Latar Belakang Masalah : Pendidikan Islam merupakan sebuah pendidikan yang harus dilakukan secara sadar untuk mencapai tujuan yang jelas melalui syari’at Islam. Pendidikan Islam adalah universal dan hendaknya diarahkan untuk menyadarkan manusia bahwa dirinya adalah hambah tuhan yang berfungsi menghambahkan diri kepadanya. Jadi pendidikan Islam adalah menyadarkan manusia agar dapat mewujudkan penghambaan diri kepada Allah Swt sang pencipta baik secara sendiri-sendiri, maupun secara bersama-sama.
Lanjuuutt..
Ulfa Fitriah (Uul)
Aflach Perdana Putra (Dana)
Nawwaful Aqwa (Nawaf)
Kantor Fifa ComputeR
Baiti Jannati Faishol Amir
Logo Fifa Computer Tbi
FiFa Computer
Photo Copy - Pengetikan - Studio Photo - Warnet - Desain Gambar Cell - Penjilidan - Jasa Data Online
FiFa Computer
Photo Copy - Pengetikan - Studio Photo - Warnet - Desain Gambar Cell - Penjilidan - Jasa Data Online
FiFa Computer
Photo Copy - Pengetikan - Studio Photo - Warnet - Desain Gambar Cell - Penjilidan - Jasa Data Online
FiFa Computer
Photo Copy - Pengetikan - Studio Photo - Warnet - Desain Gambar Cell - Penjilidan - Jasa Data Online
FiFa Computer
Photo Copy - Pengetikan - Studio Photo - Warnet - Desain Gambar Cell - Penjilidan - Jasa Data Online
FiFa Computer
Photo Copy - Pengetikan - Studio Photo - Warnet - Desain Gambar Cell - Penjilidan - Jasa Data Online
Kamis, 13 Mei 2010
Proses Pendidikan
PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI SUATU PROSES
PEMBENTUKAN PRIBADI MUSLIM
A. Pendahuluan
Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu “paedagogie” yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemah-kan dengan “tarbiyah” yang berarti pendidikan.
Dalam perkembangan istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.
Lanjuuutt..
PEMBENTUKAN PRIBADI MUSLIM
A. Pendahuluan
Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu “paedagogie” yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemah-kan dengan “tarbiyah” yang berarti pendidikan.
Dalam perkembangan istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.
Pendidikan Nasional
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu alat untuk meningkatkan taraf hidup bangsa adalah Pendidikan. Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mempengaruhi manusia, agar ia mampu mewujudkan apa yang ia pandang sebagai makna eksistensi manusia di dunia ini, dengan membina budi pekerti dan turut membina kebudayaan sesamanya demi kebaikan pribadi sekeluarga, kebaikan sesama bangsa dan sesama manusia. Dengan demikian terbina budi pekerti atau cara hidup pribadi orang seorang dan kebudayaan atau cara hidup bermasyarakat. (Reksohadi Projo, 1979:18)
Lanjuuutt..
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu alat untuk meningkatkan taraf hidup bangsa adalah Pendidikan. Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mempengaruhi manusia, agar ia mampu mewujudkan apa yang ia pandang sebagai makna eksistensi manusia di dunia ini, dengan membina budi pekerti dan turut membina kebudayaan sesamanya demi kebaikan pribadi sekeluarga, kebaikan sesama bangsa dan sesama manusia. Dengan demikian terbina budi pekerti atau cara hidup pribadi orang seorang dan kebudayaan atau cara hidup bermasyarakat. (Reksohadi Projo, 1979:18)
Psikologi Pendd
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada negara-negara yang sudah berkembang ataupun yang sudah memahami stabilitas politik dan agama, pendidikan menjadi perhatian penting bagi masyarakat. Bahkan pada sekitar waktu peluncuran pesawat ruang angkasa pertama kali, sebagian besar masyarakat dunia tidak lagi hanya memperhatikan, melainkan menjadi demam memikirkan pendidikan, masyarakat mulai ramai memperdebatkan fungsi dan tujuan pendidikan.
Orang-orang yang paling getol memperdebatkan pendidikan cenderung berpendirian, bahwa tujuan pendidikan dasar adalah mempersiapkan generasi mudah untuk
Lanjuuutt..
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada negara-negara yang sudah berkembang ataupun yang sudah memahami stabilitas politik dan agama, pendidikan menjadi perhatian penting bagi masyarakat. Bahkan pada sekitar waktu peluncuran pesawat ruang angkasa pertama kali, sebagian besar masyarakat dunia tidak lagi hanya memperhatikan, melainkan menjadi demam memikirkan pendidikan, masyarakat mulai ramai memperdebatkan fungsi dan tujuan pendidikan.
Orang-orang yang paling getol memperdebatkan pendidikan cenderung berpendirian, bahwa tujuan pendidikan dasar adalah mempersiapkan generasi mudah untuk
Pendd dlm Islam
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah bertujuan agar siswa dapat memperoleh kemampuan berfikir logis, kritis dan sistematis. Melalui pengajaran pendidikan agama Islam, siswa mampu mengembangkan kemampuan untuk berfikir secara logis, memiliki keterampilan berfikir kritis dalam kehidupan sehari-hari, dan berbudi luhur.
Umumnya pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah yang masih menggunakan sistem konvensional, dimana guru menerangkan siswa mendengarkan dan mencatat serta pengajaran tugas. Sehingga keterlibatan siswa di sini adalah keterlibatan pasif mereka hanya menerima, mempelajari apa yang mereka peroleh di kelas.
Lanjuuutt..
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah bertujuan agar siswa dapat memperoleh kemampuan berfikir logis, kritis dan sistematis. Melalui pengajaran pendidikan agama Islam, siswa mampu mengembangkan kemampuan untuk berfikir secara logis, memiliki keterampilan berfikir kritis dalam kehidupan sehari-hari, dan berbudi luhur.
Umumnya pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah yang masih menggunakan sistem konvensional, dimana guru menerangkan siswa mendengarkan dan mencatat serta pengajaran tugas. Sehingga keterlibatan siswa di sini adalah keterlibatan pasif mereka hanya menerima, mempelajari apa yang mereka peroleh di kelas.
Tujuan Pendidikan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur'an memandang bahwa manusia adalah makhluk biologis, psikologis dan sosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lainnya. Manusia sebagai insan dan al-nas dengan hembusan illahi atau roh Allah yang memiliki keterbatasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang takdir Allah. Pemikiran tentang hakikat manusia dibahas dalam filsafat manusia. Agaknya, manusia sendiri tak henti-hentinya memikirkan dirinya sendiri dan mencari jawab akan apa, dari mana dan mau kemana manusia itu. PemAhaman yang tak utuh tentang manusia dapat berakibat fatal bagi perlakuan seseorang terhadap sesamanya, misalnya saja pandangan bahwa manusia merupakan fase lanjutan dari spesies tertentu yang mengalami evolusi dan natural selection, akan berimpikasi pada keyakinan bahwa manusia akan terus berkembang menuju penyempurnaan spesies.
Lanjuuutt..
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur'an memandang bahwa manusia adalah makhluk biologis, psikologis dan sosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lainnya. Manusia sebagai insan dan al-nas dengan hembusan illahi atau roh Allah yang memiliki keterbatasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang takdir Allah. Pemikiran tentang hakikat manusia dibahas dalam filsafat manusia. Agaknya, manusia sendiri tak henti-hentinya memikirkan dirinya sendiri dan mencari jawab akan apa, dari mana dan mau kemana manusia itu. PemAhaman yang tak utuh tentang manusia dapat berakibat fatal bagi perlakuan seseorang terhadap sesamanya, misalnya saja pandangan bahwa manusia merupakan fase lanjutan dari spesies tertentu yang mengalami evolusi dan natural selection, akan berimpikasi pada keyakinan bahwa manusia akan terus berkembang menuju penyempurnaan spesies.
Minat Beli
Latar Belakang Masalah: Berkembangnya tehnologi akhir-akhir ini berakibat pada kemajuan jaman sehingga cenderung membawa dampak positif dan negatif yang mengenai pada masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari gejala kehidupan masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia misalnya adanya gejala lunturnya kecintaan pada nilai moral dan norma kehidupan bangsa, banyaknya tindak korupsi, perkosaan, pembunuhan dan kejahatan dalam berbagai bentuk lainya. Hal ini sebenarnya berkaitan dengan produk pendidikan terutama pembentukan akhlak manusia yang akhir-akhir ini mengalami dekadensi moral yang mengarah pada dehumanisasi.
Lanjuuutt..
Sarana Prasarana
BAB I
PENDAHULUAN
A. latar Belakang Masalah
Masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan diantaranya rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar khususnya siswa Sekolah Menengah Atas ( SMA ). Pendekatan pembelajaran masih terlalu didominasi oleh peran guru (teacher centered), guru lebih banyak menempatkan siswa sebagai obyek dan bukan sebagai subyek didik. Pendidikan kita kurang menempatkan kesempatan kepada siswa dalam berbagai mata pelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif obyektif dan logis. Demikian pula dalam proses pembelajaran PKn, hendaknya guru menggunakan metode yang membuat siswa banyak beraktifitas. Dengan banyaknya beraktifitas yang dilakukan oleh siswa akan dapat menghilangkan rasa jenuh dalam
Lanjuuutt..
PENDAHULUAN
A. latar Belakang Masalah
Masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan diantaranya rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar khususnya siswa Sekolah Menengah Atas ( SMA ). Pendekatan pembelajaran masih terlalu didominasi oleh peran guru (teacher centered), guru lebih banyak menempatkan siswa sebagai obyek dan bukan sebagai subyek didik. Pendidikan kita kurang menempatkan kesempatan kepada siswa dalam berbagai mata pelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif obyektif dan logis. Demikian pula dalam proses pembelajaran PKn, hendaknya guru menggunakan metode yang membuat siswa banyak beraktifitas. Dengan banyaknya beraktifitas yang dilakukan oleh siswa akan dapat menghilangkan rasa jenuh dalam
Metode Tanya Jawab
Latar Belakang Masalah: Pembelajaran pada dasarnya membahas pertanyaan: apa, siapa, mengapa, bagaimana, dan seberapa baik tentang pembelajaran. Pertanyaan apa berkaitan dengan isi atau materi pembelajaran. Pertanyaan siapa berkaitan dengan guru dan siswa sebagai subjek dari kegiatan pembelajaran. Bagaiama kualifikasi, kompetensi, dan perilaku seorang guru yang lebih baik. Bagaimana cara memotivasi siswa untuk belajar?.
Bagaimana guru membangkitkan partisipasi siswa sehingga dapat mengembangkan potensi individunya secara optimal?.
Lanjuuutt..
Bagaimana guru membangkitkan partisipasi siswa sehingga dapat mengembangkan potensi individunya secara optimal?.
Manajemen Kalkulatif
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Belum ada korelasi yang pasti antara tingkat ksejahteraan guru dengan peningkatkan kompetensi yang berujung pada profesionalisme. Ada seorang guru yang gajinya tersisa minim sekali tetapi kinerjanya tetap tak terganggu. Sebaliknya ada juga guru yang gajinya terbilang besar tetapi kinerjanya kurang bagus. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa secara umum kondisi gaji merupakan salah satu variabel yang mendorong semangat kerja para guru. Semangat inilah yang mungkin dapat diaktualisasikan dalam bentuk peningkatan pengetahuan menuju peningkatan kompetensi yang diinginkan.
Pada banyak kasus profesionalisme lebih dipegaruhi oleh kompetensi kepribadian yang dimiliki. Guru guru yang memiliki dedikasi tinggi, akan mengajar dengan baik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada.
Lanjuuutt..
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Belum ada korelasi yang pasti antara tingkat ksejahteraan guru dengan peningkatkan kompetensi yang berujung pada profesionalisme. Ada seorang guru yang gajinya tersisa minim sekali tetapi kinerjanya tetap tak terganggu. Sebaliknya ada juga guru yang gajinya terbilang besar tetapi kinerjanya kurang bagus. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa secara umum kondisi gaji merupakan salah satu variabel yang mendorong semangat kerja para guru. Semangat inilah yang mungkin dapat diaktualisasikan dalam bentuk peningkatan pengetahuan menuju peningkatan kompetensi yang diinginkan.
Pada banyak kasus profesionalisme lebih dipegaruhi oleh kompetensi kepribadian yang dimiliki. Guru guru yang memiliki dedikasi tinggi, akan mengajar dengan baik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada.
Metode Ceramah
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses pembelajaran bidang studi Bahasa Arab di MI memiliki fungsi yang penting dalam memberikan pondasi yang kuat dan dalam bagi siswa guna membentuk suatu konstruksi individu yang berakhlaq al-karimah di masa-masa mendatang (Ma’arif, 2003 : 12). Di masa yang akan datang, suatu konstruksi individu yang berakhlaq al-karimah (mempunyai budi pekerti yang luhur) berperan besar dalam proses pembangunan bangsa dan memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat di mana pun dirinya akan berdomisili. Proses pembelajaran bidang studi Bahasa Arab bersandar pada kurikulum pembelajaran dan pengajaran Agama Islam yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Lingkungan oleh Departemen Agama.
Lanjuuutt..
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses pembelajaran bidang studi Bahasa Arab di MI memiliki fungsi yang penting dalam memberikan pondasi yang kuat dan dalam bagi siswa guna membentuk suatu konstruksi individu yang berakhlaq al-karimah di masa-masa mendatang (Ma’arif, 2003 : 12). Di masa yang akan datang, suatu konstruksi individu yang berakhlaq al-karimah (mempunyai budi pekerti yang luhur) berperan besar dalam proses pembangunan bangsa dan memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat di mana pun dirinya akan berdomisili. Proses pembelajaran bidang studi Bahasa Arab bersandar pada kurikulum pembelajaran dan pengajaran Agama Islam yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Lingkungan oleh Departemen Agama.
Baca Tulis Al Qur an
PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL-QUR'AN DENGAN MENGGUNAKAN METODE INDEKS MEET CARD
DI KELAS VII SMP A. WAHID HASYIM TEBUIRENG JOMBANG
A. LATAR BELAKANG
Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatu guna kepentingan pengajaran.
Di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang, pemahaman siswa kelas VII pada materi ajar Al-Qur'an Hadits sangat rendah dilihat dari hasil tes praktek pada semester I tahun pelajaran 2009-2010 dengan rata-rata nilai di bawah KKM yaitu 5,80. padahal KKM untuk pelajaran Al-Qur'an hadits adalah 6.00. hal ini disebabkan metode yang diterapkan guru tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Berdasarkan masalah di atas maka dalam penelitian ini, kami mengambil judul "Card Kelas VII di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang"
B. RUMUSAN MASALAH
Setelah memperhatikan latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1. Apakah penggunaan metode Indek Meet Card dapat meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur'an siswa kelas VII di SMP Tebuireng Jombang.
2. Sejauh mana peningkatan kemampuan baca tulis Al-Qur'an siswa kelas VII melalui penerapan Metode Indek Meet Card di SMP Tebuireng Jombang.
C. CARA PEMECAHAN MASALAH
Satu persatu atau dibuat kelompok-kelompok kecil, siswa diperlakukan secara khusus agar penguasaan keterampilan baca tulis Al-Qur'an dengan metode Indeks Meet card mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.
D. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur'an kelas VII SMP Tebuireng Jombang dengan metode Indeks Meet card.
E. MANFAAT PENELITIAN
Secara umum penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan atau memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas. Secara khusus, penelitian ini diharapkan dapat mempunyai kontribusi kepada siswa, guru, dan lembaga yang bersangkutan.
1. Bagi siswa
a. Siswa lebih aktif, kreatif dan termotivasi untuk meningkatkan proses dan hasil belajarnya, serta akan memberdayakan kemampuan baca tulis Al-Qur'annya.
b. Siswa dapat mengembangkan pada materi lain yang terkait dalam membaca dan menulis.
c. Siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru yang kelak bisa berguna bagi mereka sendiri.
2. Bagi Umum
a. Dapat meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan dalam menjalankan tugas sebagai guru.
b. Menambah wawasan tentang metodologi pembelajaran mata pelajaran Al-Qur'an Hadits.
c. Dapat menstimulus guru dalam melakukan inovasi pembelajaran mata pelajaran Al-Qur'an Hadits.
d. Dapat membantu didalam memperbaiki mutu pembelajaran mata pelajaran Al-Qur'an Hadits.
e. Dapat memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.
f. Dapat meningkatkan rasa percaya diri guru.
3. Bagi lembaga yang Bersangkutan
a. Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan kemajuan lembaga pendidikan yang bersangkutan.
b. Dapat dijadikan sebagai bahan introspeksi untuk perbaikan kebijakan berikutnya.
F. HIPOTESIS TINDAKAN
Berikut ini adalah hipotesis tindakan yang diajukan pada penelitian ini :
a. Jika metode Index Meet card digunakan pada siswa kelas VII di SMP. A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang maka kegiatan baca tulis Al-Qur'an dapat meningkat.
b. Pembelajaran dengan metode Index Meet Card akan menambah kemampuan baca tulis Al-Qur'an siswa.
c. Penggunaan metode Index Meet card menjadikan proses belajar mengajar lebih terkontrol dan terarah serta terpenuhinya hasil belajar yang direncanakan.
G. RENCANA PENELITIAN
1. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP. A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang dengan jumlah siswa 30 orang.
2. Tempat Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di SMP. A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang. penulis mengambil lokasi ini dengan pertimbangan bekerja pada sekolah tersebut, sehingga memudahkan pencarian data dan subyek penelitian yang sangat sesuai dengan profesi penulis.
3. Waktu Penelitian
Dalam berbagai pertimbangan dan alasan, penulis menentukan penggunaan waktu penelitian dalam jangka waktu 3 bulan mulai September sampai dengan bulan Nopember pada semester Genap tahun pelajaran 2009-2010.
4. Rencana Tindakan
Waktu untuk melaksanakan tindakan pada bulan Nopember, mulai dari siklus I, siklus II dan siklus IV.
5. Indikator Kinerja
a. Perencanaan
Meliputi perencanaan materi pelajaran, latihan membaca, latihan menulis dengan media kartu
b. Tindakan
Kegiatan mencakup :
1. Siklus I meliputi pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup
2. Siklus II (sama dengan I)
3. Siklus III (sama dengan II)
c. Refleksi
Dimana perlu adanya pembahasan antara ketiga siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.
H. JADWAL PENELITIAN
NO KEGIATAN Minggu
Ke ….. Minggu
Ke ….. Minggu
Ke …..
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Perencanaan x x
2 Proses Pembelajaran x
3 Evaluasi x
4 Pengumpulan Data x x x
5 Analisis Data x
6 Penyusunan Hasil x x
7 Pelaporan hasil x x
Lanjuuutt..
DI KELAS VII SMP A. WAHID HASYIM TEBUIRENG JOMBANG
A. LATAR BELAKANG
Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatu guna kepentingan pengajaran.
Di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang, pemahaman siswa kelas VII pada materi ajar Al-Qur'an Hadits sangat rendah dilihat dari hasil tes praktek pada semester I tahun pelajaran 2009-2010 dengan rata-rata nilai di bawah KKM yaitu 5,80. padahal KKM untuk pelajaran Al-Qur'an hadits adalah 6.00. hal ini disebabkan metode yang diterapkan guru tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Berdasarkan masalah di atas maka dalam penelitian ini, kami mengambil judul "Card Kelas VII di SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang"
B. RUMUSAN MASALAH
Setelah memperhatikan latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1. Apakah penggunaan metode Indek Meet Card dapat meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur'an siswa kelas VII di SMP Tebuireng Jombang.
2. Sejauh mana peningkatan kemampuan baca tulis Al-Qur'an siswa kelas VII melalui penerapan Metode Indek Meet Card di SMP Tebuireng Jombang.
C. CARA PEMECAHAN MASALAH
Satu persatu atau dibuat kelompok-kelompok kecil, siswa diperlakukan secara khusus agar penguasaan keterampilan baca tulis Al-Qur'an dengan metode Indeks Meet card mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.
D. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur'an kelas VII SMP Tebuireng Jombang dengan metode Indeks Meet card.
E. MANFAAT PENELITIAN
Secara umum penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan atau memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas. Secara khusus, penelitian ini diharapkan dapat mempunyai kontribusi kepada siswa, guru, dan lembaga yang bersangkutan.
1. Bagi siswa
a. Siswa lebih aktif, kreatif dan termotivasi untuk meningkatkan proses dan hasil belajarnya, serta akan memberdayakan kemampuan baca tulis Al-Qur'annya.
b. Siswa dapat mengembangkan pada materi lain yang terkait dalam membaca dan menulis.
c. Siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru yang kelak bisa berguna bagi mereka sendiri.
2. Bagi Umum
a. Dapat meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan dalam menjalankan tugas sebagai guru.
b. Menambah wawasan tentang metodologi pembelajaran mata pelajaran Al-Qur'an Hadits.
c. Dapat menstimulus guru dalam melakukan inovasi pembelajaran mata pelajaran Al-Qur'an Hadits.
d. Dapat membantu didalam memperbaiki mutu pembelajaran mata pelajaran Al-Qur'an Hadits.
e. Dapat memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.
f. Dapat meningkatkan rasa percaya diri guru.
3. Bagi lembaga yang Bersangkutan
a. Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan kemajuan lembaga pendidikan yang bersangkutan.
b. Dapat dijadikan sebagai bahan introspeksi untuk perbaikan kebijakan berikutnya.
F. HIPOTESIS TINDAKAN
Berikut ini adalah hipotesis tindakan yang diajukan pada penelitian ini :
a. Jika metode Index Meet card digunakan pada siswa kelas VII di SMP. A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang maka kegiatan baca tulis Al-Qur'an dapat meningkat.
b. Pembelajaran dengan metode Index Meet Card akan menambah kemampuan baca tulis Al-Qur'an siswa.
c. Penggunaan metode Index Meet card menjadikan proses belajar mengajar lebih terkontrol dan terarah serta terpenuhinya hasil belajar yang direncanakan.
G. RENCANA PENELITIAN
1. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP. A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang dengan jumlah siswa 30 orang.
2. Tempat Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di SMP. A. Wahid Hasyim Tebuireng Jombang. penulis mengambil lokasi ini dengan pertimbangan bekerja pada sekolah tersebut, sehingga memudahkan pencarian data dan subyek penelitian yang sangat sesuai dengan profesi penulis.
3. Waktu Penelitian
Dalam berbagai pertimbangan dan alasan, penulis menentukan penggunaan waktu penelitian dalam jangka waktu 3 bulan mulai September sampai dengan bulan Nopember pada semester Genap tahun pelajaran 2009-2010.
4. Rencana Tindakan
Waktu untuk melaksanakan tindakan pada bulan Nopember, mulai dari siklus I, siklus II dan siklus IV.
5. Indikator Kinerja
a. Perencanaan
Meliputi perencanaan materi pelajaran, latihan membaca, latihan menulis dengan media kartu
b. Tindakan
Kegiatan mencakup :
1. Siklus I meliputi pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup
2. Siklus II (sama dengan I)
3. Siklus III (sama dengan II)
c. Refleksi
Dimana perlu adanya pembahasan antara ketiga siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.
H. JADWAL PENELITIAN
NO KEGIATAN Minggu
Ke ….. Minggu
Ke ….. Minggu
Ke …..
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Perencanaan x x
2 Proses Pembelajaran x
3 Evaluasi x
4 Pengumpulan Data x x x
5 Analisis Data x
6 Penyusunan Hasil x x
7 Pelaporan hasil x x
Media Gambar
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses pendidikan di sekolah dasar, dalam pembelajarannya mempunyai fungsi dan pengaruh yang sangat besar dalam membangun konstruksi kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Semua kegiatan pembelajaran di jenjang pendidikan sekolah dasar hendaknya dikelola dengan baik, berdaya guna, dan berhasil guna dengan bimbingan yang cermat, pendekatan yang tepat, dan pemahaman yang memadai kondisi psikologis siswa di sekolah dasar, yang memang pada dasarnya memerlukan perhatian dan wawasan yang cukup.
Pada pendidikan dasar enam tahun di sekolah dasar secara prinsipil menempatkan banyak elemen yang dipertaruhkan, karena pada jenjang ini merupakan jenjang peletakan pondasi dasar dalam proses pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Pondasi yang kokoh akan membuat proses pembelajaran di jenjang selanjutnya relatif lebih ringan karena tinggal melanjutkan dan meneruskan proses pembelajaran yang telah ada. Seringkali para guru di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan di sekolah dasar, seperti di tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) bahkan di perguruan tinggi mengeluh, karena siswanya lemah dalam penguasaan dan keterampilan yang berhubungan secara langsung bentuk-bentuk kemampuan-kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa secara mutlak.
Bidang studi matematika seringkali menjadi pilihan atau salah satu mata pelajaran yang kurang disukai dan diminati siswa bahkan bisa dikatakan ditakuti oleh siswa. Bidang studi matematika yang memiliki hubungan langsung dengan keterampilan dasar berhitung ini menempati urutan pertama pada daftar mata pelajaran yang menjadi ‘hantu’ pada siswa di hampir semua lembaga pendidikan di berbagai jenjang, baik di tingkat sekolah dasar, tingkat lanjutan pertama maupun tingkat lanjutan atas. Bahkan pernah ditemui kenyataan bahwa ada siswa di jenjang sekolah lanjutan tingkah atas (SLTA), sekarang disebut Sekolah Menengah Atas (SMA) pada waktu penjurusan menjatuhkan pilihan pada jurusan bahasa tanpa memperhatikan kemampuan dan keterampilannya dalam bidang bahasa –baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris– dengan sebuah pertimbangan sederhana bahwa di jurusan bahasa tersebut siswa yang bersangkutan tidak akan menerima atau ‘menikmati’ pelajaran matematika dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) nya.
Sebuah kenyataan yang naif dan memprihatinkan bagi kalangan pendidikan, termasuk di dalamnya adalah guru. Namun tidak bisa dipungkiri begitu saja oleh banyak pihak yang terkait erat dengan dunia pendidikan bahwa kenyataan ini bisa saja dilatarbelakangi oleh fakta bahwa pembelajaran di tingkat dasar kurang memenuhi harapan yang diinginkan dan kurang memenuhi target ketercapaian kegiatan belajar mengajar (KBM) sehingga siswa merasa kesulitan mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan siswa bersangkutan mempunyai tingkat keterampilan matematis-logis yang rendah.
Pada umumnya, siswa di sekolah dasar mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika. Kesulitan yang berkembang pada diri hampir keseluruhan siswa di tingkat sekolah dasar pada bidang studi matematika ini yaitu kesulitan dalam menyelesaikan operasional yang berhubungan dengan keterampilan dasar matematika. Keterampilan dasar pada bidang studi matematika meliputi: (1) operasi penjumlahan, (2) operasi pengurangan, (3) operasi perkalian, dan (4) operasi pembagian.
Kenyataan tersebut di atas, pada umumnya seringkali dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa pada bidang studi matematika. Apabila permasalahan tersebut tidak segera diambil tindakan penanggulangan oleh pihak-pihak yang mempunyai hubungan yang erat dan mempunyai kewenangan (policy) dalam menentukan kebijakan dan kelancaran proses pendidikan dan pembelajaran maka niscaya siswa akan menemui kesukaran dan tertinggal dalam mengikuti proses pembelajaran bidang studi matematika.
Lebih-lebih, pada siswa yang memang pada dasarnya mempunyai motivasi belajar yang rendah, mereka akan putus asa dan menjaga jarak dengan proses pembelajaran bidang studi matematika. Sebuah realitas yang patut dicermati bersama.
Guru sebagai salah satu pihak yang mempunyai kewenangan (policy) dalam menentukan kebijakan pendidikan terutama dalam proses pembelajaran langsung di lapangan mempunyai tanggung jawab yang besar guna mengatasi permasalahan atau problematika ini. Hal ini berdasarkan realitas bahwa secara prinsipil bidang studi matematika merupakan mata pelajaran yang sangat penting dan perlu sekali untuk dikuasai siswa karena berhubungan langsung dengan salah satu aspek kecerdasan individu, dalam pengertian yang luas (Moesono, 2000:04).
Kemampuan dan keterampilan matematis-logis berikut ragam bentuk operasionalnya menentukan rentan atau tidaknya landasan pijakan kemampuan siswa dalam menyerap materi pembelajaran beragam bidang studi maupun bermacam-macam disiplin ilmu eksakta, seperyi fisika, kimia, matematika, astronomi, nautika, dan lain-lain serta bidang ilmu yang memang secara nyata memerlukan kecerdasan dan keterampilan operasional bilangan secara aplikatif.
Guru dituntut mempunyai kemampuan dan kreatifitas tersendiri dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika. Guru pengajar matematika harus bisa melepaskan diri dari predikat ‘guru yang menakutkan’, sebuah atribut yang seringkali diberikan siswa kepada guru mengingat begitu ‘mengerikannya’ bidang studi matematika. Guru juga hendaknya mempunyai ide-ide yang kreatif, inovatif, dan tepat sasaran dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya, baik secara profesional maupun moralitas. Bentuk kepercayaan orang tua murid dan wali murid untuk menyerahkan anaknya menjadi siswa dan anak didik guru di sekolah merupakan sebuah kepercayaan yang sangat tinggi dan harus dipertanggungjawabkan secara profesional, terlebih secara moral kepada diri sendiri, masyarakat, dan kepada Allah SWT.
Dalam upaya menuju ke arah peningkatan kemampuan dan keterampilan siswa dalam berbagai operasional matematis, guru hendaknya mengembangkan sebuah strategi pembelajaran yang mengenai sasaran, berdaya guna dan berhasil guna, serta dapat memberikan persepsi baru bahwa bidang studi matematika bukanlah mata pelajaran yang ‘menakutkan’ dan belajar matematika itu sebenarnya mudah (Suyadi, 1989:09).
Sejalan dengan kerangka berpikir seperti tersebut di atas, guru hendaknya mampu secara reflektif memberikan penyadaran (katarsis) kepada siswa bahwa pada dasarnya bidang studi matemayika –yang dalam proses pembelajarannya menitikberatkan pada pengasahan keterampilan operasional matematis-logis dengan angka-angka sebagai objek pembelajarannya– tidaklah berbeda jauh dengan bidang studi dan disiplin ilmu yang lain. Apabila siswa yang bersangkutan mempunyai motivasi yang rendah dalam proses pembelajarannya maka dirinya akan terus-menerus menemui kesukaran dan tertinggal jauh dalam penguasaan materi pembelajaran bidang studi matematika ini.
Selain melakukan kegiatan reflektif yang menekankan pada aspek penyadaran (katarsis) siswa, guru juga bisa memilah, memilih, dan mencermati metode yang tepat yang kiranya menemukan kesesuaian apabila diterapkan pada siswa dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar (KBM), dengan merujuk pada situasi, kondisi, latar belakang, dan karakteristik siswa di kelas itu sendiri.
Pada momentum seperti ini, peneliti merasa tepat dan mantap untuk mengetengahkan serta mendeskripsikan proses dan hasil dari penelitian tindakan kelas (PTK) yang peneliti kerjakan di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek pada tahun pelajaran 2004/2005. Karena dalam penelitian tindakan kelas (PTK) yang peneliti lakukan dengan target keterampilan operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga ini peneliti berusaha mendeskripsikan upaya-upaya yang peneliti lakukan agar keterampilan siswa dalam operasional penjumlahan siswa di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dapat menunjukkan peningkatan. Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti ini terangkum dalam sebuah kegiatan yang secara prosedural menggunakan sistematika prosedur penelitian tindakan kelas (PTK). Kegiatan penelitian ini secara konkret mengambil judul kegiatan penelitian : “Penelitian Tindakan Kelas: Penggunaan Media Gambar Sebagai Alat Peraga Untuk Peningkatan Kemampuan Operasional Penjumlahan pada Bidang Studi Matematika Siswa Kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek”.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang ada dalam penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dirumuskan sebagai berikut :
(1) Bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan siswa pada bidang studi Matematika di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga?
(2) Apakah usaha peningkatan kemampuan operasional penjumlahan siswa pada bidang studi Matematika di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga menunjukkan peningkatan seperti yang diinginkan?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini secara umum adalah untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh kegiatan peningkatan kemampuan operasional penjumlahan dalam bidang studi Matematika siswa di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pada tahun pelajaran 2004/2005.
Adapun tujuan khusus penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini adalah untuk mendapatkan deskripsi tentang :
(1) Peningkatan pemahaman dan penguasaan siswa pada materi pembelajaran bidang studi Matematika, khususnya dalam materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan baik.
(2) Peningkatan profesionalisme guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) pada bidang studi Matematika.
(3) Peningkatan profesionalisme guru dalam penggunaan media gambar sebagai alat peraga guna pengelolaan proses pembelajaran bidang studi Matematika dengan baik, khususnya pada peningkatan kemampuan operasional penjumlahan.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini, meliputi:
1. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Meningkatkan kemampuan dalam menyusun rancangan penelitian dan pengajaran (RP) dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pada kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika, dengan arahan pada peningkatan kemampuan operasional penjumlahan pada siswa.
b. Bagi Siswa
Meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan siswa sebagai salah satu tolak ukur tingkat keberhasilan kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika yang telah dilakukan bersama antara guru dan siswanya.
Meningkatkan prestasi serta pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dengan media gambar sebagai alat peraga sebagai bentuk kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa dalam bidang studi Matematika.
c. Bagi rekan seprofesi
Sebagai salah satu model pendekatan dan strategi dalam meningkatkan prestasi belajar bidang studi Matematika pada siswa yang dapat diaplikasikan secara berdaya guna dan berhasil guna di sekolah masing-masing.
2. Manfaat Teoritis
Sebagai salah satu model pendekatan dan strategi pembelajaran guna meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan siswa pada bidang studi Matematika yang bisa diterapkan pada siswa di sekolah dasar, dengan menggunakan metode pembelajaran alternatif.
1.5 Ruang Lingkup Kegiatan Penelitian
Kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dibatasi dalam sebuah ruang lingkup seperti berikut ini :
1. Penelitian ini dilaksanakan di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek pada semester satu tahun pelajaran 2004/2005.
2. Pembelajaran difokuskan pada upaya peningkatan kemampuan operasional penjumlahan siswa pada bidang studi matematika dengan menggunakan pendekatan pengurangan berulang.
3. Di sisi lain juga meningkatkan pemahaman, penguasaan, dan prestasi pembelajaran berkaitan dengan materi pembelajaran yang diberikan pada siswa kelas I sekolah dasar dalam bidang studi Matematika.
4. Kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika khususnya dalam meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada siswa di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek difokuskan pada iklim pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan bagi siswa dan guru.
1.6 Asumsi Dasar
Kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini berjalan dalam sebuah kerangka asumsi peneltian yang mendasar seperti berikut ini:
1. Siswa di kelas tersebut cenderung mempunyai tingkatan kemampuan operasional penjumlahan dalam bidang studi Matematika yang rendah.
2. Guru pengajar dan guru kelas relatif kurang memiliki kreatifitas dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran khususnya dalam meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan dalam bidang studi Matematika dan menggunakan beragam sumber sebagai media pembelajaran dan teknik pendekatan atau strategi pembelajaran yang inovatif dalam mengelola kegiatan belajar mengajar.
3. Pengembangan kemampuan pembelajaran bidang studi Matematika dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pada siswa merupakan sebuah upaya yang tepat sasaran guna membantu dan membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).
1.7 Batasan Istilah
Penafsiran yang tidak tepat dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dapat dihindari dan diminimalisasi dengan menyajikan batasan terhadap istilah-istilah yang menjadi kata kunci dalam penelitian ini.
Istilah-istilah yang dimaksud dalam penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini adalah meliputi:
(1) Peningkatan kemampuan penjumlahan; merupakan suatu usaha koordinatif yang bersandar pada nilai-normatif pembelajaran dan diatur secara teknis dalam metode pembelajaran, khususnya dalam bidang studi Matematika, dengan target pembelajaran yakni pencapaian situasi dan kondisi yang mengakomodasi kemampuan dan keterampilan siswa dalam memahami, menguasai dan mempergunakan operasional penjumlahan secara aplikatif dalam berbagai ragam soal.
(2) Media gambar sebagai alat peraga; merupakan suatu upaya mengoptimalkan penggunaan alat peraga berbentuk gambar sebagai media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika, khususnya dalam acuan peningkatan kemampuan operasional penjumlahan.
(3) Penelitian tindakan kelas (PTK); merupakan suatu pendekatan untuk memperbaiki proses dan hasil pendidikan melalui perubahan, dengan memotivasi guru agar mencermati kegiatan belajar mengajar (KBM) yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing, agar bersedia mengkritisi praktek mengajarnya itu dan merubahnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pembelajaran Bidang Studi Matematika di Sekolah Dasar
Pada pendidikan di sekolah dasar, proses pembelajaran mempunyai fungsi dan pengaruh yang sangat besar dalam membangun konstruksi kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Semua kegiatan pembelajaran di jenjang pendidikan sekolah dasar hendaknya dikelola dengan baik, berdaya guna, dan berhasil guna dengan bimbingan yang cermat, pendekatan yang tepat, dan pemahaman yang memadai kondisi psikologis siswa di sekolah dasar, yang memang pada dasarnya memerlukan perhatian dan wawasan yang cukup.
Pada pendidikan dasar enam tahun di sekolah dasar secara prinsipil menempatkan banyak elemen yang dipertaruhkan, karena pada jenjang ini merupakan jenjang jenjang peletakan pondasi dasar dalam proses pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Pondasi yang kokoh akan membuat proses pembelajaran di jenjang selanjutnya relatif lebih ringan karena tinggal melanjutkan dan meneruskan proses pembelajaran yang telah ada. Seringkali para guru di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan di sekolah dasar; seperti di tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) bahkan di perguruan tinggi mengeluh, karena siswanya lemah dalam penguasaan dan keterampilan yang berhubungan secara langsung bentuk-bentuk kemampuan-kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa secara mutlak.
Bidang studi matematika seringkali menjadi pilihan atau salah satu mata pelajaran yang kurang disukai dan diminati siswa bahkan bisa dikatakan ditakuti oleh siswa. Bidang studi matematika yang memiliki hubungan langsung dengan keterampilan dasar berhitung ini menempati urutan pertama pada daftar mata pelajaran yang menjadi ‘hantu’ pada siswa di hampir semua lembaga pendidikan di berbagai jenjang, baik di tingkat sekolah dasar, tingkat lanjutan pertama maupun tingkat lanjutan atas.
Sebuah kenyataan yang naif dan memprihatinkan bagi kalangan pendidikan, termasuk di dalamnya guru. Namun tidak bisa dipungkiri begitu saja oleh banyak pihak yang terkait erat dengan dunia pendidikan bahwa kenyataan ini bisa saja dilatarbelakangi oleh fakta bahwa pembelajaran di tingkat dasar kurang memenuhi harapan yang diinginkan dan kurang memenuhi target ketercapaian kegiatan belajar mengajar (KBM) sehingga siswa merasa kesulitan mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan siswa bersangkutan mempunyai tingkat keterampilan matematis-logis yang rendah.
Pada umumnya, siswa di sekolah dasar mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika. Kesulitan yang berkembang pada diri hampir keseluruhan siswa di tingkat sekolah dasar pada bidang stud Matematika ini yaitu kesulitan dalam menyelesaikan operasional yang berhubungan dengan keterampilan dan Matematika. Keterampilan dasar pada bidang studi Matematika meliputi : (1) operasi penjumlahan, (2) operasi pengurangan, (3) operasi perkalian, dan (4) operasi pembagian.
Kenyataan tersebut di atas, pada umumnya seringkali dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa pada bidang studi Matematika. Apabila permasalahan tersebut tidak segera diambil tindakan penanggulangan oleh pihak-pihak yang mempunyai hubungan yang erat dan mempunyai kewenangan (policy) dalam menentukan kebijakan dan kelancaran proses pendidikan dan pembelajaran maka niscaya siswa akan menemui kesukaran dan tertinggal dalam mengikuti proses pembelajaran bidang studi matematika. Lebih-lebih, pada siswa yang memang pada dasarnya mempunyai motivasi belajar yang rendah, mereka akan putus asa dan menjaga jarak dengan proses pembelajaran bidang studi matematika. Sebuah realitas yang patut dicermati bersama.
Guru sebagai salah satu pihak yang mempunyai kewenangan (policy) dalam menentukan kebijakan pendidikan terutama dalam proses pembelajaran langsung di lapangan mempunyai tanggung jawab yang besar guna mengatasi permasalahan atau problematika ini. Hal ini berdasarkan realitas bahwa secara prinsipi bidang studi matematika merupakan mata pelajaran yang sangat penting dan perlu sekali untuk dikuasai siswa karena berhubungan langsung dengan salah satu aspek kecerdasan individu, dalam pengertian yang luas (Moesono, 2000:04).
Guru dituntut mempunyai kemampuan dan kreatifitas tersendiri dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika. Guru pengajar matematika harus bisa melepaskan diri dari predikat ‘guru yang menakutkan’, sebuah atribut yang seringkali diberikan siswa kepada guru nengingat begitu ‘mengerikannya’ bidang studi matematika. Guru juga hendaknya mempunyai ide-ide yang kreatif, inovatif, dan tepat sasaran dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnnya, baik secara profesional maupun moralitas.
Dalam upaya menuju ke arah peningkatan kemampuan dan keterampilan siswa dalam berbagai operasional matematis, guru hendaknya mengembangkan sebuah strategi pembelajaran yang mengenai sasaran, berdaya guna dan berhasil guna, serta dapat memberikan persepsi baru bahwa bidang studi matematika bukanlah mata pelajaran yang ‘menakutkan’ dan belajar matematika itu sebenarnya mudah (Suyadi, 1989:09).
Sejalan dengan kerangka berpikir seperti tersebut di atas, guru hendaknya mampu secara reflektif memberikan penyadaran (katarsis) kepada siswa bahwa pada dasarnya bidang studi matemayika –yang dalam proses pembelajarannya menitikberatkan pada pengasahan keterampilan operasional matematis-logis dengan angka-angka sebagai objek pembelajarannya– tidaklah berbeda jauh dengan bidang studi dan disiplin ilmu yang lain.
Selain melakukan kegiatan reflektif yang menekankan pada aspek penyadaran (katarsis) siswa, guru juga bisa memilah, memilih, dan mencermati metode yang tepat yang kiranya menemukan kesesuaian apabila diterapkan pada siswa dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar (KBM), dengan merujuk pada situasi, kondisi, latar belakang, dan karakteristik siswa di kelas itu sendiri.
2.2 Media Gambar Sebagai Alat Peraga
Keterampilan berhitung siswa merupakan salah satu bentuk keterampilan dasar yang menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika. Tingkat keberhasilan kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika tersebut memiliki pengaruh yang besar pada prestasi belajar siswa.
Suatu kegiatan belajar mengajar (KBM) yang sering menemui kendala dan hambatan yang dapat berkembang menjadi sebuah problematika pembelajaran yang besar dapat mempengaruhi tingkat ketercapaian prestasi belajar siswa pasca proses pembelajaran. Upaya-upaya untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang baik berimplementasi langsung pada upacar secara terus menerus dan menyeluruh pada peningkatan prestasi belajar siswa.
Peningkatan prestasi belajar siswa; merupakan sebuah usaha yang dilakukan antara beberapa pihak yang terkait dalam pengembangan dan pengelolaan pendidikan, seperti guru, orang tua siswa (wali murid), dan pihak-pihak yang lainnya (Suryaman, 1990:12).
Dalam proses pembelajaran bidang studi matematika, dikenal beragam teknik pendekatan, strategi pembelajaran, dan model pembelajaran yang tepat sasaran, berdaya guna, dan berhasil guna yang bisa diterapkan secara aplikatif kepada siswa di kelas guna pencapaian target pembelajaran seperti yang diinginkan dan diharapkan oleh berbagai pihak.
Berbagai metode pendekatan, strategi pembelajaran maupuj model pengajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika masing-masing memiliki pernik dan relung sendiri-sendiri, dan masing-masing memiliki kelebihan serta kekurangan dan karakteristik yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas tertentu namun masing-masing memiliki satu tujuan yang sama yakni memperlancar proses kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika dan meningkatkan prestasi belajar siswa pasca kegiatan belajar mengajar (LBM) bidang studi matematika.
Penggunaan media gambar sebagai alat peraga memiliki pengertian yang mendasar. Pada kegiatan ini, guru mengupayakan sebuah optimalisasi alat peraga dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika sebagai media pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) itu sendiri secara kontributif, tepat sasaran, berdaya guna dan berhasil guna. Media gambar ditempatkan sebagai alat peraga yang dapat membantu siswa untuk mengaktualisasikan diri lebih jauh dalam kegiatan pembelajaran khususnya pada target capaian peningkatan kemampuan penyelesaian operasional penjumlahan pada siswa di sekolah dasar, secara memadai.
Peningkatan kemampuan operasional penjumlahan ini secara implementatif akan meningkatkan prestasi belajar siswa dalam ruang lingkup yang lebih besar. Kegiatan peningkatan prestasi belajar siswa tidak bisa dibebankan pada satu pihak semata. Usaha-usaha yang mengarah pada peningkatan prestasi belajar siswa hendaknya dilakukan secara bersama, koordinatif, dan berkesinambungan. Hal ini akan mengurangi kemunculan kendala dan hambatan yang dapat berkembang menjadi problematika tersendiri, yang dapat menyulitkan dan menyurutkan usaha untuk mencapai tujuan bersama tersebut.
Prianto (1995:23) dalam makalahnya yang berjudul “Media Pembelajaran, Suatu Model Penunjang Prestasi Siswa” yang dibacakannya dalam Seminar Sehari Peran Media Belajar: Aplikasi dan Kreatifitas Guru mengatakan bahwa usaha guna meningkatkan hasil prestasi belajar siswa seringkali berhadapan dengan kendala atau hambatan bahwa:
(i) guru ataupun jajaran pengelola pendidikan di sekolah cenderung apatis dan tidak melakukan upaya-upaya konkret untuk keluar dari realitas ini;
(ii) lingkungan masyarakat atau keluarga siswa juga relatif kurang memberikan dukungan dalam proses pembelajaran; dan
(iii) minimnya fasilitas yang bisa mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika.
Selain berhadapan dengan faktor guru dan lingkungan yang melatarbelakangi siswa yang kurang memberikan dukungan serta minimnya fasilitas pendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar (KBM). Usaha meningkatkan prestasi belajar siswa dalam bidang studi matematika juga berhadapan dengan faktor siswa itu sendiri. Rendahnya motivasi belajar pada siswa di sekolah dasar menciptakan permasalahan tersendiri yang membuat banyak pihak, terutama guru sebagai institusi pertama yang berhadapan langsung dengan situasi dan kondisi tersebut.
Guru dituntut untuk bekerja keras mengupayakan solusi guna mengatasi permasalahan atau problematika tersebut. Rendahnya motivasi belajar pada siswa menuntut untuk segera disikapi dan dicarikan sebuah jalan keluar. Karena, jika situasi dan kondisi ini dibiarkan berlarut-larut maka tidak hanya siswa itu sendiri yang nantinya merugi karena tertinggal dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dan diikuti dengan penurunan hasil prestasi belajarnya. Tentu saja penurunan prestasi belajar ini secara nyata dapat diamati dan dicermati pada kemampuan dan keterampilan siswa dalam mengaplikasikan materi pembelajaran yang seharusnya mampu dikuasainya pada kegiatan sehari-hari, baik di lingkungan pembelajaran di sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.
Salah satu langkah kongkret yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga dalam mendukung kelancaran dan keberhasilan kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika pda siswa kelas I sekolah dasar. Penggunaan media gambar sebagai alat peraga dalam menunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika diasumsikan mampu untuk menjawab pertanyaan tentang permasalahan dan problematika yang dihadapi oleh banyak pihak yang terkait dengan dunia pendidikan –khususnya pendidikan di tingkat dasar– yakni meningkatkan keterampilan berhitung perkalian siswa, terutama pada siswa di kelas I sekolah dasar.
Kecerdasan yang ada pada manusia dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk kecerdasan, yang mana antara satu bentuk kecerdasan dengan bentuk kecerdasan yang lain mempunyai hubungan dan keterkaitan yang sangat erat dan kompleks. Ada delapan bentuk kecerdasan yang biasa disebut sebagai kecerdasan majemuk. Kecerdasan ini berfungsi secara bersamaan dengan cara yang berbeda-beda pada diri setiap individu. Beberapa individu mempunyai tingkatan yang tinggi pada semua atau hampir semua aspek kecerdasan tersebut. Tetapi ada sebagian individu yang lain, mempunyai kekurangan dalam semua aspek kecerdasan, kecuali aspek-aspek kecerdasan yang bersifat mendasar. Secara global, manusia di antara dua kutub ini, sangat berkembang dalam kecerdasan tertentu, dan agar terbelakang dalam aspek kecerdasan lainnya.
Lebih lanjut, Gardner dan Amstrong (dalam Akbar, 2002:88) mengatakan bahwa ada delapan kecerdasan yang dimiliki setiap manusia yang disebut sebagai multiple intellegences (kecerdasan majemuk), yang meliputi :
(i) kecerdasan linguistik; kemampuan menggunakan kosakata dalam kalimat yang efektif baik lisan maupun tertulis;
(ii) kecerdasan matematis-logis; kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar;
(iii) kecerdasan spasial; kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual-spasial, dan mengorientasikan diri secara matrik spasial;
(iv) kecerdasan kinetis-jasmani; keahlian menggunakan seluruh tubh untuk mengekspresikan ide dan perasaan, keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan dan mengubah sesuatu;
(v) kecerdasan musikal; kemampuan menangani bentuk-bentuk musikalk dengan cara mempersepsi, membedakan, menggubah, dan mengekspresikannya;
(vi) kecerdasan interpersonal; kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati; maksud; motivasi; serta perasaan orang lain;
(vii) kecerdasan intrapersonal; kemampuan memahami diri secara akurat, kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri secara proporsional.
(viii) Kecerdasan naturalis; kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap fenomena alam lain-lainnya.
Bentuk-bentuk kecerdasan ini dapat menjalankan fungsi dan kegunaannya secara bersamaan dengan cara yang berbeda-beda pada diri setiap individu. Ada individu mempunyai tingkatan yang sangat tinggi pada semua atau hampir semua aspek kecerdasan tersebut. Tetapi ada juga sebagian kecil individu yang lain, mempunyai kekurangan dalam semua aspek kecerdasan, kecuali aspek-aspek kecerdasan yang bersifat mendasar. Pada dasarnya, manusia di dalam kegiatannya sehari-hari, baik dalam bertindak maupun berpikir terperangkap di antara dua kutub ini, di sisi lain sangat berkembang dalam kecerdasan tertentu, tetapi terkadang di lain pihak agak terbelakang dalam aspek kecerdasan lainnya.
Kecerdasan matematis-logis merupakan kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar dan tepat. Kemampuan ini menempati posisi kedua setelah kecerdasan linguistik, hal ini menunjukkan bahwa setelah aktivitas berkomunikasi yang mempergunakan bahasa maka yang diperlukan dalam hidup dan berkehidupan adalah kemampuan mempergunakan logika dalam memfungsikan penggunaan angka-angka sebagaimana mestinya. Kecerdasan matematis ini meliputi empat keterampilan dasar yang mencakup (i) operasional penjumlahan, (ii) operasional pengurangan, (iii) operasional perkalian, (iv) operasional pembagian.
2.3 Indikasi Keberhasilan Kegiatan Belajar Mengajar
Indikator tingkat keberhasilan yang menunjukkan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika yang menargetkan pada peningkatan keterampilan operasional penjumlahan siswa dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga adalah sebagai berikut :
(1) Peningkatan kemampuan pemahaman dan penguasaan materi pembelajaran siswa
Peningkatan kemampuan operasional penjumlahan siswa secara kualitas terlihat dalam kemampuan melakukan penyelesaian operasi penjumlahan dengan cepat dan tepat pada proses pembelajaran bidang studi Matematika. Tingkat kemampuan dan keterampilan siswa dalam melakukan aktivitas operasional penjumlahan relatif memudahkan pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran ini memberikan gambaran yang kongkret pada peningkatan prestasi belajar siswa dalam bidang studi matematika.
(2) Tingkat efisiensi kegiatan belajar mengajar (KBM)
Efisiensi proses interaksi antara siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika yang berpusat pada keterampilan operasional penjumlahan siswa yang ditandai dengan adanya peningkatan frekuensi interaksi pembelajaran dalam bidang studi matematika itu sendiri.
BAB III
METODE PENELITIAN
Kegiatan penelitian ini secara prosedural mempergunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Penggunaan prosedur penelitian tindakan kelas (PTK) dalam penelitian meningkatkan kemampua operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika di siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga ini didasari oleh realitas bahwa guru sebagai lembaga profesi yang dituntut untuk selalu mempunyai kemampuan untuk mengikuti perkembangan zaman, karena perubahan struktural sosial masyarakat berdampak langsung pada perilaku siswa di sekolah dan keaktifannya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika.
3.1 Rancangan Penelitian
Secara prinsipil, penelitian tindakan kelas (PTK) mempunyai tujuan yakni mengembangkan format keterampilan-keterampilan baru atau suatu metode pendekatan yang baru guna memecahkan berbagai permasalahan (problem solving) yang ada dan berkembang di kelas selama kegiatan belajar mengajar (KBM); yang berpengaruh pada hasil prestasi belajar siswa melalui aplikasi secara prosedural penelitian dan evaluasi secara langsung di lingkungan profesi pendidikan.
Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah pengkajian yang dilakukan terhadap permasalahan yang relatif sederhana dalam ruang lingkup yang sempit; yang memiliki hubungan dan keterkaitan dengan pola perilaku individu atau kelompok orang (group) di suatu lingkungan tertentu secara kausalitas. Penelitian peningkatan kemampuan menyelesaikan operasional pembagian siswa dalam bidang studi Matematika dengan menggunakan pendekatan pengurangan berulang, pada prinsipnya, juga secara jelas mempergunakan aturan-aturan prosedural dan sistematis rancangan penelitian tindakan kelas (PTK).
Pada umumnya, penelitian tindakan kelas (PTK) ini juga diikuti dengan aktivitas-aktivitas pengkajian yang cermat dan teliti terhadap suatu strategi pendekatan tertentu dan mengkaji hingga sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh strategi pendekatan tersebut terhadap pola perilaku objek yang sedang diteliti secara terperinci dan holistik (Joyohadikusumo, 2001:20).
Tingkat perubahan yang terjadi secara menyeluruh pada objek penelitian ini akan menjadi masukan data tersendiri yang pada proses selanjutnya akan dihubungkan dengan variabel penelitian yang berupa strategi pendekatan. Penelitian tindakan kelas (PTK) memberikan upaya kritis peneliti terhadap objek penelitian; termasuk diri peneliti tersendiri. Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) guru juga berperan sebagai praktisi, merupakan sebuah elemen bagian dari instrumen penelitian.
Secara prinsipil, penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki proses dan hasil pendidikan melalui perubahan dengan memotivasi guru agar mencermati kegiatan belajar mengajar (KBM) yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing, agar bersedia mengkritisi praktek mengajarnya itu dan merubahnya.
Wibawa (2003:56) mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) mempunyai makna sadar atau reflektif dan kritis terhadap kegiatan belajar mengajar (KBM), dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadp perubahan dan perbaikan mutu serta kualitas proses pembelajaran, baik yan bersifat evolusi maupun revolusi.
Pada awalnya, penelitian tindakan kelas (PTK) digunakan untuk mencari pemecahan dari masalah-masalah sosial, seperti pengangguran, kenakalan remaja, maupun anak jalanan, yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Penelitian tindakan kelas (PTK) diawali dengan suatu kajian terhadap permasalahan tersebut secara sistematis. Hasil kajian dijadikan suatu formula untuk mengatasi permasalahan tersebut (Suriah, 2003:43).
Dalam proses realisasi dari perencanaan, dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang hasilnya digunakan sebagai materi refelksi atas apa yang terjadi di lapangan. Hasil dari refleksi kemudian menjadi landasan upaya perbaikan dan penyempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan ini dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai kualitas suatu tingkat keberhasilan tertentu dapat diwujudkan.
Kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini tercakup dalam dua siklus dan terdiri dari dua kali pertemuan. Siklus pertama dilaksanakan pada pertemuan pertama, sedangkn siklus kedua pada pertemuan kedua.
Secara rinci, tahapan-tahapan kegiatan belajar mengajar (KBM) pada maisng-masing siklus pembelajaran dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 dapat dicermati di bawah ini, yang meliputi :
(1) Siklus pertama;
(i) Penyampaian sosialisasi awal.
(ii) Guru menyampaikan materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga.
(iii) Guru memberikan penugasan berupa latihan soal.
(iv) Evaluasi pertama.
(2) Siklus kedua;
(i) Guru memberikan pengajaran remedia
(ii) Guru memberikan penugasan kedua berupa latihan soal
(iii) Evaluasi kedua
(iv) Simpulan
3.2 Tempat Penelitian
Kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dilaksanakan di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Tempat penelitian ini dipilih oleh peneliti berdasarkan pada pertimbangan bahwa :
(a) Siswa di kelas tersebut tingkat keterampilannya dalam penyelesaian operasional pembagian menunjukkan tingkatan kemampuan yang relatif rendah;
(b) Kondisi prestasi belajarnya dalam mata pelajaran bidang studi Matematika juga relatif rendah sehingga perlu diambil tindakan yang nyata;
(c) Peneliti merupakan salah seorang pengajar dan bertanggung jawab penuh sebagai pemimpin pada sekolah tersebut sehingga merasa mempunyai tanggung jawab secara moral.
3.3 Instrumen Penelitian
Dalam sebuah kegiatan penelitian, instrumen penelitian menempati posisi yang sangat penting dalam menunjang kelancaran proses penelitian dan memberikan kontribusi yang besar dalam menunjang validitas hasil dari penelitian itu sendiri. Data yang valid (dapt dibuktikan kebenarannya) akan menjadi prosentase yang besar dalam validitas hasil penelitian.
Instrumen utama penelitian tindakan kelas (PTK) adalah peneliti itu sendiri, peneliti –dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah guru– merupakan orang atau elemen yang memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan pihak-pihak yang lain karena data konisi dari objek penelitian yakni siswa adalah guru. Seluruh realitas data dan bagaimana upaya-upaya menyikapi dan menganalisisnya. Untuk mendukung dan melengkapi instrumen utama digunakanlah instrumen penunjang. Instrumen penunjang tersebut meliputi: (1) pedoman observasi, (2) catatan lapangan, (3) dokumentasi, dan (4) foto.
Pada penggunaan instrumen penunjang, prosentasenya dalam penelitian tindakan kelas (PTK) relatif kecil dibandingkan dengan instrumen utama. Tetapi, penggunaan instrumen penunjang akan lebih mendukung validitas data yang ditampilkan oleh instrumen utama yaitu peneliti. Jadi, kehadiran instrumen penunjang tidak bisa dianggap tidaklah penting begitu saja. Instrumen penunjang pada dasarnya relatif membantu memberikan pemahaman yang konkret terhadap proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti, dalam hal ini adalah guru karena penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan guru sebagai pelaku kegiatan pengajaran dan peneliti. Melalui data yang diberikan dalam instrumen penunjang, validitas hasil penelitian relatif dapat diterima oleh banyak pihak.
3.4 Proses Analisis Data
Data yang diperoleh dari pengamatan dan penilaian selama proses pembelajaran dan hasil pembelajaran diklasifikasikan berdasarkan kelompok siswa dalam kelas yang selanjutnya dianalisis dengan teknik analisis data kualitatif. Rofiudin dan Sukoco (2002:12) mengatakan bahwa data utama yang dianalisis adalah data verbal dari peneliti sendiri, yang berupa gambaran terperinci proses dan hasil belajar siswa. Sedangkan, data penunjang meliputi data dari hasil observasi dan catatan lapangan.
Langkah-langkah analisis data adalah mengkaji data yang terkumpul secara keseluruhan dari semua instrumen, mereduksi data, dan menyimpulkannya serta memverifikasinya kembali. Tindakan verifikasi mutlak diperlukan untuk melakukan pemeriksaan terakhir pada data yang telah ada melalui sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, misalnya buku penunjang teori, data siswa, dan informasi serta tanggapan dari teman sejawat yang berkolaborasi mendukung kegiatan penelitian ini.
Analisis data penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan beberapa pedoman yang dapat dijadikan sebagai indikator dalam penganalisisan data hasil proses belajar siswa. Lebih lanjut tentang hal-hal yang bisa dan dapt digunakan sebagai indikator dan mengindikasikan tingkat keberhasilan suatu kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 akan dipaparkan dalam beberapa aspek mendasar.
Proses penganalisisan data dilakukan dengan berpedoman pada beberapa kriteria keberhasilan proses pembelajaran. Pedoman analisis proses pembelajaran bidang studi Matematika dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecmatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 dilakukan dengan menggunakan tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1 Pedoman Analisis Proses Belajar Siswa
Nama : …………………………………………
No. Absen : …………………………………………
No Kriteria Penilaian Keaktifan Siswa dalam KBM Prosentase Keaktifan Siswa dalam KBM
Ya Tidak
1. Siklus Pertama
1. Penyampaian sosialisasi awal
2. Penyampaian materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga
3. Penugasan pertama yakni mengerjakan latihan soal
4. Evaluasi pertama
2. 1. Pengajaran remedial
2. Penugasan kedua yakni mengerjakan latihan soal
3. Evaluasi kedua
4. Simpulan
Kegiatan penganalisisan data dan penyimpulan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini ditentukan dengan standar prosentase keberhasilan penelitian sebagai berikut :
1. Prestasi belajar siswa secara individual yang dinilai dari produk kegiatan penyelesaian operasional penjumlahan pada siklus kedua dan pengamatan selama kegiatan pembelajaran sepanjang siklus berlangsung adalah sekurang-kurangnya mendapatkan nilai 65 atau pencapaian nilai dai siswa rata-rata sekurang-kurangnya 85 atau prosentase pencapaian rata-rata 85%.
2. Prosentase keterlibatan aktif siswa dalam prosedur pembelajaran secara individual yang berlangsung sepanjang siklus, baik siklus pertama, kedua dan ketiga adalah sekurang-kurangnya 65% atau prosentase keberhasilan pencapaian dari masing-masing siswa rata-rata sekurang-kurangnya 85%.
3. Prosentase kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal latihan operasional pembagian yang diberikan secara individual sekurang-kurangnya 65% atau prosentase keberhasilan pencapaian dari masing-masing siswa rata-rata sekurang-kurangnya 85%.
BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Penelitian
Setelah melalui serangkaian tahapan proses penelitian, didapatkan seperangkat data yang dapat dianalisis untuk mengetahui tingkat keberhasilan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang stidi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini.
Berdasarkan pada kurikulum 2004 maka tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini adalah untuk mendapatkan gambaran yang nyata tentang usaha-usaha yang dilakukan oleh guru pengajar bidang studi Matematika untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam penyelesaian operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagia alat peraga secara optimal di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek.
Sedangkan, secara khusus, kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini memiliki tujuan sebagai berikut :
(i) Meningkatkan keterampilan siswa dalam operasional penjumlahan dalam bidang studi Matematika;
(ii) Meningkatkan prestasi belajar siswa pada bidang studi Matematika;
(iii) Meningkatkan profesionalisme guru dalam membimbing dan meningkatkan keterampilan siswa dalam operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga.
Secara lebih dalam, tahapan-tahapan pembelajaran dalam tiap siklus dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 akan diuraikan dalam wacana singkat di bawah ini :
(1) Siklus pertama
Pada siklus pertama, pertemuan pertama, pada tahapan awal guru memberikan sosialisasi awal tentang kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika terutama pada materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga kepada siswa. Tahapan sosialisasi awal ini juga digunakan untuk memberikan motivasi belajar bidang studi Matematika agar siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi dalam bidang studi Matematika.
Pada tahapan kedua, guru menyampaikan materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagia alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan jelas, lengkap, terperinci, dan tepat sasaran. Uraian materi didukung dengan keterangan-keterangan di papan tulis dan contoh soal untuk memudahkan pemahaman dan penguasaan materi pembelajaran oleh siswa.
Pada tahapan ketiga, guru memberikan penugasan berupa latihan soal yang berisikan materi tentang operasional penjumlahan dengan media gambar sebagai alat peraga pendukung kepada siswa. Latihan soal yang diberikan adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman, penguasaan, dan kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung.
Pada tahapan keempat, guru melakukan evaluasi dari pekerjaan siswa mengerjakan latihan soal menyelesaikan operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika. Hasil evaluasi akan digunakan guru sebagai materi pembelajaran remedial pada siklus dan pertemuan kedua.
Lebih lanjut tentang tahapan-tahapan pembelajaran dalam siklus pertama kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005, dapat dilihat pada uraian di bawah ini :
(a) Tahapan pertama;
Guru memberikan sosialisasi awal tentang kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika terutama pada materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) kepada siswa. Tahapan sosialisasi awal ini juga digunakan untuk memberikan motivasi belajar bidang studi Matematika agar siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi dalam bidang studi Matemtika.
(b) Tahapan kedua;
Guru menyampaikan materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambaf sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika dengan kelas, lengkap, terperinci, dan tepat sasaran. Uraian materi didukung dengan keterangan-keterangan di papan tulis dan contoh soal untuk memudahkan pemahaman dan penguasaan materi pembelajaran oleh siswa.
(c) Tahapan ketiga;
Guru memberikan penugasan berupa latihan soal yang berisikan materi tentang operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) kepada siswa. Latihan soal yang diberikan adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman, penguasaan, dan kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung.
(d) Tahapan keempat
Guru melakukan evaluasi dari pekerjaan siswa mengerjakan latihan soal operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika secara aplikatif. Hasil evaluasi akan digunakan guru sebagai materi pembelajaran remedial pada siklus dan pertemuan kedua.
(2) Siklus kedua
Pada siklus kedua, pertemuan kedua, pada tahapan awal, guru memberikan pembelajaran remedial guna membantu siswa yang mengalami ketertinggalan materi pembelajaran pada tahapan siklus pertama. Sedangkan, bagi siswa yang sudah mempunyai pemahaman dan penguasaan yang baik pada materi pembelajaran operasional penjumlahan maka pembelajaran remedial memiliki fungsi guna pemantapan pemahaman dan penguasaan pada materi pembelajaran agar lebih baik lagi.
Pada tahapan kedua, guru memberikan penugasan berupa latihan soal dengan materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika. Materi soal yang diberikan relatif mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada latihan soal di siklus pertama.
Pada tahapan ketiga, guru melakukan evaluasi dan penilaian hasil pekerjaan siswa berupa latihan soal dengan materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika secara aplikatif dan tepat sasaran.
Pada tahapan keempat, guru menyusun simpulan sederhana mengenai hasil dari proses pembelajaran yang baru saja dilalui bersama. Kegiatan menyusun simpulan secara reflektif akan membimbing siswa mengevaluasi diri sendiri, mengenali kemampuan dan kekurangan dari masing-masing pribadi siswa sebagai modal dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam proses pembelajaran selanjutnya.
Lebih lanjut tentang tahapan-tahapan dalam kegiatan pembelajaran di siklus kedua dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaanmedia gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini, secara rinci dapat dilihat dalam uraian singkat di bawah ini.
(a) Tahapan pertama;
Guru memberikan pembelajaran remedia guna membantu siswa yang mengalami ketertinggalan materi pembelajaran pada tahapan siklus pertama. Sedangkan, bagi siswa yang sudah mempunyai pemahaman dan penguasaan yang baik pada materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung maka pembelajaran remedia memiliki fungsi guna pemantapan pemahaman dan penguasaan pada materi pembelajaran agar lebih baik lagi.
(b) Tahapan kedua;
Guru memberikan penugasan berupa latihan soal dengan materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan (KBM) bidang studi Matematika secara aplikatif. Materi latihan soal yang diberikan relatif mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada latihan soal di siklus pertama.
(c) Tahapan ketiga
Guru melakukan evaluasi dan penilaian hasil pekerjaan siswa berupa latihan soal dengan materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika
(d) Tahapan keempat
Guru menyusun simpulan sederhana mengenai hasil dari proses pembelajaran yang baru saja dilalui bersama. Kegiatan menyusun simpulan secara reflektif akan membumbing siswa mengevaluasi diri sendiri, mengenali kemampuan dan kekurangan dari masing-masing pribadi siswa sebagai modal dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam proses pembelajaran selanjutnya.
Berikut ini data yang menunjukkan peningkatan ketrampilan penyelesaian operasional penjumlahan siswa pasca kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005. Peningkatan tersebut terlihat pada data analisis proses belajar maupun data analisis nilai siswa pasca kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 yang dapat dicermati dalam tabel-tabel berikut ini.
Tabel 4.1 Data Analisis Proses Belajar Siswa (Siklus 1)
No Nama Kriteria Penilaian Berdasarkan Pengamatan
Menyimak Materi Pemahaman Materi Mengerjakan Latihan Soal Evaluasi
1 Jergi R C B B A
2 Sudianto C C K C
3 Aping. G A C B B
4 Dian.P K K C C
5 Pahrul B B A A
6 Gani Yoga B B B B
7 Idah Fit B C A A
8 Mega Sil K C B B
9 M. Amin. S C C C B
10 M. Zaini B A A A
11 Ryandika C C C B
12 Sundari C C B B
13 Ungguh. P K K C C
14 W. Rahman A A A B
15 Yogi Eko B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Tabel 4.2 Data Analisis Proses Belajar Siswa (Siklus 2)
No Nama Kriteria Penilaian Berdasarkan Pengamatan
Pembelajaran remedial Mengerjakan Latihan Soal Evaluasi Simpulan
1 Jergi R B B B A
2 Sudianto B C C C
3 Aping. G A C B B
4 Dian.P B B C C
5 Pahrul B B A A
6 Gani Yoga A B A B
7 Idah Fit B C A A
8 Mega Sil A A B B
9 M. Amin. S C C C B
10 M. Zaini B A A A
11 Ryandika C A C B
12 Sundari A C B B
13 Ungguh. P B B C C
14 W. Rahman A B A B
15 Yogi Eko A B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Tabel 4.3 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 1)
No Nama Analisis Pengerjaan Soal Latihan (Tiap Nomor)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Jergi R C C B B A B B A
2 Sudianto C C C B B C K C
3 Aping. G A B A A B C B B
4 Dian.P K C C B C K C C
5 Pahrul B B B C B B A A
6 Gani Yoga B B A A A B B B
7 Idah Fit B A C C B C A A
8 Mega Sil K K C C A C B B
9 M. Amin. S C B B K C C C B
10 M. Zaini B B A C C A A A
11 Ryandika C K K C K C C B
12 Sundari C K C C B C B B
13 Ungguh. P K B B B A K C C
14 W. Rahman A B C C B A A B
15 Yogi Eko B B B C B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Tabel 4.4 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 2)
No Nama Analisis Pengerjaan Soal Latihan (Tiap Nomor)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Jergi R B A B B A B B A
2 Sudianto C A A B B C B C
3 Aping. G A A A A B A A B
4 Dian.P B C C B C B B C
5 Pahrul A B B C B B A A
6 Gani Yoga B B A A A B B B
7 Idah Fit B A C A B C A A
8 Mega Sil B B C A A C B B
9 M. Amin. S A B B B C C B B
10 M. Zaini B A A A C A A A
11 Ryandika A B C C C C C B
12 Sundari A A C C B B A B
13 Ungguh. P A B A B A A A C
14 W. Rahman A C C A B A A A
15 Yogi Eko C B A C B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
4.2 Pembahasan
Kegiatan proses penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan bidang studi matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 menurut hemat peneliti telah tepat mengenai sasaran.
Pada siklus pertama, kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru sedikit banyak telah mampu meningkatkan dan menggairahkan pengelolaan kegiatan pembelajaran dengan baik. Siswa dengan penuh perhatian mendengarkan uraian penjelasan materi pembelajaran bidang studi Matematika. Ada motivasi yang tinggi dari dalam diri siswa untuk lebih memperhatikan uraian penjelasan dari guru pengajar bidang studi Matematika karena rasa keingintahuan yang lebih untuk memahami lebih jauh tentang materi yang diuraikan oleh guru pengajar bidang studi Matematika.
Keaktifan dan kesungguhan siswa ini memiliki implementasi secara langsung pada kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa dalam penugasan kedua. Siswa di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek secara garis besar telah mampu dan terampil dalam penyelesaian operasional penjumlahan. Pemahaman, kemampuan dan keterampilan siswa tersebut terdeskripsikan dengan jelas, khususnya pada kemampuan dan keterampilan operasional penjumlahan tersebut di atas dengan baik dan benar.
Kemampuan dan keterampilan siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek untuk memahami dan menguasai dengan benar materi pembelajaran yang disampaikan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika ini mengisyaratkan bahwa secara umum siswa di kelas dan sekolah tersebut telah menunjukkan peningkatan keterampilan operasional pembagian dengan hasil yang cukup baik.
Bertolak pada realitas selama kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gamba sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini maka dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan oleh peneliti telah mencapai tujuan seperti yang diharapkan.
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Sesuai dan sejalan dengan materi dalam rumusan masalah dan tujuan penelitian, secara umum setelah melakukan kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini sebagai salah satu dari sekian banyak ragam dan bentuk alternatif metode pembelajaran bidang studi Matematika yang dapat meningkatkan keterampilan operasional penjumlahan berimplementasi langsung pada pada hasil prestasi belajar siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek ini kiranya telah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
Secara khusus, hasil penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dapat disimpulkan :
1. Peningkatan prestasi belajar siswa tampak pada peran serta aktif siswa pada tahapan-tahapan siklus pembelajaran. Aktivitas-aktivitas siswa sepertui (1) mendengarkan dengan sungguh-sungguh uraian materi pelajaran dari guru; (2) mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan materi pembelajaran operasional penjumlahan (3) mengerjakan latihan soal, dan (5) melakukan evaluasi bersam untuk mendapatkan simpulan yang tepat dari kegiatan yang baru saja dilakukan merupakan suatu bentuk peran serta aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).
2. Peningkatan prestasi belajar siswa pada bidang studi Matematika juga terimplementasi secara lengkap pada hasil yang nyata seperti kemampuan dan keterampilan operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga dengan baik dan benar.
5.2 Saran
Berpijak pada pengalaman singkat peneliti dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan medua gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini, peneliti memiliki sedikit sumbangan saran kepada beberapa pihak, meliputi :
1. Kepada rekan-rekan sejawat yang ingin meningkatkan kemampuan dan keterampilan serta prestasi belajar siswanya, apabila situasi dan kondisi yang berkembang di sekolah atau lingkungan pendidikannya relatif mempunyai kesamaan dengan apa yang ada di sekolah peneliti, maka disarankan untuk menggunakan metode ini sebagai strategi pembelajaran.
2. Kepada kepal sekolah dan jajaran pengelola kebijakan sekolah, disarankan agar dapat memberikan fasilitas dalam sosialisasi implementasi metode pembelajaran ini, sejalan dengan signifikansi hasil penelitian yang telah peneliti lakukan.
3. Kepada orang tua dan wali murid diharapkan mempunyai kepedulian yang tinggi dan proaktif dengan proses pembelajaran yang sedang dilakukan di sekolah.
4. Kepada siswa itu sendiri agar senantiasa tidak berhenti sampai pada tahapan pembelajaran ini apabila menginginkan kemampuan dan keterampilannya senantiasa terasah dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar. 2001. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Grasindo.
Bahari, Abdullah dkk. 2000. Metode Belajar Anak Kreatif. Bandung: Dwi Pasha Press.
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Bidang Studi Matematika di Sekolah Dasar. Jakarta: Puskur, Balitbang, Depdiknas.
Markus, Alim. 1998. Manajemen Pendidikan Sekolah Terbuka: Representasi Sistem Pendidikan De-Birokratisasi. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Moesono, Djoko. 2000. Mari Berhitung, Belajar Matematika dengan Mudah. Jakarta: Pustaka Jaya Press.
Prianto, Ahmad Joko. 1995. Media Pembelajaran, Suatu Model Penunjang Prestasi Siswa. Dibacakan dalam Seminar Sehari Peran Media Belajar: Aplikasi dan Kreatifitas Guru tanggal 02 Agustus 1995 di Malang.
Rahman, Arief. 2000. Sistem Pendidikan Indonesia: Potret Realitas Manajemen yang Mengambang. Yogyakarta: Lentera.
Sukoco, Padmo. 2002. Penelitian Kualitatif: Metodologi, Aplikasi, dan Evaluasi. Jakarta: Gunung Agung.
Surakhmad, Iwanurrif. 1990. Mengembangkan Pendidikan di Lingkungan Keluarga. Yogyakarta: Yayasan Obor.
Suriah, N. 2003. Penelitian Tindakan. Malang: Bayu Media Publishing.
Suryaman, Maman. 1990. Kerangka Acuan Peningkatan Prestasi Belajar Siswa. Bandung: Aksara.
Wibawa, B. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat Tenaga Kependidikan.
Lampiran 1
Tabel 3.1 Pedoman Analisis Proses Belajar Siswa
Nama : …………………………………………
No. Absen : …………………………………………
No Kriteria Penilaian Keaktifan Siswa dalam KBM Prosentase Keaktifan Siswa dalam KBM
Ya Tidak
1. Siklus Pertama
1. Penyampaian sosialisasi awal
2. Penyampaian materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga
3. Penugasan pertama yakni mengerjakan latihan soal
4. Evaluasi pertama
2. 1. Pengajaran remedial
2. Penugasan kedua yakni mengerjakan latihan soal
3. Evaluasi kedua
4. Simpulan
Lampiran 2
Tabel 4.1 Data Analisis Proses Belajar Siswa (Siklus 1)
No Nama Kriteria Penilaian Berdasarkan Pengamatan
Menyimak Materi Pemahaman Materi Mengerjakan Latihan Soal Evaluasi
1 Jergi R C B B A
2 Sudianto C C K C
3 Aping. G A C B B
4 Dian.P K K C C
5 Pahrul B B A A
6 Gani Yoga B B B B
7 Idah Fit B C A A
8 Mega Sil K C B B
9 M. Amin. S C C C B
10 M. Zaini B A A A
11 Ryandika C C C B
12 Sundari C C B B
13 Ungguh. P K K C C
14 W. Rahman A A A B
15 Yogi Eko B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Lampiran 3
Tabel 4.2 Data Analisis Proses Belajar Siswa (Siklus 2)
No Nama Kriteria Penilaian Berdasarkan Pengamatan
Pembelajaran remedial Mengerjakan Latihan Soal Evaluasi Simpulan
1 Jergi R B B B A
2 Sudianto B C C C
3 Aping. G A C B B
4 Dian.P B B C C
5 Pahrul B B A A
6 Gani Yoga A B A B
7 Idah Fit B C A A
8 Mega Sil A A B B
9 M. Amin. S C C C B
10 M. Zaini B A A A
11 Ryandika C A C B
12 Sundari A C B B
13 Ungguh. P B B C C
14 W. Rahman A B A B
15 Yogi Eko A B C B
Lampiran 3
Tabel 4.3 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 1)
No Nama Analisis Pengerjaan Soal Latihan (Tiap Nomor)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Jergi R C C B B A B B A
2 Sudianto C C C B B C K C
3 Aping. G A B A A B C B B
4 Dian.P K C C B C K C C
5 Pahrul B B B C B B A A
6 Gani Yoga B B A A A B B B
7 Idah Fit B A C C B C A A
8 Mega Sil K K C C A C B B
9 M. Amin. S C B B K C C C B
10 M. Zaini B B A C C A A A
11 Ryandika C K K C K C C B
12 Sundari C K C C B C B B
13 Ungguh. P K B B B A K C C
14 W. Rahman A B C C B A A B
15 Yogi Eko B B B C B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Lampiran 4
Tabel 4.4 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 2)
No Nama Analisis Pengerjaan Soal Latihan (Tiap Nomor)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Jergi R B A B B A B B A
2 Sudianto C A A B B C B C
3 Aping. G A A A A B A A B
4 Dian.P B C C B C B B C
5 Pahrul A B B C B B A A
6 Gani Yoga B B A A A B B B
7 Idah Fit B A C A B C A A
8 Mega Sil B B C A A C B B
9 M. Amin. S A B B B C C B B
10 M. Zaini B A A A C A A A
11 Ryandika A B C C C C C B
12 Sundari A A C C B B A B
13 Ungguh. P A B A B A A A C
14 W. Rahman A C C A B A A A
15 Yogi Eko C B A C B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SEBAGAI ALAT PERAGA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN OPERASIONAL PENJUMLAHAN PADA BIDANG STUDI MATEMATIKA
SISWA KELAS I SDN DIWEK II KECAMATAN DIWEK
TAPEL 2004/2005
KARYA TULIS ILMIAH
Oleh :
MARJUTIN, A.Ma.Pd.
NIP. 130 418 366
PEMERINTAH KABUPATEN JOMBANG
DINAS PENDIDIKAN
SDN DIWEK II
LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul : Penggunaan Media Gambar Sebagai Alat Peraga Untuk Peningkatan Kemampuan Operasional Penjumlahan pada Bidang Studi Matematika Siswa Kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek Tapel 2004/2005
2. Identitas Peneliti :
Nama : MARJUTIN, A.Ma.Pd.
NIP : 130 418 366
Jabatan : Guru Pembina
3. Lokasi Penelitian : Kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek
4. Waktu Penelitian : Januari s.d April 2005
5. Biaya Penelitian : Mandiri
Jombang, 20 Juni 2005
Mengetahui Mengetahui
Kepala UPT Dinas Pendidikan Kepala SDN Diwek II
Kecamatan Diwek Kecamatan Diwek
Drs. Eko Sukrispriono Kasmijatun, BA.
NIP. 130 742 677 NIP. 130 418 252
Kepala Dinas Pendidikan
Kabupaten Jombang
Drs. Gatot Kartonohadi, M.Si.
NIP. 010 056 057
KATA PENGANTAR
Puji syukur yang tiada terhingga penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya penulis dapat menyusun karya tulis ilmiah penelitian tindakan kelas. Hal ini tentunya tak lepas dari beberapa hal yaitu: bantuan, dorongan serta bimbingan yang sangat berguna bagi penulis maupun pihak lain. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Yth. Bapak Drs. Suyanto selaku Bupati Jombang yang berkenan dan meluangkan waktu membuka karya tulis ilmiah ini.
2. Yth. Bapak Drs. Gatot Kartonohadi, M.Si., selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang yang telah memberi kesempatan kepada penulis mengikuti Penelitian Tindakan Kelas ini.
3. Yth. Bapak Drs. Moch. Sukadi selaku Kepala Bidang Pengembangan Aparatur Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang.
4. Yth. Kasi Pengembangan Aparatur TK/SD yang telah banyak dan sabar membimbing penulisan karya tulis ini.
5. Bapak Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Diwek yang telah memberikan ijin mengikuti bimbingan penelitian tindakan kelas ini.
6. Bapak dan Ibu Guru SDN Diwek II Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang yang telah membantu mendapatkan data yang diperlukan dalam pembuatan karya tulis ini.
Penulis menyadari bahwa dalam Penelitian Tindakan Kelas ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu sumbang saran dari pembaca sangat diharapkan.
Akhirnya semoga hasil penelitian dapat berguna bagi semua pihak utamanya kepada lembaga pendidikan di Jombang.
Jombang, Juni 2005
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL i
LEMBAR PENGESAHAN ii
ABSTRAKSI iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL viii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 7
1.3 Tujuan Penelitian 7
1.4 Manfaat Penelitian 8
1.5 Ruang Lingkup Kegiatan Penelitian 10
1.6 Asumsi Dasar 11
1.7 Batasan Istilah 12
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pembelajaran Matematika di SD 14
2.2 Media Gambar Sebagai Alat Peraga 18
2.3 Indikasi Keberhasilan KBM 24
BAB III : METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian 26
3.2 Tempat Penelitian 30
3.3 Instrumen Penelitian 30
3.4 Proses Analisa Data 32
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian 36
4.2 Pembahasan 50
BAB V : PENUTUP
5.1 Simpulan 51
5.2 Saran 52
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Pedoman Analisis Proses Belajar Siswa 33
4.1 Data Analisis Nilai Siswa (Siklus 1) 44
4.2 Data Analisis Nilai Siswa Secara Individu (Siklus 2) 45
4.3 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 1) 46
4.4 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 2) 46
Lanjuuutt..
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses pendidikan di sekolah dasar, dalam pembelajarannya mempunyai fungsi dan pengaruh yang sangat besar dalam membangun konstruksi kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Semua kegiatan pembelajaran di jenjang pendidikan sekolah dasar hendaknya dikelola dengan baik, berdaya guna, dan berhasil guna dengan bimbingan yang cermat, pendekatan yang tepat, dan pemahaman yang memadai kondisi psikologis siswa di sekolah dasar, yang memang pada dasarnya memerlukan perhatian dan wawasan yang cukup.
Pada pendidikan dasar enam tahun di sekolah dasar secara prinsipil menempatkan banyak elemen yang dipertaruhkan, karena pada jenjang ini merupakan jenjang peletakan pondasi dasar dalam proses pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Pondasi yang kokoh akan membuat proses pembelajaran di jenjang selanjutnya relatif lebih ringan karena tinggal melanjutkan dan meneruskan proses pembelajaran yang telah ada. Seringkali para guru di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan di sekolah dasar, seperti di tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) bahkan di perguruan tinggi mengeluh, karena siswanya lemah dalam penguasaan dan keterampilan yang berhubungan secara langsung bentuk-bentuk kemampuan-kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa secara mutlak.
Bidang studi matematika seringkali menjadi pilihan atau salah satu mata pelajaran yang kurang disukai dan diminati siswa bahkan bisa dikatakan ditakuti oleh siswa. Bidang studi matematika yang memiliki hubungan langsung dengan keterampilan dasar berhitung ini menempati urutan pertama pada daftar mata pelajaran yang menjadi ‘hantu’ pada siswa di hampir semua lembaga pendidikan di berbagai jenjang, baik di tingkat sekolah dasar, tingkat lanjutan pertama maupun tingkat lanjutan atas. Bahkan pernah ditemui kenyataan bahwa ada siswa di jenjang sekolah lanjutan tingkah atas (SLTA), sekarang disebut Sekolah Menengah Atas (SMA) pada waktu penjurusan menjatuhkan pilihan pada jurusan bahasa tanpa memperhatikan kemampuan dan keterampilannya dalam bidang bahasa –baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris– dengan sebuah pertimbangan sederhana bahwa di jurusan bahasa tersebut siswa yang bersangkutan tidak akan menerima atau ‘menikmati’ pelajaran matematika dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) nya.
Sebuah kenyataan yang naif dan memprihatinkan bagi kalangan pendidikan, termasuk di dalamnya adalah guru. Namun tidak bisa dipungkiri begitu saja oleh banyak pihak yang terkait erat dengan dunia pendidikan bahwa kenyataan ini bisa saja dilatarbelakangi oleh fakta bahwa pembelajaran di tingkat dasar kurang memenuhi harapan yang diinginkan dan kurang memenuhi target ketercapaian kegiatan belajar mengajar (KBM) sehingga siswa merasa kesulitan mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan siswa bersangkutan mempunyai tingkat keterampilan matematis-logis yang rendah.
Pada umumnya, siswa di sekolah dasar mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika. Kesulitan yang berkembang pada diri hampir keseluruhan siswa di tingkat sekolah dasar pada bidang studi matematika ini yaitu kesulitan dalam menyelesaikan operasional yang berhubungan dengan keterampilan dasar matematika. Keterampilan dasar pada bidang studi matematika meliputi: (1) operasi penjumlahan, (2) operasi pengurangan, (3) operasi perkalian, dan (4) operasi pembagian.
Kenyataan tersebut di atas, pada umumnya seringkali dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa pada bidang studi matematika. Apabila permasalahan tersebut tidak segera diambil tindakan penanggulangan oleh pihak-pihak yang mempunyai hubungan yang erat dan mempunyai kewenangan (policy) dalam menentukan kebijakan dan kelancaran proses pendidikan dan pembelajaran maka niscaya siswa akan menemui kesukaran dan tertinggal dalam mengikuti proses pembelajaran bidang studi matematika.
Lebih-lebih, pada siswa yang memang pada dasarnya mempunyai motivasi belajar yang rendah, mereka akan putus asa dan menjaga jarak dengan proses pembelajaran bidang studi matematika. Sebuah realitas yang patut dicermati bersama.
Guru sebagai salah satu pihak yang mempunyai kewenangan (policy) dalam menentukan kebijakan pendidikan terutama dalam proses pembelajaran langsung di lapangan mempunyai tanggung jawab yang besar guna mengatasi permasalahan atau problematika ini. Hal ini berdasarkan realitas bahwa secara prinsipil bidang studi matematika merupakan mata pelajaran yang sangat penting dan perlu sekali untuk dikuasai siswa karena berhubungan langsung dengan salah satu aspek kecerdasan individu, dalam pengertian yang luas (Moesono, 2000:04).
Kemampuan dan keterampilan matematis-logis berikut ragam bentuk operasionalnya menentukan rentan atau tidaknya landasan pijakan kemampuan siswa dalam menyerap materi pembelajaran beragam bidang studi maupun bermacam-macam disiplin ilmu eksakta, seperyi fisika, kimia, matematika, astronomi, nautika, dan lain-lain serta bidang ilmu yang memang secara nyata memerlukan kecerdasan dan keterampilan operasional bilangan secara aplikatif.
Guru dituntut mempunyai kemampuan dan kreatifitas tersendiri dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika. Guru pengajar matematika harus bisa melepaskan diri dari predikat ‘guru yang menakutkan’, sebuah atribut yang seringkali diberikan siswa kepada guru mengingat begitu ‘mengerikannya’ bidang studi matematika. Guru juga hendaknya mempunyai ide-ide yang kreatif, inovatif, dan tepat sasaran dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya, baik secara profesional maupun moralitas. Bentuk kepercayaan orang tua murid dan wali murid untuk menyerahkan anaknya menjadi siswa dan anak didik guru di sekolah merupakan sebuah kepercayaan yang sangat tinggi dan harus dipertanggungjawabkan secara profesional, terlebih secara moral kepada diri sendiri, masyarakat, dan kepada Allah SWT.
Dalam upaya menuju ke arah peningkatan kemampuan dan keterampilan siswa dalam berbagai operasional matematis, guru hendaknya mengembangkan sebuah strategi pembelajaran yang mengenai sasaran, berdaya guna dan berhasil guna, serta dapat memberikan persepsi baru bahwa bidang studi matematika bukanlah mata pelajaran yang ‘menakutkan’ dan belajar matematika itu sebenarnya mudah (Suyadi, 1989:09).
Sejalan dengan kerangka berpikir seperti tersebut di atas, guru hendaknya mampu secara reflektif memberikan penyadaran (katarsis) kepada siswa bahwa pada dasarnya bidang studi matemayika –yang dalam proses pembelajarannya menitikberatkan pada pengasahan keterampilan operasional matematis-logis dengan angka-angka sebagai objek pembelajarannya– tidaklah berbeda jauh dengan bidang studi dan disiplin ilmu yang lain. Apabila siswa yang bersangkutan mempunyai motivasi yang rendah dalam proses pembelajarannya maka dirinya akan terus-menerus menemui kesukaran dan tertinggal jauh dalam penguasaan materi pembelajaran bidang studi matematika ini.
Selain melakukan kegiatan reflektif yang menekankan pada aspek penyadaran (katarsis) siswa, guru juga bisa memilah, memilih, dan mencermati metode yang tepat yang kiranya menemukan kesesuaian apabila diterapkan pada siswa dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar (KBM), dengan merujuk pada situasi, kondisi, latar belakang, dan karakteristik siswa di kelas itu sendiri.
Pada momentum seperti ini, peneliti merasa tepat dan mantap untuk mengetengahkan serta mendeskripsikan proses dan hasil dari penelitian tindakan kelas (PTK) yang peneliti kerjakan di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek pada tahun pelajaran 2004/2005. Karena dalam penelitian tindakan kelas (PTK) yang peneliti lakukan dengan target keterampilan operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga ini peneliti berusaha mendeskripsikan upaya-upaya yang peneliti lakukan agar keterampilan siswa dalam operasional penjumlahan siswa di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dapat menunjukkan peningkatan. Kegiatan yang dilakukan oleh peneliti ini terangkum dalam sebuah kegiatan yang secara prosedural menggunakan sistematika prosedur penelitian tindakan kelas (PTK). Kegiatan penelitian ini secara konkret mengambil judul kegiatan penelitian : “Penelitian Tindakan Kelas: Penggunaan Media Gambar Sebagai Alat Peraga Untuk Peningkatan Kemampuan Operasional Penjumlahan pada Bidang Studi Matematika Siswa Kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek”.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang ada dalam penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dirumuskan sebagai berikut :
(1) Bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan siswa pada bidang studi Matematika di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga?
(2) Apakah usaha peningkatan kemampuan operasional penjumlahan siswa pada bidang studi Matematika di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga menunjukkan peningkatan seperti yang diinginkan?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini secara umum adalah untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh kegiatan peningkatan kemampuan operasional penjumlahan dalam bidang studi Matematika siswa di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pada tahun pelajaran 2004/2005.
Adapun tujuan khusus penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini adalah untuk mendapatkan deskripsi tentang :
(1) Peningkatan pemahaman dan penguasaan siswa pada materi pembelajaran bidang studi Matematika, khususnya dalam materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan baik.
(2) Peningkatan profesionalisme guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) pada bidang studi Matematika.
(3) Peningkatan profesionalisme guru dalam penggunaan media gambar sebagai alat peraga guna pengelolaan proses pembelajaran bidang studi Matematika dengan baik, khususnya pada peningkatan kemampuan operasional penjumlahan.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini, meliputi:
1. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Meningkatkan kemampuan dalam menyusun rancangan penelitian dan pengajaran (RP) dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pada kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika, dengan arahan pada peningkatan kemampuan operasional penjumlahan pada siswa.
b. Bagi Siswa
Meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan siswa sebagai salah satu tolak ukur tingkat keberhasilan kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika yang telah dilakukan bersama antara guru dan siswanya.
Meningkatkan prestasi serta pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dengan media gambar sebagai alat peraga sebagai bentuk kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa dalam bidang studi Matematika.
c. Bagi rekan seprofesi
Sebagai salah satu model pendekatan dan strategi dalam meningkatkan prestasi belajar bidang studi Matematika pada siswa yang dapat diaplikasikan secara berdaya guna dan berhasil guna di sekolah masing-masing.
2. Manfaat Teoritis
Sebagai salah satu model pendekatan dan strategi pembelajaran guna meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan siswa pada bidang studi Matematika yang bisa diterapkan pada siswa di sekolah dasar, dengan menggunakan metode pembelajaran alternatif.
1.5 Ruang Lingkup Kegiatan Penelitian
Kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dibatasi dalam sebuah ruang lingkup seperti berikut ini :
1. Penelitian ini dilaksanakan di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek pada semester satu tahun pelajaran 2004/2005.
2. Pembelajaran difokuskan pada upaya peningkatan kemampuan operasional penjumlahan siswa pada bidang studi matematika dengan menggunakan pendekatan pengurangan berulang.
3. Di sisi lain juga meningkatkan pemahaman, penguasaan, dan prestasi pembelajaran berkaitan dengan materi pembelajaran yang diberikan pada siswa kelas I sekolah dasar dalam bidang studi Matematika.
4. Kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika khususnya dalam meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada siswa di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek difokuskan pada iklim pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan bagi siswa dan guru.
1.6 Asumsi Dasar
Kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini berjalan dalam sebuah kerangka asumsi peneltian yang mendasar seperti berikut ini:
1. Siswa di kelas tersebut cenderung mempunyai tingkatan kemampuan operasional penjumlahan dalam bidang studi Matematika yang rendah.
2. Guru pengajar dan guru kelas relatif kurang memiliki kreatifitas dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran khususnya dalam meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan dalam bidang studi Matematika dan menggunakan beragam sumber sebagai media pembelajaran dan teknik pendekatan atau strategi pembelajaran yang inovatif dalam mengelola kegiatan belajar mengajar.
3. Pengembangan kemampuan pembelajaran bidang studi Matematika dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pada siswa merupakan sebuah upaya yang tepat sasaran guna membantu dan membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).
1.7 Batasan Istilah
Penafsiran yang tidak tepat dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dapat dihindari dan diminimalisasi dengan menyajikan batasan terhadap istilah-istilah yang menjadi kata kunci dalam penelitian ini.
Istilah-istilah yang dimaksud dalam penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini adalah meliputi:
(1) Peningkatan kemampuan penjumlahan; merupakan suatu usaha koordinatif yang bersandar pada nilai-normatif pembelajaran dan diatur secara teknis dalam metode pembelajaran, khususnya dalam bidang studi Matematika, dengan target pembelajaran yakni pencapaian situasi dan kondisi yang mengakomodasi kemampuan dan keterampilan siswa dalam memahami, menguasai dan mempergunakan operasional penjumlahan secara aplikatif dalam berbagai ragam soal.
(2) Media gambar sebagai alat peraga; merupakan suatu upaya mengoptimalkan penggunaan alat peraga berbentuk gambar sebagai media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika, khususnya dalam acuan peningkatan kemampuan operasional penjumlahan.
(3) Penelitian tindakan kelas (PTK); merupakan suatu pendekatan untuk memperbaiki proses dan hasil pendidikan melalui perubahan, dengan memotivasi guru agar mencermati kegiatan belajar mengajar (KBM) yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing, agar bersedia mengkritisi praktek mengajarnya itu dan merubahnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pembelajaran Bidang Studi Matematika di Sekolah Dasar
Pada pendidikan di sekolah dasar, proses pembelajaran mempunyai fungsi dan pengaruh yang sangat besar dalam membangun konstruksi kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Semua kegiatan pembelajaran di jenjang pendidikan sekolah dasar hendaknya dikelola dengan baik, berdaya guna, dan berhasil guna dengan bimbingan yang cermat, pendekatan yang tepat, dan pemahaman yang memadai kondisi psikologis siswa di sekolah dasar, yang memang pada dasarnya memerlukan perhatian dan wawasan yang cukup.
Pada pendidikan dasar enam tahun di sekolah dasar secara prinsipil menempatkan banyak elemen yang dipertaruhkan, karena pada jenjang ini merupakan jenjang jenjang peletakan pondasi dasar dalam proses pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Pondasi yang kokoh akan membuat proses pembelajaran di jenjang selanjutnya relatif lebih ringan karena tinggal melanjutkan dan meneruskan proses pembelajaran yang telah ada. Seringkali para guru di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan di sekolah dasar; seperti di tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) bahkan di perguruan tinggi mengeluh, karena siswanya lemah dalam penguasaan dan keterampilan yang berhubungan secara langsung bentuk-bentuk kemampuan-kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa secara mutlak.
Bidang studi matematika seringkali menjadi pilihan atau salah satu mata pelajaran yang kurang disukai dan diminati siswa bahkan bisa dikatakan ditakuti oleh siswa. Bidang studi matematika yang memiliki hubungan langsung dengan keterampilan dasar berhitung ini menempati urutan pertama pada daftar mata pelajaran yang menjadi ‘hantu’ pada siswa di hampir semua lembaga pendidikan di berbagai jenjang, baik di tingkat sekolah dasar, tingkat lanjutan pertama maupun tingkat lanjutan atas.
Sebuah kenyataan yang naif dan memprihatinkan bagi kalangan pendidikan, termasuk di dalamnya guru. Namun tidak bisa dipungkiri begitu saja oleh banyak pihak yang terkait erat dengan dunia pendidikan bahwa kenyataan ini bisa saja dilatarbelakangi oleh fakta bahwa pembelajaran di tingkat dasar kurang memenuhi harapan yang diinginkan dan kurang memenuhi target ketercapaian kegiatan belajar mengajar (KBM) sehingga siswa merasa kesulitan mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan siswa bersangkutan mempunyai tingkat keterampilan matematis-logis yang rendah.
Pada umumnya, siswa di sekolah dasar mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika. Kesulitan yang berkembang pada diri hampir keseluruhan siswa di tingkat sekolah dasar pada bidang stud Matematika ini yaitu kesulitan dalam menyelesaikan operasional yang berhubungan dengan keterampilan dan Matematika. Keterampilan dasar pada bidang studi Matematika meliputi : (1) operasi penjumlahan, (2) operasi pengurangan, (3) operasi perkalian, dan (4) operasi pembagian.
Kenyataan tersebut di atas, pada umumnya seringkali dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa pada bidang studi Matematika. Apabila permasalahan tersebut tidak segera diambil tindakan penanggulangan oleh pihak-pihak yang mempunyai hubungan yang erat dan mempunyai kewenangan (policy) dalam menentukan kebijakan dan kelancaran proses pendidikan dan pembelajaran maka niscaya siswa akan menemui kesukaran dan tertinggal dalam mengikuti proses pembelajaran bidang studi matematika. Lebih-lebih, pada siswa yang memang pada dasarnya mempunyai motivasi belajar yang rendah, mereka akan putus asa dan menjaga jarak dengan proses pembelajaran bidang studi matematika. Sebuah realitas yang patut dicermati bersama.
Guru sebagai salah satu pihak yang mempunyai kewenangan (policy) dalam menentukan kebijakan pendidikan terutama dalam proses pembelajaran langsung di lapangan mempunyai tanggung jawab yang besar guna mengatasi permasalahan atau problematika ini. Hal ini berdasarkan realitas bahwa secara prinsipi bidang studi matematika merupakan mata pelajaran yang sangat penting dan perlu sekali untuk dikuasai siswa karena berhubungan langsung dengan salah satu aspek kecerdasan individu, dalam pengertian yang luas (Moesono, 2000:04).
Guru dituntut mempunyai kemampuan dan kreatifitas tersendiri dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika. Guru pengajar matematika harus bisa melepaskan diri dari predikat ‘guru yang menakutkan’, sebuah atribut yang seringkali diberikan siswa kepada guru nengingat begitu ‘mengerikannya’ bidang studi matematika. Guru juga hendaknya mempunyai ide-ide yang kreatif, inovatif, dan tepat sasaran dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnnya, baik secara profesional maupun moralitas.
Dalam upaya menuju ke arah peningkatan kemampuan dan keterampilan siswa dalam berbagai operasional matematis, guru hendaknya mengembangkan sebuah strategi pembelajaran yang mengenai sasaran, berdaya guna dan berhasil guna, serta dapat memberikan persepsi baru bahwa bidang studi matematika bukanlah mata pelajaran yang ‘menakutkan’ dan belajar matematika itu sebenarnya mudah (Suyadi, 1989:09).
Sejalan dengan kerangka berpikir seperti tersebut di atas, guru hendaknya mampu secara reflektif memberikan penyadaran (katarsis) kepada siswa bahwa pada dasarnya bidang studi matemayika –yang dalam proses pembelajarannya menitikberatkan pada pengasahan keterampilan operasional matematis-logis dengan angka-angka sebagai objek pembelajarannya– tidaklah berbeda jauh dengan bidang studi dan disiplin ilmu yang lain.
Selain melakukan kegiatan reflektif yang menekankan pada aspek penyadaran (katarsis) siswa, guru juga bisa memilah, memilih, dan mencermati metode yang tepat yang kiranya menemukan kesesuaian apabila diterapkan pada siswa dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar (KBM), dengan merujuk pada situasi, kondisi, latar belakang, dan karakteristik siswa di kelas itu sendiri.
2.2 Media Gambar Sebagai Alat Peraga
Keterampilan berhitung siswa merupakan salah satu bentuk keterampilan dasar yang menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika. Tingkat keberhasilan kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika tersebut memiliki pengaruh yang besar pada prestasi belajar siswa.
Suatu kegiatan belajar mengajar (KBM) yang sering menemui kendala dan hambatan yang dapat berkembang menjadi sebuah problematika pembelajaran yang besar dapat mempengaruhi tingkat ketercapaian prestasi belajar siswa pasca proses pembelajaran. Upaya-upaya untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang baik berimplementasi langsung pada upacar secara terus menerus dan menyeluruh pada peningkatan prestasi belajar siswa.
Peningkatan prestasi belajar siswa; merupakan sebuah usaha yang dilakukan antara beberapa pihak yang terkait dalam pengembangan dan pengelolaan pendidikan, seperti guru, orang tua siswa (wali murid), dan pihak-pihak yang lainnya (Suryaman, 1990:12).
Dalam proses pembelajaran bidang studi matematika, dikenal beragam teknik pendekatan, strategi pembelajaran, dan model pembelajaran yang tepat sasaran, berdaya guna, dan berhasil guna yang bisa diterapkan secara aplikatif kepada siswa di kelas guna pencapaian target pembelajaran seperti yang diinginkan dan diharapkan oleh berbagai pihak.
Berbagai metode pendekatan, strategi pembelajaran maupuj model pengajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika masing-masing memiliki pernik dan relung sendiri-sendiri, dan masing-masing memiliki kelebihan serta kekurangan dan karakteristik yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas tertentu namun masing-masing memiliki satu tujuan yang sama yakni memperlancar proses kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika dan meningkatkan prestasi belajar siswa pasca kegiatan belajar mengajar (LBM) bidang studi matematika.
Penggunaan media gambar sebagai alat peraga memiliki pengertian yang mendasar. Pada kegiatan ini, guru mengupayakan sebuah optimalisasi alat peraga dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika sebagai media pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) itu sendiri secara kontributif, tepat sasaran, berdaya guna dan berhasil guna. Media gambar ditempatkan sebagai alat peraga yang dapat membantu siswa untuk mengaktualisasikan diri lebih jauh dalam kegiatan pembelajaran khususnya pada target capaian peningkatan kemampuan penyelesaian operasional penjumlahan pada siswa di sekolah dasar, secara memadai.
Peningkatan kemampuan operasional penjumlahan ini secara implementatif akan meningkatkan prestasi belajar siswa dalam ruang lingkup yang lebih besar. Kegiatan peningkatan prestasi belajar siswa tidak bisa dibebankan pada satu pihak semata. Usaha-usaha yang mengarah pada peningkatan prestasi belajar siswa hendaknya dilakukan secara bersama, koordinatif, dan berkesinambungan. Hal ini akan mengurangi kemunculan kendala dan hambatan yang dapat berkembang menjadi problematika tersendiri, yang dapat menyulitkan dan menyurutkan usaha untuk mencapai tujuan bersama tersebut.
Prianto (1995:23) dalam makalahnya yang berjudul “Media Pembelajaran, Suatu Model Penunjang Prestasi Siswa” yang dibacakannya dalam Seminar Sehari Peran Media Belajar: Aplikasi dan Kreatifitas Guru mengatakan bahwa usaha guna meningkatkan hasil prestasi belajar siswa seringkali berhadapan dengan kendala atau hambatan bahwa:
(i) guru ataupun jajaran pengelola pendidikan di sekolah cenderung apatis dan tidak melakukan upaya-upaya konkret untuk keluar dari realitas ini;
(ii) lingkungan masyarakat atau keluarga siswa juga relatif kurang memberikan dukungan dalam proses pembelajaran; dan
(iii) minimnya fasilitas yang bisa mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika.
Selain berhadapan dengan faktor guru dan lingkungan yang melatarbelakangi siswa yang kurang memberikan dukungan serta minimnya fasilitas pendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar (KBM). Usaha meningkatkan prestasi belajar siswa dalam bidang studi matematika juga berhadapan dengan faktor siswa itu sendiri. Rendahnya motivasi belajar pada siswa di sekolah dasar menciptakan permasalahan tersendiri yang membuat banyak pihak, terutama guru sebagai institusi pertama yang berhadapan langsung dengan situasi dan kondisi tersebut.
Guru dituntut untuk bekerja keras mengupayakan solusi guna mengatasi permasalahan atau problematika tersebut. Rendahnya motivasi belajar pada siswa menuntut untuk segera disikapi dan dicarikan sebuah jalan keluar. Karena, jika situasi dan kondisi ini dibiarkan berlarut-larut maka tidak hanya siswa itu sendiri yang nantinya merugi karena tertinggal dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dan diikuti dengan penurunan hasil prestasi belajarnya. Tentu saja penurunan prestasi belajar ini secara nyata dapat diamati dan dicermati pada kemampuan dan keterampilan siswa dalam mengaplikasikan materi pembelajaran yang seharusnya mampu dikuasainya pada kegiatan sehari-hari, baik di lingkungan pembelajaran di sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.
Salah satu langkah kongkret yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga dalam mendukung kelancaran dan keberhasilan kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika pda siswa kelas I sekolah dasar. Penggunaan media gambar sebagai alat peraga dalam menunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi matematika diasumsikan mampu untuk menjawab pertanyaan tentang permasalahan dan problematika yang dihadapi oleh banyak pihak yang terkait dengan dunia pendidikan –khususnya pendidikan di tingkat dasar– yakni meningkatkan keterampilan berhitung perkalian siswa, terutama pada siswa di kelas I sekolah dasar.
Kecerdasan yang ada pada manusia dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk kecerdasan, yang mana antara satu bentuk kecerdasan dengan bentuk kecerdasan yang lain mempunyai hubungan dan keterkaitan yang sangat erat dan kompleks. Ada delapan bentuk kecerdasan yang biasa disebut sebagai kecerdasan majemuk. Kecerdasan ini berfungsi secara bersamaan dengan cara yang berbeda-beda pada diri setiap individu. Beberapa individu mempunyai tingkatan yang tinggi pada semua atau hampir semua aspek kecerdasan tersebut. Tetapi ada sebagian individu yang lain, mempunyai kekurangan dalam semua aspek kecerdasan, kecuali aspek-aspek kecerdasan yang bersifat mendasar. Secara global, manusia di antara dua kutub ini, sangat berkembang dalam kecerdasan tertentu, dan agar terbelakang dalam aspek kecerdasan lainnya.
Lebih lanjut, Gardner dan Amstrong (dalam Akbar, 2002:88) mengatakan bahwa ada delapan kecerdasan yang dimiliki setiap manusia yang disebut sebagai multiple intellegences (kecerdasan majemuk), yang meliputi :
(i) kecerdasan linguistik; kemampuan menggunakan kosakata dalam kalimat yang efektif baik lisan maupun tertulis;
(ii) kecerdasan matematis-logis; kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar;
(iii) kecerdasan spasial; kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual-spasial, dan mengorientasikan diri secara matrik spasial;
(iv) kecerdasan kinetis-jasmani; keahlian menggunakan seluruh tubh untuk mengekspresikan ide dan perasaan, keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan dan mengubah sesuatu;
(v) kecerdasan musikal; kemampuan menangani bentuk-bentuk musikalk dengan cara mempersepsi, membedakan, menggubah, dan mengekspresikannya;
(vi) kecerdasan interpersonal; kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati; maksud; motivasi; serta perasaan orang lain;
(vii) kecerdasan intrapersonal; kemampuan memahami diri secara akurat, kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri secara proporsional.
(viii) Kecerdasan naturalis; kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap fenomena alam lain-lainnya.
Bentuk-bentuk kecerdasan ini dapat menjalankan fungsi dan kegunaannya secara bersamaan dengan cara yang berbeda-beda pada diri setiap individu. Ada individu mempunyai tingkatan yang sangat tinggi pada semua atau hampir semua aspek kecerdasan tersebut. Tetapi ada juga sebagian kecil individu yang lain, mempunyai kekurangan dalam semua aspek kecerdasan, kecuali aspek-aspek kecerdasan yang bersifat mendasar. Pada dasarnya, manusia di dalam kegiatannya sehari-hari, baik dalam bertindak maupun berpikir terperangkap di antara dua kutub ini, di sisi lain sangat berkembang dalam kecerdasan tertentu, tetapi terkadang di lain pihak agak terbelakang dalam aspek kecerdasan lainnya.
Kecerdasan matematis-logis merupakan kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar dan tepat. Kemampuan ini menempati posisi kedua setelah kecerdasan linguistik, hal ini menunjukkan bahwa setelah aktivitas berkomunikasi yang mempergunakan bahasa maka yang diperlukan dalam hidup dan berkehidupan adalah kemampuan mempergunakan logika dalam memfungsikan penggunaan angka-angka sebagaimana mestinya. Kecerdasan matematis ini meliputi empat keterampilan dasar yang mencakup (i) operasional penjumlahan, (ii) operasional pengurangan, (iii) operasional perkalian, (iv) operasional pembagian.
2.3 Indikasi Keberhasilan Kegiatan Belajar Mengajar
Indikator tingkat keberhasilan yang menunjukkan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika yang menargetkan pada peningkatan keterampilan operasional penjumlahan siswa dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga adalah sebagai berikut :
(1) Peningkatan kemampuan pemahaman dan penguasaan materi pembelajaran siswa
Peningkatan kemampuan operasional penjumlahan siswa secara kualitas terlihat dalam kemampuan melakukan penyelesaian operasi penjumlahan dengan cepat dan tepat pada proses pembelajaran bidang studi Matematika. Tingkat kemampuan dan keterampilan siswa dalam melakukan aktivitas operasional penjumlahan relatif memudahkan pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran ini memberikan gambaran yang kongkret pada peningkatan prestasi belajar siswa dalam bidang studi matematika.
(2) Tingkat efisiensi kegiatan belajar mengajar (KBM)
Efisiensi proses interaksi antara siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika yang berpusat pada keterampilan operasional penjumlahan siswa yang ditandai dengan adanya peningkatan frekuensi interaksi pembelajaran dalam bidang studi matematika itu sendiri.
BAB III
METODE PENELITIAN
Kegiatan penelitian ini secara prosedural mempergunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Penggunaan prosedur penelitian tindakan kelas (PTK) dalam penelitian meningkatkan kemampua operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika di siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga ini didasari oleh realitas bahwa guru sebagai lembaga profesi yang dituntut untuk selalu mempunyai kemampuan untuk mengikuti perkembangan zaman, karena perubahan struktural sosial masyarakat berdampak langsung pada perilaku siswa di sekolah dan keaktifannya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika.
3.1 Rancangan Penelitian
Secara prinsipil, penelitian tindakan kelas (PTK) mempunyai tujuan yakni mengembangkan format keterampilan-keterampilan baru atau suatu metode pendekatan yang baru guna memecahkan berbagai permasalahan (problem solving) yang ada dan berkembang di kelas selama kegiatan belajar mengajar (KBM); yang berpengaruh pada hasil prestasi belajar siswa melalui aplikasi secara prosedural penelitian dan evaluasi secara langsung di lingkungan profesi pendidikan.
Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah pengkajian yang dilakukan terhadap permasalahan yang relatif sederhana dalam ruang lingkup yang sempit; yang memiliki hubungan dan keterkaitan dengan pola perilaku individu atau kelompok orang (group) di suatu lingkungan tertentu secara kausalitas. Penelitian peningkatan kemampuan menyelesaikan operasional pembagian siswa dalam bidang studi Matematika dengan menggunakan pendekatan pengurangan berulang, pada prinsipnya, juga secara jelas mempergunakan aturan-aturan prosedural dan sistematis rancangan penelitian tindakan kelas (PTK).
Pada umumnya, penelitian tindakan kelas (PTK) ini juga diikuti dengan aktivitas-aktivitas pengkajian yang cermat dan teliti terhadap suatu strategi pendekatan tertentu dan mengkaji hingga sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh strategi pendekatan tersebut terhadap pola perilaku objek yang sedang diteliti secara terperinci dan holistik (Joyohadikusumo, 2001:20).
Tingkat perubahan yang terjadi secara menyeluruh pada objek penelitian ini akan menjadi masukan data tersendiri yang pada proses selanjutnya akan dihubungkan dengan variabel penelitian yang berupa strategi pendekatan. Penelitian tindakan kelas (PTK) memberikan upaya kritis peneliti terhadap objek penelitian; termasuk diri peneliti tersendiri. Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) guru juga berperan sebagai praktisi, merupakan sebuah elemen bagian dari instrumen penelitian.
Secara prinsipil, penelitian tindakan kelas (PTK) adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki proses dan hasil pendidikan melalui perubahan dengan memotivasi guru agar mencermati kegiatan belajar mengajar (KBM) yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing, agar bersedia mengkritisi praktek mengajarnya itu dan merubahnya.
Wibawa (2003:56) mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) mempunyai makna sadar atau reflektif dan kritis terhadap kegiatan belajar mengajar (KBM), dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadp perubahan dan perbaikan mutu serta kualitas proses pembelajaran, baik yan bersifat evolusi maupun revolusi.
Pada awalnya, penelitian tindakan kelas (PTK) digunakan untuk mencari pemecahan dari masalah-masalah sosial, seperti pengangguran, kenakalan remaja, maupun anak jalanan, yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Penelitian tindakan kelas (PTK) diawali dengan suatu kajian terhadap permasalahan tersebut secara sistematis. Hasil kajian dijadikan suatu formula untuk mengatasi permasalahan tersebut (Suriah, 2003:43).
Dalam proses realisasi dari perencanaan, dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang hasilnya digunakan sebagai materi refelksi atas apa yang terjadi di lapangan. Hasil dari refleksi kemudian menjadi landasan upaya perbaikan dan penyempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan ini dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai kualitas suatu tingkat keberhasilan tertentu dapat diwujudkan.
Kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini tercakup dalam dua siklus dan terdiri dari dua kali pertemuan. Siklus pertama dilaksanakan pada pertemuan pertama, sedangkn siklus kedua pada pertemuan kedua.
Secara rinci, tahapan-tahapan kegiatan belajar mengajar (KBM) pada maisng-masing siklus pembelajaran dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 dapat dicermati di bawah ini, yang meliputi :
(1) Siklus pertama;
(i) Penyampaian sosialisasi awal.
(ii) Guru menyampaikan materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga.
(iii) Guru memberikan penugasan berupa latihan soal.
(iv) Evaluasi pertama.
(2) Siklus kedua;
(i) Guru memberikan pengajaran remedia
(ii) Guru memberikan penugasan kedua berupa latihan soal
(iii) Evaluasi kedua
(iv) Simpulan
3.2 Tempat Penelitian
Kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dilaksanakan di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Tempat penelitian ini dipilih oleh peneliti berdasarkan pada pertimbangan bahwa :
(a) Siswa di kelas tersebut tingkat keterampilannya dalam penyelesaian operasional pembagian menunjukkan tingkatan kemampuan yang relatif rendah;
(b) Kondisi prestasi belajarnya dalam mata pelajaran bidang studi Matematika juga relatif rendah sehingga perlu diambil tindakan yang nyata;
(c) Peneliti merupakan salah seorang pengajar dan bertanggung jawab penuh sebagai pemimpin pada sekolah tersebut sehingga merasa mempunyai tanggung jawab secara moral.
3.3 Instrumen Penelitian
Dalam sebuah kegiatan penelitian, instrumen penelitian menempati posisi yang sangat penting dalam menunjang kelancaran proses penelitian dan memberikan kontribusi yang besar dalam menunjang validitas hasil dari penelitian itu sendiri. Data yang valid (dapt dibuktikan kebenarannya) akan menjadi prosentase yang besar dalam validitas hasil penelitian.
Instrumen utama penelitian tindakan kelas (PTK) adalah peneliti itu sendiri, peneliti –dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah guru– merupakan orang atau elemen yang memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan pihak-pihak yang lain karena data konisi dari objek penelitian yakni siswa adalah guru. Seluruh realitas data dan bagaimana upaya-upaya menyikapi dan menganalisisnya. Untuk mendukung dan melengkapi instrumen utama digunakanlah instrumen penunjang. Instrumen penunjang tersebut meliputi: (1) pedoman observasi, (2) catatan lapangan, (3) dokumentasi, dan (4) foto.
Pada penggunaan instrumen penunjang, prosentasenya dalam penelitian tindakan kelas (PTK) relatif kecil dibandingkan dengan instrumen utama. Tetapi, penggunaan instrumen penunjang akan lebih mendukung validitas data yang ditampilkan oleh instrumen utama yaitu peneliti. Jadi, kehadiran instrumen penunjang tidak bisa dianggap tidaklah penting begitu saja. Instrumen penunjang pada dasarnya relatif membantu memberikan pemahaman yang konkret terhadap proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti, dalam hal ini adalah guru karena penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan guru sebagai pelaku kegiatan pengajaran dan peneliti. Melalui data yang diberikan dalam instrumen penunjang, validitas hasil penelitian relatif dapat diterima oleh banyak pihak.
3.4 Proses Analisis Data
Data yang diperoleh dari pengamatan dan penilaian selama proses pembelajaran dan hasil pembelajaran diklasifikasikan berdasarkan kelompok siswa dalam kelas yang selanjutnya dianalisis dengan teknik analisis data kualitatif. Rofiudin dan Sukoco (2002:12) mengatakan bahwa data utama yang dianalisis adalah data verbal dari peneliti sendiri, yang berupa gambaran terperinci proses dan hasil belajar siswa. Sedangkan, data penunjang meliputi data dari hasil observasi dan catatan lapangan.
Langkah-langkah analisis data adalah mengkaji data yang terkumpul secara keseluruhan dari semua instrumen, mereduksi data, dan menyimpulkannya serta memverifikasinya kembali. Tindakan verifikasi mutlak diperlukan untuk melakukan pemeriksaan terakhir pada data yang telah ada melalui sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, misalnya buku penunjang teori, data siswa, dan informasi serta tanggapan dari teman sejawat yang berkolaborasi mendukung kegiatan penelitian ini.
Analisis data penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan beberapa pedoman yang dapat dijadikan sebagai indikator dalam penganalisisan data hasil proses belajar siswa. Lebih lanjut tentang hal-hal yang bisa dan dapt digunakan sebagai indikator dan mengindikasikan tingkat keberhasilan suatu kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 akan dipaparkan dalam beberapa aspek mendasar.
Proses penganalisisan data dilakukan dengan berpedoman pada beberapa kriteria keberhasilan proses pembelajaran. Pedoman analisis proses pembelajaran bidang studi Matematika dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecmatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 dilakukan dengan menggunakan tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1 Pedoman Analisis Proses Belajar Siswa
Nama : …………………………………………
No. Absen : …………………………………………
No Kriteria Penilaian Keaktifan Siswa dalam KBM Prosentase Keaktifan Siswa dalam KBM
Ya Tidak
1. Siklus Pertama
1. Penyampaian sosialisasi awal
2. Penyampaian materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga
3. Penugasan pertama yakni mengerjakan latihan soal
4. Evaluasi pertama
2. 1. Pengajaran remedial
2. Penugasan kedua yakni mengerjakan latihan soal
3. Evaluasi kedua
4. Simpulan
Kegiatan penganalisisan data dan penyimpulan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini ditentukan dengan standar prosentase keberhasilan penelitian sebagai berikut :
1. Prestasi belajar siswa secara individual yang dinilai dari produk kegiatan penyelesaian operasional penjumlahan pada siklus kedua dan pengamatan selama kegiatan pembelajaran sepanjang siklus berlangsung adalah sekurang-kurangnya mendapatkan nilai 65 atau pencapaian nilai dai siswa rata-rata sekurang-kurangnya 85 atau prosentase pencapaian rata-rata 85%.
2. Prosentase keterlibatan aktif siswa dalam prosedur pembelajaran secara individual yang berlangsung sepanjang siklus, baik siklus pertama, kedua dan ketiga adalah sekurang-kurangnya 65% atau prosentase keberhasilan pencapaian dari masing-masing siswa rata-rata sekurang-kurangnya 85%.
3. Prosentase kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal latihan operasional pembagian yang diberikan secara individual sekurang-kurangnya 65% atau prosentase keberhasilan pencapaian dari masing-masing siswa rata-rata sekurang-kurangnya 85%.
BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Penelitian
Setelah melalui serangkaian tahapan proses penelitian, didapatkan seperangkat data yang dapat dianalisis untuk mengetahui tingkat keberhasilan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang stidi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini.
Berdasarkan pada kurikulum 2004 maka tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini adalah untuk mendapatkan gambaran yang nyata tentang usaha-usaha yang dilakukan oleh guru pengajar bidang studi Matematika untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam penyelesaian operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagia alat peraga secara optimal di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek.
Sedangkan, secara khusus, kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini memiliki tujuan sebagai berikut :
(i) Meningkatkan keterampilan siswa dalam operasional penjumlahan dalam bidang studi Matematika;
(ii) Meningkatkan prestasi belajar siswa pada bidang studi Matematika;
(iii) Meningkatkan profesionalisme guru dalam membimbing dan meningkatkan keterampilan siswa dalam operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga.
Secara lebih dalam, tahapan-tahapan pembelajaran dalam tiap siklus dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 akan diuraikan dalam wacana singkat di bawah ini :
(1) Siklus pertama
Pada siklus pertama, pertemuan pertama, pada tahapan awal guru memberikan sosialisasi awal tentang kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika terutama pada materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga kepada siswa. Tahapan sosialisasi awal ini juga digunakan untuk memberikan motivasi belajar bidang studi Matematika agar siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi dalam bidang studi Matematika.
Pada tahapan kedua, guru menyampaikan materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagia alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan jelas, lengkap, terperinci, dan tepat sasaran. Uraian materi didukung dengan keterangan-keterangan di papan tulis dan contoh soal untuk memudahkan pemahaman dan penguasaan materi pembelajaran oleh siswa.
Pada tahapan ketiga, guru memberikan penugasan berupa latihan soal yang berisikan materi tentang operasional penjumlahan dengan media gambar sebagai alat peraga pendukung kepada siswa. Latihan soal yang diberikan adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman, penguasaan, dan kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung.
Pada tahapan keempat, guru melakukan evaluasi dari pekerjaan siswa mengerjakan latihan soal menyelesaikan operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika. Hasil evaluasi akan digunakan guru sebagai materi pembelajaran remedial pada siklus dan pertemuan kedua.
Lebih lanjut tentang tahapan-tahapan pembelajaran dalam siklus pertama kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005, dapat dilihat pada uraian di bawah ini :
(a) Tahapan pertama;
Guru memberikan sosialisasi awal tentang kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika terutama pada materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) kepada siswa. Tahapan sosialisasi awal ini juga digunakan untuk memberikan motivasi belajar bidang studi Matematika agar siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi dalam bidang studi Matemtika.
(b) Tahapan kedua;
Guru menyampaikan materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambaf sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika dengan kelas, lengkap, terperinci, dan tepat sasaran. Uraian materi didukung dengan keterangan-keterangan di papan tulis dan contoh soal untuk memudahkan pemahaman dan penguasaan materi pembelajaran oleh siswa.
(c) Tahapan ketiga;
Guru memberikan penugasan berupa latihan soal yang berisikan materi tentang operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) kepada siswa. Latihan soal yang diberikan adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman, penguasaan, dan kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung.
(d) Tahapan keempat
Guru melakukan evaluasi dari pekerjaan siswa mengerjakan latihan soal operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika secara aplikatif. Hasil evaluasi akan digunakan guru sebagai materi pembelajaran remedial pada siklus dan pertemuan kedua.
(2) Siklus kedua
Pada siklus kedua, pertemuan kedua, pada tahapan awal, guru memberikan pembelajaran remedial guna membantu siswa yang mengalami ketertinggalan materi pembelajaran pada tahapan siklus pertama. Sedangkan, bagi siswa yang sudah mempunyai pemahaman dan penguasaan yang baik pada materi pembelajaran operasional penjumlahan maka pembelajaran remedial memiliki fungsi guna pemantapan pemahaman dan penguasaan pada materi pembelajaran agar lebih baik lagi.
Pada tahapan kedua, guru memberikan penugasan berupa latihan soal dengan materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika. Materi soal yang diberikan relatif mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada latihan soal di siklus pertama.
Pada tahapan ketiga, guru melakukan evaluasi dan penilaian hasil pekerjaan siswa berupa latihan soal dengan materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika secara aplikatif dan tepat sasaran.
Pada tahapan keempat, guru menyusun simpulan sederhana mengenai hasil dari proses pembelajaran yang baru saja dilalui bersama. Kegiatan menyusun simpulan secara reflektif akan membimbing siswa mengevaluasi diri sendiri, mengenali kemampuan dan kekurangan dari masing-masing pribadi siswa sebagai modal dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam proses pembelajaran selanjutnya.
Lebih lanjut tentang tahapan-tahapan dalam kegiatan pembelajaran di siklus kedua dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaanmedia gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini, secara rinci dapat dilihat dalam uraian singkat di bawah ini.
(a) Tahapan pertama;
Guru memberikan pembelajaran remedia guna membantu siswa yang mengalami ketertinggalan materi pembelajaran pada tahapan siklus pertama. Sedangkan, bagi siswa yang sudah mempunyai pemahaman dan penguasaan yang baik pada materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung maka pembelajaran remedia memiliki fungsi guna pemantapan pemahaman dan penguasaan pada materi pembelajaran agar lebih baik lagi.
(b) Tahapan kedua;
Guru memberikan penugasan berupa latihan soal dengan materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan (KBM) bidang studi Matematika secara aplikatif. Materi latihan soal yang diberikan relatif mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada latihan soal di siklus pertama.
(c) Tahapan ketiga
Guru melakukan evaluasi dan penilaian hasil pekerjaan siswa berupa latihan soal dengan materi pembelajaran operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika
(d) Tahapan keempat
Guru menyusun simpulan sederhana mengenai hasil dari proses pembelajaran yang baru saja dilalui bersama. Kegiatan menyusun simpulan secara reflektif akan membumbing siswa mengevaluasi diri sendiri, mengenali kemampuan dan kekurangan dari masing-masing pribadi siswa sebagai modal dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam proses pembelajaran selanjutnya.
Berikut ini data yang menunjukkan peningkatan ketrampilan penyelesaian operasional penjumlahan siswa pasca kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005. Peningkatan tersebut terlihat pada data analisis proses belajar maupun data analisis nilai siswa pasca kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 yang dapat dicermati dalam tabel-tabel berikut ini.
Tabel 4.1 Data Analisis Proses Belajar Siswa (Siklus 1)
No Nama Kriteria Penilaian Berdasarkan Pengamatan
Menyimak Materi Pemahaman Materi Mengerjakan Latihan Soal Evaluasi
1 Jergi R C B B A
2 Sudianto C C K C
3 Aping. G A C B B
4 Dian.P K K C C
5 Pahrul B B A A
6 Gani Yoga B B B B
7 Idah Fit B C A A
8 Mega Sil K C B B
9 M. Amin. S C C C B
10 M. Zaini B A A A
11 Ryandika C C C B
12 Sundari C C B B
13 Ungguh. P K K C C
14 W. Rahman A A A B
15 Yogi Eko B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Tabel 4.2 Data Analisis Proses Belajar Siswa (Siklus 2)
No Nama Kriteria Penilaian Berdasarkan Pengamatan
Pembelajaran remedial Mengerjakan Latihan Soal Evaluasi Simpulan
1 Jergi R B B B A
2 Sudianto B C C C
3 Aping. G A C B B
4 Dian.P B B C C
5 Pahrul B B A A
6 Gani Yoga A B A B
7 Idah Fit B C A A
8 Mega Sil A A B B
9 M. Amin. S C C C B
10 M. Zaini B A A A
11 Ryandika C A C B
12 Sundari A C B B
13 Ungguh. P B B C C
14 W. Rahman A B A B
15 Yogi Eko A B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Tabel 4.3 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 1)
No Nama Analisis Pengerjaan Soal Latihan (Tiap Nomor)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Jergi R C C B B A B B A
2 Sudianto C C C B B C K C
3 Aping. G A B A A B C B B
4 Dian.P K C C B C K C C
5 Pahrul B B B C B B A A
6 Gani Yoga B B A A A B B B
7 Idah Fit B A C C B C A A
8 Mega Sil K K C C A C B B
9 M. Amin. S C B B K C C C B
10 M. Zaini B B A C C A A A
11 Ryandika C K K C K C C B
12 Sundari C K C C B C B B
13 Ungguh. P K B B B A K C C
14 W. Rahman A B C C B A A B
15 Yogi Eko B B B C B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Tabel 4.4 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 2)
No Nama Analisis Pengerjaan Soal Latihan (Tiap Nomor)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Jergi R B A B B A B B A
2 Sudianto C A A B B C B C
3 Aping. G A A A A B A A B
4 Dian.P B C C B C B B C
5 Pahrul A B B C B B A A
6 Gani Yoga B B A A A B B B
7 Idah Fit B A C A B C A A
8 Mega Sil B B C A A C B B
9 M. Amin. S A B B B C C B B
10 M. Zaini B A A A C A A A
11 Ryandika A B C C C C C B
12 Sundari A A C C B B A B
13 Ungguh. P A B A B A A A C
14 W. Rahman A C C A B A A A
15 Yogi Eko C B A C B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
4.2 Pembahasan
Kegiatan proses penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan bidang studi matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 menurut hemat peneliti telah tepat mengenai sasaran.
Pada siklus pertama, kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru sedikit banyak telah mampu meningkatkan dan menggairahkan pengelolaan kegiatan pembelajaran dengan baik. Siswa dengan penuh perhatian mendengarkan uraian penjelasan materi pembelajaran bidang studi Matematika. Ada motivasi yang tinggi dari dalam diri siswa untuk lebih memperhatikan uraian penjelasan dari guru pengajar bidang studi Matematika karena rasa keingintahuan yang lebih untuk memahami lebih jauh tentang materi yang diuraikan oleh guru pengajar bidang studi Matematika.
Keaktifan dan kesungguhan siswa ini memiliki implementasi secara langsung pada kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa dalam penugasan kedua. Siswa di kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek secara garis besar telah mampu dan terampil dalam penyelesaian operasional penjumlahan. Pemahaman, kemampuan dan keterampilan siswa tersebut terdeskripsikan dengan jelas, khususnya pada kemampuan dan keterampilan operasional penjumlahan tersebut di atas dengan baik dan benar.
Kemampuan dan keterampilan siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek untuk memahami dan menguasai dengan benar materi pembelajaran yang disampaikan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika ini mengisyaratkan bahwa secara umum siswa di kelas dan sekolah tersebut telah menunjukkan peningkatan keterampilan operasional pembagian dengan hasil yang cukup baik.
Bertolak pada realitas selama kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi Matematika dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gamba sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini maka dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan oleh peneliti telah mencapai tujuan seperti yang diharapkan.
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Sesuai dan sejalan dengan materi dalam rumusan masalah dan tujuan penelitian, secara umum setelah melakukan kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini sebagai salah satu dari sekian banyak ragam dan bentuk alternatif metode pembelajaran bidang studi Matematika yang dapat meningkatkan keterampilan operasional penjumlahan berimplementasi langsung pada pada hasil prestasi belajar siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek ini kiranya telah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
Secara khusus, hasil penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan media gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini dapat disimpulkan :
1. Peningkatan prestasi belajar siswa tampak pada peran serta aktif siswa pada tahapan-tahapan siklus pembelajaran. Aktivitas-aktivitas siswa sepertui (1) mendengarkan dengan sungguh-sungguh uraian materi pelajaran dari guru; (2) mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan materi pembelajaran operasional penjumlahan (3) mengerjakan latihan soal, dan (5) melakukan evaluasi bersam untuk mendapatkan simpulan yang tepat dari kegiatan yang baru saja dilakukan merupakan suatu bentuk peran serta aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).
2. Peningkatan prestasi belajar siswa pada bidang studi Matematika juga terimplementasi secara lengkap pada hasil yang nyata seperti kemampuan dan keterampilan operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga dengan baik dan benar.
5.2 Saran
Berpijak pada pengalaman singkat peneliti dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK) penggunaan medua gambar sebagai alat peraga untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan pada bidang studi Matematika siswa kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek tahun pelajaran 2004/2005 ini, peneliti memiliki sedikit sumbangan saran kepada beberapa pihak, meliputi :
1. Kepada rekan-rekan sejawat yang ingin meningkatkan kemampuan dan keterampilan serta prestasi belajar siswanya, apabila situasi dan kondisi yang berkembang di sekolah atau lingkungan pendidikannya relatif mempunyai kesamaan dengan apa yang ada di sekolah peneliti, maka disarankan untuk menggunakan metode ini sebagai strategi pembelajaran.
2. Kepada kepal sekolah dan jajaran pengelola kebijakan sekolah, disarankan agar dapat memberikan fasilitas dalam sosialisasi implementasi metode pembelajaran ini, sejalan dengan signifikansi hasil penelitian yang telah peneliti lakukan.
3. Kepada orang tua dan wali murid diharapkan mempunyai kepedulian yang tinggi dan proaktif dengan proses pembelajaran yang sedang dilakukan di sekolah.
4. Kepada siswa itu sendiri agar senantiasa tidak berhenti sampai pada tahapan pembelajaran ini apabila menginginkan kemampuan dan keterampilannya senantiasa terasah dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar. 2001. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Grasindo.
Bahari, Abdullah dkk. 2000. Metode Belajar Anak Kreatif. Bandung: Dwi Pasha Press.
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Bidang Studi Matematika di Sekolah Dasar. Jakarta: Puskur, Balitbang, Depdiknas.
Markus, Alim. 1998. Manajemen Pendidikan Sekolah Terbuka: Representasi Sistem Pendidikan De-Birokratisasi. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Moesono, Djoko. 2000. Mari Berhitung, Belajar Matematika dengan Mudah. Jakarta: Pustaka Jaya Press.
Prianto, Ahmad Joko. 1995. Media Pembelajaran, Suatu Model Penunjang Prestasi Siswa. Dibacakan dalam Seminar Sehari Peran Media Belajar: Aplikasi dan Kreatifitas Guru tanggal 02 Agustus 1995 di Malang.
Rahman, Arief. 2000. Sistem Pendidikan Indonesia: Potret Realitas Manajemen yang Mengambang. Yogyakarta: Lentera.
Sukoco, Padmo. 2002. Penelitian Kualitatif: Metodologi, Aplikasi, dan Evaluasi. Jakarta: Gunung Agung.
Surakhmad, Iwanurrif. 1990. Mengembangkan Pendidikan di Lingkungan Keluarga. Yogyakarta: Yayasan Obor.
Suriah, N. 2003. Penelitian Tindakan. Malang: Bayu Media Publishing.
Suryaman, Maman. 1990. Kerangka Acuan Peningkatan Prestasi Belajar Siswa. Bandung: Aksara.
Wibawa, B. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat Tenaga Kependidikan.
Lampiran 1
Tabel 3.1 Pedoman Analisis Proses Belajar Siswa
Nama : …………………………………………
No. Absen : …………………………………………
No Kriteria Penilaian Keaktifan Siswa dalam KBM Prosentase Keaktifan Siswa dalam KBM
Ya Tidak
1. Siklus Pertama
1. Penyampaian sosialisasi awal
2. Penyampaian materi operasional penjumlahan dengan menggunakan media gambar sebagai alat peraga
3. Penugasan pertama yakni mengerjakan latihan soal
4. Evaluasi pertama
2. 1. Pengajaran remedial
2. Penugasan kedua yakni mengerjakan latihan soal
3. Evaluasi kedua
4. Simpulan
Lampiran 2
Tabel 4.1 Data Analisis Proses Belajar Siswa (Siklus 1)
No Nama Kriteria Penilaian Berdasarkan Pengamatan
Menyimak Materi Pemahaman Materi Mengerjakan Latihan Soal Evaluasi
1 Jergi R C B B A
2 Sudianto C C K C
3 Aping. G A C B B
4 Dian.P K K C C
5 Pahrul B B A A
6 Gani Yoga B B B B
7 Idah Fit B C A A
8 Mega Sil K C B B
9 M. Amin. S C C C B
10 M. Zaini B A A A
11 Ryandika C C C B
12 Sundari C C B B
13 Ungguh. P K K C C
14 W. Rahman A A A B
15 Yogi Eko B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Lampiran 3
Tabel 4.2 Data Analisis Proses Belajar Siswa (Siklus 2)
No Nama Kriteria Penilaian Berdasarkan Pengamatan
Pembelajaran remedial Mengerjakan Latihan Soal Evaluasi Simpulan
1 Jergi R B B B A
2 Sudianto B C C C
3 Aping. G A C B B
4 Dian.P B B C C
5 Pahrul B B A A
6 Gani Yoga A B A B
7 Idah Fit B C A A
8 Mega Sil A A B B
9 M. Amin. S C C C B
10 M. Zaini B A A A
11 Ryandika C A C B
12 Sundari A C B B
13 Ungguh. P B B C C
14 W. Rahman A B A B
15 Yogi Eko A B C B
Lampiran 3
Tabel 4.3 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 1)
No Nama Analisis Pengerjaan Soal Latihan (Tiap Nomor)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Jergi R C C B B A B B A
2 Sudianto C C C B B C K C
3 Aping. G A B A A B C B B
4 Dian.P K C C B C K C C
5 Pahrul B B B C B B A A
6 Gani Yoga B B A A A B B B
7 Idah Fit B A C C B C A A
8 Mega Sil K K C C A C B B
9 M. Amin. S C B B K C C C B
10 M. Zaini B B A C C A A A
11 Ryandika C K K C K C C B
12 Sundari C K C C B C B B
13 Ungguh. P K B B B A K C C
14 W. Rahman A B C C B A A B
15 Yogi Eko B B B C B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
Lampiran 4
Tabel 4.4 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 2)
No Nama Analisis Pengerjaan Soal Latihan (Tiap Nomor)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Jergi R B A B B A B B A
2 Sudianto C A A B B C B C
3 Aping. G A A A A B A A B
4 Dian.P B C C B C B B C
5 Pahrul A B B C B B A A
6 Gani Yoga B B A A A B B B
7 Idah Fit B A C A B C A A
8 Mega Sil B B C A A C B B
9 M. Amin. S A B B B C C B B
10 M. Zaini B A A A C A A A
11 Ryandika A B C C C C C B
12 Sundari A A C C B B A B
13 Ungguh. P A B A B A A A C
14 W. Rahman A C C A B A A A
15 Yogi Eko C B A C B B C B
Keterangan :
Penilaian diberikan dengan skor K = 0; C =1; B = 2; A = 3
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SEBAGAI ALAT PERAGA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN OPERASIONAL PENJUMLAHAN PADA BIDANG STUDI MATEMATIKA
SISWA KELAS I SDN DIWEK II KECAMATAN DIWEK
TAPEL 2004/2005
KARYA TULIS ILMIAH
Oleh :
MARJUTIN, A.Ma.Pd.
NIP. 130 418 366
PEMERINTAH KABUPATEN JOMBANG
DINAS PENDIDIKAN
SDN DIWEK II
LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul : Penggunaan Media Gambar Sebagai Alat Peraga Untuk Peningkatan Kemampuan Operasional Penjumlahan pada Bidang Studi Matematika Siswa Kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek Tapel 2004/2005
2. Identitas Peneliti :
Nama : MARJUTIN, A.Ma.Pd.
NIP : 130 418 366
Jabatan : Guru Pembina
3. Lokasi Penelitian : Kelas I SDN Diwek II Kecamatan Diwek
4. Waktu Penelitian : Januari s.d April 2005
5. Biaya Penelitian : Mandiri
Jombang, 20 Juni 2005
Mengetahui Mengetahui
Kepala UPT Dinas Pendidikan Kepala SDN Diwek II
Kecamatan Diwek Kecamatan Diwek
Drs. Eko Sukrispriono Kasmijatun, BA.
NIP. 130 742 677 NIP. 130 418 252
Kepala Dinas Pendidikan
Kabupaten Jombang
Drs. Gatot Kartonohadi, M.Si.
NIP. 010 056 057
KATA PENGANTAR
Puji syukur yang tiada terhingga penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya penulis dapat menyusun karya tulis ilmiah penelitian tindakan kelas. Hal ini tentunya tak lepas dari beberapa hal yaitu: bantuan, dorongan serta bimbingan yang sangat berguna bagi penulis maupun pihak lain. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Yth. Bapak Drs. Suyanto selaku Bupati Jombang yang berkenan dan meluangkan waktu membuka karya tulis ilmiah ini.
2. Yth. Bapak Drs. Gatot Kartonohadi, M.Si., selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang yang telah memberi kesempatan kepada penulis mengikuti Penelitian Tindakan Kelas ini.
3. Yth. Bapak Drs. Moch. Sukadi selaku Kepala Bidang Pengembangan Aparatur Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang.
4. Yth. Kasi Pengembangan Aparatur TK/SD yang telah banyak dan sabar membimbing penulisan karya tulis ini.
5. Bapak Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Diwek yang telah memberikan ijin mengikuti bimbingan penelitian tindakan kelas ini.
6. Bapak dan Ibu Guru SDN Diwek II Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang yang telah membantu mendapatkan data yang diperlukan dalam pembuatan karya tulis ini.
Penulis menyadari bahwa dalam Penelitian Tindakan Kelas ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu sumbang saran dari pembaca sangat diharapkan.
Akhirnya semoga hasil penelitian dapat berguna bagi semua pihak utamanya kepada lembaga pendidikan di Jombang.
Jombang, Juni 2005
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL i
LEMBAR PENGESAHAN ii
ABSTRAKSI iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL viii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 7
1.3 Tujuan Penelitian 7
1.4 Manfaat Penelitian 8
1.5 Ruang Lingkup Kegiatan Penelitian 10
1.6 Asumsi Dasar 11
1.7 Batasan Istilah 12
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pembelajaran Matematika di SD 14
2.2 Media Gambar Sebagai Alat Peraga 18
2.3 Indikasi Keberhasilan KBM 24
BAB III : METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian 26
3.2 Tempat Penelitian 30
3.3 Instrumen Penelitian 30
3.4 Proses Analisa Data 32
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian 36
4.2 Pembahasan 50
BAB V : PENUTUP
5.1 Simpulan 51
5.2 Saran 52
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Pedoman Analisis Proses Belajar Siswa 33
4.1 Data Analisis Nilai Siswa (Siklus 1) 44
4.2 Data Analisis Nilai Siswa Secara Individu (Siklus 2) 45
4.3 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 1) 46
4.4 Data Analisis Nilai Siswa (Evaluasi 2) 46
Popular Posts
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada negara-negara yang sudah berkembang ataupun yang sudah memahami stabilitas politik dan agama, p...
-
Web statis dan Dinamis HTML (Hypertext Markup Language) merupakan sebuah bahsa untuk menampilkan sesuatu. Dokumen HTML merupakan sebuah f...
-
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sekolah yang bertujuan memberikan bantua...
-
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat mempengaruhi ...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan, Standar Proses Pendidikan (SPP) memiliki peran ya...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Semua orang menyadari bahwa interaksi dan segala macam kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh tan...
-
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belum ada korelasi yang pasti antara tingkat ksejahteraan guru dengan peningkatkan kompet...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Analisa Situasi Saat Ini Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal ...
-
Pendidikan adalah Human Investment yang sangat strategis untuk mempersiapkan generasi akan datang. Untuk itu, semua pendidikan elemen pendi...
-
PERWAKAFAN DI INDONESIA DAN BEBERAPA PERMASALAHANNYA A. Latar Belakang Masalah Di antara persoalan penting yang ditekankan dalam Islam ad...
