang pendidikan
c. Pengalaman kerja
d. Beban mengajar
e. Kondisi sosial ekonomi
f. Motivasi kerja
g. Komitmen terhadap tugas
h. Disiplin
i. Kreatifitas

3. Kurikulum
a. Landasan program dan pengembangan
b. Garis-garis besar program pengajaran
c. Metode
d. Sarana
e. Teknik penilaian
4. Sarana dan Prasarana Pendidikan
a. Alat peraga / alat praktik
b. Laboratorium
c. Perpustakaan
d. Ruang keterampilan
e. Ruang UKS
f. Ruang Olahraga
g. Ruang kantor
h. Ruang BP
i. Gedung dan perabot
5. Pengelolaan Sekolah
a. Pengelolaan kelas
b. Pengelolaan guru
c. Pengelolaan siswa
d. Pengelolaan sarana dan prasarana
e. Peningkatan tata tertib
f. Kepemimpinan
6. Proses Belajar Mengajar
a. Penampilan guru
b. Penguasaan kurikulum
c. Penggunaan metode mengajar
d. Pendayagunaan alat
e. Penyelenggaraan PBM
f. Pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler

7. Pengelolaan Dana
a. Perencanaan anggaran
b. Penggunaan dana
c. Laporan pertanggungjawaban
d. Pengawasan
8. Supervisi dan Monitoring
a. Kepala sekolah sebagai supervisor di sekolah
b. Pengawas sekolah sebagai supervisor
c. Pembina lainnya
9. Hubungan Sekolah dengan Lingkungannya
a. Hubungan sekolah dengan orang tua siswa
b. Hubungan sekolah dengan instansi pemerintah
c. Hubungan sekolah dengan dunia usaha dan tokoh masyarakat
d. Hubungan sekolah dengan lembaga pendidikan lainnya
Ketika aspek-aspek pengelolaan lembaga persekolahan tersebut di atas dapat dijalankan dan diarahkan ke sebuah mutu yang tinggi, maka keberhasilan dari pencapaian mutu tersebut harus merupakan integrasi dari semua keinginan dan partisipasi stakeholder (semua yang berkepentingan) dalam pencapaian hasil akhirnya. Adapun indikator-indikator keberhasilannya harus dapat menjawab hal-hal di bawah ini.
1. Spesifikasi lulusan/produk (perlu melihat persyaratan konsumen yang kemudian diterjemahkan ke dalam layanan pembelajaran yang inovatif).
2. Mutu layanan yang baik (memperhatikan kondisi peserta didik, kecerdasan, kesehatan, minat dan bakat, suasana emosional, dan motivasi belajar).
3. Kompetensi profesional guru.
4. Ketersediaan fasilitas belajar
5. Mutu kehidupan dan budaya organisasi
6. Ketertiban pengelolaan dana pendidikan
7. Kepedulian masyarakat (dewan sekolah)
8. Pembedayaan manajemen sekolah (school based management)
Indikator-indikator di atas akan memberikan implikasi kepada hasil pendidikan yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Peserta didik menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas belajar sesuai dengan tujuan dan sasaran pendidikan sehingga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.
2. Hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan lingkungan khususnya dunia kerja
3. Hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sehingga dapat melakukan sesuatu untuk keperluan hidupnya dalam rangka penyesuaian diri dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat.
4. Hasil pendidikan tidak mengakibatkan adanya pemborosan ekonomi maupun pemborosan sosial.
5. Hasil pendidikan dapat menghasilkan sesuatu yang produktif
6. Hasil pendidikan dapat dipertanggungjawabkan dari segi kemampuannya.
7. Hasil pendidikan memberikan sesuatu yang memenuhi spesifikasi dan bernilai tinggi sehingga mengakibatkan justifikasi uang yang dikeluarkan pemakainya.
8. Hasil pendidikan dapat merespon tuntutan kebutuhan masyarakat.
9. Hasil pendidikan dapat dimanfaatkan dalam jangka yang relatif lama.
10. Hasil pendidikan dapat memberikan sesuatu yang menarik dan berseni.
Mengacu dari beberapa hal yang penulis kemukakan, maka penulis mengembangkan program kegiatan mulai jangka panjang, menengah dan jangka pendek sebagai berikut :
a. Pada tahun 2014 memiliki output siswa dengan rata-rata nilai UAN pada angka 8,00
1. Mengadakan bimbingan belajar / tambahan pelajaran.
2. Mengadakan penilaian perkembangan siswa secara berkala.
3. Memberikan tugas-tugas sesuai dengan pembelajaran yang berlangsung.
4. Mengikutsertakan anak pada setiap event lomba mata pelajaran, try-out dan sejenisnya.
5. Memberikan laporan secara berkala kepada orang tua tentang perkembangan kemajuan belajar siswa.
6. Secara internal menciptakan persaingan belajar dengan memberikan hadiah sebagai motivasi.
7. Memberikan penghargaan bagi ana-naka yang berprestasi.
8. Mejalin kerjasama dengan lembaga pendidikan baik di dalam maupun dalam satu tingkat kecamatan untuk menunjang peningkatan prestasi siswa.
b. Pada tahun 2012 memiliki satu tim kesenian yang handal serta mampu memenuhi kebutuhan berkesenian masyarakat.
1. Mengadakan kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki siswa.
2. Menyediakan fasilitas bagi penyelenggaraan kegiatan kesenian.
3. Mengadakan pementasan kesenian secara berkala sebagai bentuk evaluasi hasil ekstra utamanya pada setiap akhir tahun.
4. Mengirim tim kesenian pada Porseni.
5. Mengirim peserta pada setiap event lomba kesenian
6. Memberikan penghargaan pada siswa yang berprestasi di bidang kesenian
7. Mendatangkan pelatih kesenian
8. Menjalin kerjasama dengan instansi yang menangani kesenian dan kebudayaan.
c. Pada tahun 2012 memiliki tim olahraga yang handal serta mampu meraih prestasi di tingkat propinsi
1. Mengadakan pembinaan olahraga dalam bentuk ekstra.
2. Mengadakan pertandingan antar sekolah antar gugus pada kegiatan tengah semester.
3. Memberikan penghargaan pada siswa yang memiliki prestasi olahraga minimal di tingkat kecamatan.
4. Memfasilitasi siswa untuk masuk pada salah satu klub olahraga.
5. Memprogramkan penambahan sarana olahraga di sekolah pada setiap penyusunan RAPBS.
6. Mendatangkan pelatih olahraga
7. Menjalin kerjasama dengan klub olahraga yang dapat mendukung peningkatan prestasi siswa.
d. Pada tahun 2011 memiliki produk unggulan sekolah yang mampu menopang sumber dana sekolah
1. Mengadakan kegiatan ekstra keterampilan yang menuju pada penyediaan produk unggulan.
2. Mengadakan pameran produk keterampilan secara berkala dengan melibatkan orang tua siswa.
3. Membuat showroom produk unggulan sekolah.
4. Mengadakan promosi bagi profuk sekolah ke luar sekolah.
5. Memberikan bagi hasil atas kerja produk yang dihasilkan siswa.
e. Pada tahun 2011 memiliki tim sekolah yang handal dalam mendukung program-program sekolah.
1. Membentuk komite sekolah
2. Mengadakan pertemuan secara rutin dengan komite sekolah
3. Mengirimkan tim sekolah pada program pengembangan sumber daya baik melalui seminar, lokakarya maupun pelatihan-pelatihan.
4. Mengadakan evaluasi kinerja tim sekolah secara berkala dan berkelanjutan.
5. Menciptakan indikator keberhasilan yang disepakati oleh tim sekolah.

f. Pada tahun 2014 memiliki manajemen sekolah yang memegang teguh komitmen keterbukaan, akuntabilitas.
1. Menata administrasi sekolah sesuai dengan pedoman administrasi.
2. Mengadakan rapat koordinasi untuk membina personil.
3. Mengadakan evaluasi secara berkala
4. Menentukan indikator kinerja atas dasar akuntabilitas instansi pemerintah (LAKIP).
5. Menentukan tindak lanjut atas hasil evaluasi.
6. Memiliki quality control management yang dibakukan oleh sekolah.
g. Pada tahun 2014 memiliki sarana dan prasarana yang memadai guna mendukung proses pembelajaran, ekstrakurikuler, kesenian dan keterampilan
1. Memprogramkan penambahan sarana pada setiap penyusunan anggaran
2. Menghimpun peran serta masyarakat dalam menyediakan sarana dan prasarana sekolah.
3. Merawat sarana prasarana yang telah dimiliki serta sedapat mungkin menyempurnakannya secara fungsional.
4. Menjalin kerjasama dengan dinas dan instansi lain untuk pengembangan peralatan yang dimiliki.
h. Pada tahun 2014 memiliki sumber daya manusia yang mampu menjadi guru pemandu untuk tiap bidang studi dalam satu gugus sekolah
1. Mengefektifkan keikutsertaan guru dalam kegiatan KKG.
2. Memfasilitasi guru dalam meningkatkan kualifikasi pendidikan.
3. Mengikutsertakan guru dalam setiap pelatihan, workshop dan lokakarya.
4. Mengadakan kunjungan antara guru, gugus untuk sharing pemahaman dan pengetahuan.
5. Memberi penghargaan kepada guru atau karyawan yang berprestasi.
6. Memprogramkan penambahan pustaka secara berkala sebagai referensi guru.
7. Berlangganan koran atau majalah.
8. Memfasilitasi guru dalam mengadakan penelitian di sekolah (Penelitian Tindakan Kelas)
9. Berupaya meningkatkan kesejahteraan guru melalui upaya-upaya legal formal dengan dukungan stakeholder.
i. Memiliki siswa-siswi yang berakhlakul karimah serta mampu menjadi teladan bagi masyarakat
1. Melaksanakan pendidikan budi pekerti, baik terintegrasi dengan mata pelajaran atau secara mandiri.
2. Membiasakan anak didik dengan perilaku yang berbudi dalam setiap kesempatan yang dimiliki.
3. Mengkomunikasikan pendidikan budi pekerti dengan orang tua untuk bersama-sama terlibat dalam penanganan peningkatan budi pekerti anak.
4. Mengefektifkan pengawasan terpadu antara orang tua, sekolah, lingkungan terhadap perilaku anak baik di dalam maupun di luar sekolah.
5. Membuat aturan budi pekerti siswa yang harus dilaksanakan baik di sekolah maupun di rumah.
6. Membuat rumusan sanksi bagi siswa yang melanggar disiplin maupun budi pekerti baik di sekolah maupun di rumah.
Sasaran yang ingin dicapai dalam rangka merealisasi tujuan adalah :
1. Siswa-siswi yang memiliki etos belajar yang tinggi dengan kemampuan menggali pengetahuan secara mandiri yang didukung sumber belajar yang cukup.
2. Siswa-siswi yang mau dan mampu menunjukkan dan mengembangkan potensi diri baik dalam hal berkesenian dan berolahraga serta keterampilan dengan didukung pembina yang profesional dan pembinaan yang intensif.
3. Stakeholder yang berpikiran progresif serta memiliki kesempatan untuk bersama-sama memajukan sekolah.
4. Sumber daya manusia (guru dan karyawan) yang memiliki dedikasi, loyalitas yang tangguh, memiliki komitmen terhadap tugas dan tanggung jawabnya.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Salah satu indikator keberhasilan pencapaian sekolah unggul adalah adanya kesesuaian produk atau hasil kerja dengan kebutuhan yang diinginkan oleh masyarakat, kualitas yang dicapai tidak dapat ditentukan oleh lembaga secara sepihak, melainkan ada pengakuan bahwa hasil kerja lembaga cocok dengan kebutuhan dan keinginan siswa, orang tua siswa, guru dan masyarakat.

3.2 Saran
Salah satu kunci sukses sekolah unggul adalah peningkatan mutu pendidikan sehingga sekolah memiliki keunggulan kompetitif. Faktor penting yang mempengaruhi mutu pendidikan adalah guru. Jadi upaya peningkatan mutu (kualitas) guru merupakan upaya strategis yang harus dilakukan. Guru dapat dianggap bermutu jika guru memiliki kemampuan profesional dalam berbagai kapasitasnya sebagai pendidik.
Diperlukan juga pengelola sekolah yang mempunyai kemampuan dalam mengidentifikasikan berbagai faktor internal sekolah sebagai potensi dan faktor eksternal, karena kemampuan ini sangat dibutuhkan.



DAFTAR PUSTAKA



1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2003. Bandung: Citra Umbara.
2. Fattah, Nanang. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Universitas Terbuka
3. Rencana Strategis Sekolah
4. Winata Putra, Udin. S. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
5. Mikarsa, Hera Lestari., dkk. 2002. Pendidikan Anak SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Lanjuuutt..

Popular Posts