Pages

 

Minggu, 09 Mei 2010

KTI Siswa Trampil

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan manusia dalam seluruh aspek kepribadian dan kehidupannya.
Pendidikan memiliki kekuatan (pengaruh) yang dinamis dalam kehidupan manusia di masa depan. Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki secara optimal, yaitu pengembangan potensi individu yang setinggi-tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya dimana dia hidup.
Permasalahannya, apakah yang dimaksud dengan pendidikan? Pendidikan merupakan suatu fenomena manusia yang sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu maka pendidikan dapat dilihat dan dijelaskan dari berbagai sudut pandang, seperti dari sudut pandang psikologis, sosialogi dan antropologi, ekonomi, politik, komunikasi dan sebagainya. Oleh sebab itu pula definisi yang dikemukakan oleh para ahli sangat beragam, sehingga cukup sulit menemukan definisi yang representatif, dapat diterima oleh seluruh pihak. Definisi yang dikemukakan oleh para ahli memiliki tekanan dan orientasi yang berbeda-beda karena landasan falsafah yang digunakannya berbeda-beda pula. Betapapun sulitnya mendefinisikan pendidikan, namun untuk keperluan aplikasinya tetap perlu memiliki pegangan tertentu, agar apa yang kita lakukan di sekolah memiliki pijakan yang kita yakin.
Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembang-kan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagmaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Merujuk pada permasalahan itulah maka penulis merumuskan visi dan misi kunci sukses menuju sekolah unggul di Jombang.
Visi : Menciptakan manusia yang berimtaq, berprestasi, disiplin, jujur serta mempunyai keterampilan dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator Visi :
1. Memiliki siswa yang cerdas (IQ, EQ, SQ)
2. Memiliki siswa yang terampil
3. Memiliki siswa yang berkepribadian
4. Memiliki layanan pendidikan yang prima dan profesional
5. Melaksanakan manajemen berbasis sekolah
Misi : Untuk merealisasikan visi tersebut, sekolah hendaklah :
1. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga setiap siswa berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimiliki.
2. Menumbuhkan penghayatan terhadap agama dan mengimplemen-tasikan dalam sikap dan perbuatan
3. Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran.
4. Menunjang dan memotivasi keahlian dan keterampilan siswa sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki.
5. Membina hubungan yang baik dengan komite, perangkat desa, masyarakat dan seluruh warga sekolah.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara meningkatkan kualitas pendidikan untuk menuju sekolah unggul ?
2. Bagaimana cara meningkatkan pencapaian prestasi siswa secara akademik maupun non akademik ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui cara meningkatkan kualitas pendidikan menuju sekolah unggul.
2. Untuk mengetahui cara meningkatkan pencapaian prestasi siswa secara akademik maupun non akademik.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Meningkatkan Kualitas Pendidikan
Yang dimaksud kualitas pendidikan adalah mutu dari sekolah yang dapat dilihat dari hasil lulusan siswa sekolah tersebut. Salah satu cara meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan cara meningkatkan mutu atau kualitas guru, yaitu guru harus memiliki kemampuan profesional dalam berbagai kapasitasnya sebagai pendidik. Studi Balitbang Dikbud (1992) menunjukkan bahwa guru yang bermutu dapat diukur dengan lima faktor utama, yaitu: (1) kemampuan profesional, (2) upaya profesional, (3) kesesuaian waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional, (4) kesesuaian antara keahlian dengan pekerjaannya, dan (5) kesejahteraan yang memadai.
a) Kemampuan profesional guru (professional capacity) terdiri dari kemampuan intelegensi, sikap, dan prestasinya dalam bekerja. Dalam berbagai penelitian, kemampuan profesional guru sering ditunjukkan dengan tinggi rendahnya hasil pengukuran kemampuan menguasai materi pelajaran yang diajarkan. Secara sederhana, kemampuan profesional ini bisa ditunjukkan dengan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan tentang materi pelajaran yang diajarkan termasuk upaya untuk selalu memperkaya dan meremajakan pengetahuan tersebut.
b) Upaya profesional guru (professional efforts) adalah upaya seorang guru untuk mentransformasikan kemampuan profesional yang dimilikinya ke dalam proses belajar mengajar. Dalam beberapa peneliti, upaya profesional guru tersebut ditunjukkan oleh penguasaan keahlian mengajar baik keahlian dalam menguasai materi pelajaran, penggunaan bahan-bahan pengajaran, pengelolaan kegiatan belajar murid, maupun upaya untuk selalu memperkaya serta meremajakan kemampuannya dalam mengembangkan program-program pengajaran.
c) Waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional (teacher’s time) menunjukkan intensitas waktu yang dipergunakan dari seorang guru untuk tugas-tugas profesionalitasnya. Teacher’s time ini merupakan salah satu indikator penting dari mutu guru, seperti ditunjukkan oleh konsep “waktu belajar” (time on task) yang diukur dari intensitas belajar siswa secara perorangan. Time on task ini telah ditemukan oleh berbagai penelitian secara konsisten sebagai prediktor terbaik dari mutu hasil belajar peserta didik.
d) Kesesuaian antara keahlian dengan pekerjaannya (link and match). Guru yang bermutu ialah mereka yang dapat mendukung proses belajar mengajar sampai tuntas dan benar. Untuk itu diperlukan keahlian, baik dalam menguasai secara tuntas suatu disiplin ilmu pengetahuan maupun metodologi dan pendekatan belajar mengajar. Oleh karena itu jika guru mengajarkan mata pelajaran yang bukan keahliannya, dapat dipastikan bahwa guru tersebut tidak dapat menciptakan proses pembelajaran yang bermutu. Dalam kaitannya dengan kebijaksanaan Link and Match, ketiga faktor pertama yang diperhitungkan menentukan guru yang bermutu tersebut belumlah mencukupi. Kesesuaian antara keahlian dengan pekerjaannya ini penting dengan asumsi bahwa guru yang dipersiapkan untuk mengajar suatu bidang studi dianggap bermutu jika guru tersebut mengajar bidang studi yang bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, maka kesesuaian guru mengajar dengan bidang studi yang ditekuninya di LPTK merupakan prasyarat yang mutlak untuk menilai seorang guru dikatakan bermutu dan profesional.
e) Penghasilan dan kesejahteraan yang dapat memelihara dan memacu peningkatan profesionalisasi guru. Seorang profesional harus mampu mencurahkan sebagian besar perhatiannya terhadap kegiatan profesional-nya, seperti peningkatan keahlian, memperkaya pengetahuan, serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas pekerjaan. Upaya-upaya profesional ini perlu didukung oleh penghasilan dan kesejahteraan mereka yang memadai sebagai imbalan terhadap seorang profesional. Penghasilan atau kesejahteraan yang layak ini mutlak diperlukan oleh seorang profesional karena hasil kerja mereka dituntut kualitasnya oleh pihak-pihak yang dilayani.

2.2 Meningkatkan Pencapaian Potensi Siswa Secara Akademik Maupun Non-Akademik
Sekolah harus mampu memberikan layanan yang sebaik-baiknya dengan menyerap kebutuhan dan keinginan peserta didik dalam meningkatkan mutu atau prestasi. Upaya lembaga untuk meningkatkan mutu dengan berdasar kepada keinginan atau masukan dari pelanggan disebut Quality Function Deployment (QFD). Oleh karena itu, lembaga pendidikan memiliki kewajiban menyediakan metode belajar yang bervariasi bagi peserta didiknya, dan lembaga juga harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengetahui gaya belajar, serta ketersediaan fasilitas yang memungkinkan terakomodasinya metode mengajar guru dan gaya belajar siswa.
Dalam meningkatkan mutu pendidikan ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, antara lain:
1. Siswa, meliputi :
a. Kemampuan
b. Lingkungan, termasuk lingkungan sosial ekonomi, budaya dan geografis.
c. Intelegensi, kepribadian, bakat dan minat
2. Guru
a. Kemampuan
b. Latar belakang pendidikan
c. Pengalaman kerja
d. Beban mengajar
e. Kondisi sosial ekonomi
f. Motivasi kerja
g. Komitmen terhadap tugas
h. Disiplin
i. Kreatifitas

3. Kurikulum
a. Landasan program dan pengembangan
b. Garis-garis besar program pengajaran
c. Metode
d. Sarana
e. Teknik penilaian
4. Sarana dan Prasarana Pendidikan
a. Alat peraga / alat praktik
b. Laboratorium
c. Perpustakaan
d. Ruang keterampilan
e. Ruang UKS
f. Ruang Olahraga
g. Ruang kantor
h. Ruang BP
i. Gedung dan perabot
5. Pengelolaan Sekolah
a. Pengelolaan kelas
b. Pengelolaan guru
c. Pengelolaan siswa
d. Pengelolaan sarana dan prasarana
e. Peningkatan tata tertib
f. Kepemimpinan
6. Proses Belajar Mengajar
a. Penampilan guru
b. Penguasaan kurikulum
c. Penggunaan metode mengajar
d. Pendayagunaan alat
e. Penyelenggaraan PBM
f. Pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler

7. Pengelolaan Dana
a. Perencanaan anggaran
b. Penggunaan dana
c. Laporan pertanggungjawaban
d. Pengawasan
8. Supervisi dan Monitoring
a. Kepala sekolah sebagai supervisor di sekolah
b. Pengawas sekolah sebagai supervisor
c. Pembina lainnya
9. Hubungan Sekolah dengan Lingkungannya
a. Hubungan sekolah dengan orang tua siswa
b. Hubungan sekolah dengan instansi pemerintah
c. Hubungan sekolah dengan dunia usaha dan tokoh masyarakat
d. Hubungan sekolah dengan lembaga pendidikan lainnya
Ketika aspek-aspek pengelolaan lembaga persekolahan tersebut di atas dapat dijalankan dan diarahkan ke sebuah mutu yang tinggi, maka keberhasilan dari pencapaian mutu tersebut harus merupakan integrasi dari semua keinginan dan partisipasi stakeholder (semua yang berkepentingan) dalam pencapaian hasil akhirnya. Adapun indikator-indikator keberhasilannya harus dapat menjawab hal-hal di bawah ini.
1. Spesifikasi lulusan/produk (perlu melihat persyaratan konsumen yang kemudian diterjemahkan ke dalam layanan pembelajaran yang inovatif).
2. Mutu layanan yang baik (memperhatikan kondisi peserta didik, kecerdasan, kesehatan, minat dan bakat, suasana emosional, dan motivasi belajar).
3. Kompetensi profesional guru.
4. Ketersediaan fasilitas belajar
5. Mutu kehidupan dan budaya organisasi
6. Ketertiban pengelolaan dana pendidikan
7. Kepedulian masyarakat (dewan sekolah)
8. Pembedayaan manajemen sekolah (school based management)
Indikator-indikator di atas akan memberikan implikasi kepada hasil pendidikan yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Peserta didik menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas belajar sesuai dengan tujuan dan sasaran pendidikan sehingga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.
2. Hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan lingkungan khususnya dunia kerja
3. Hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sehingga dapat melakukan sesuatu untuk keperluan hidupnya dalam rangka penyesuaian diri dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat.
4. Hasil pendidikan tidak mengakibatkan adanya pemborosan ekonomi maupun pemborosan sosial.
5. Hasil pendidikan dapat menghasilkan sesuatu yang produktif
6. Hasil pendidikan dapat dipertanggungjawabkan dari segi kemampuannya.
7. Hasil pendidikan memberikan sesuatu yang memenuhi spesifikasi dan bernilai tinggi sehingga mengakibatkan justifikasi uang yang dikeluarkan pemakainya.
8. Hasil pendidikan dapat merespon tuntutan kebutuhan masyarakat.
9. Hasil pendidikan dapat dimanfaatkan dalam jangka yang relatif lama.
10. Hasil pendidikan dapat memberikan sesuatu yang menarik dan berseni.
Mengacu dari beberapa hal yang penulis kemukakan, maka penulis mengembangkan program kegiatan mulai jangka panjang, menengah dan jangka pendek sebagai berikut :
a. Pada tahun 2014 memiliki output siswa dengan rata-rata nilai UAN pada angka 8,00
1. Mengadakan bimbingan belajar / tambahan pelajaran.
2. Mengadakan penilaian perkembangan siswa secara berkala.
3. Memberikan tugas-tugas sesuai dengan pembelajaran yang berlangsung.
4. Mengikutsertakan anak pada setiap event lomba mata pelajaran, try-out dan sejenisnya.
5. Memberikan laporan secara berkala kepada orang tua tentang perkembangan kemajuan belajar siswa.
6. Secara internal menciptakan persaingan belajar dengan memberikan hadiah sebagai motivasi.
7. Memberikan penghargaan bagi ana-naka yang berprestasi.
8. Mejalin kerjasama dengan lembaga pendidikan baik di dalam maupun dalam satu tingkat kecamatan untuk menunjang peningkatan prestasi siswa.
b. Pada tahun 2012 memiliki satu tim kesenian yang handal serta mampu memenuhi kebutuhan berkesenian masyarakat.
1. Mengadakan kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki siswa.
2. Menyediakan fasilitas bagi penyelenggaraan kegiatan kesenian.
3. Mengadakan pementasan kesenian secara berkala sebagai bentuk evaluasi hasil ekstra utamanya pada setiap akhir tahun.
4. Mengirim tim kesenian pada Porseni.
5. Mengirim peserta pada setiap event lomba kesenian
6. Memberikan penghargaan pada siswa yang berprestasi di bidang kesenian
7. Mendatangkan pelatih kesenian
8. Menjalin kerjasama dengan instansi yang menangani kesenian dan kebudayaan.
c. Pada tahun 2012 memiliki tim olahraga yang handal serta mampu meraih prestasi di tingkat propinsi
1. Mengadakan pembinaan olahraga dalam bentuk ekstra.
2. Mengadakan pertandingan antar sekolah antar gugus pada kegiatan tengah semester.
3. Memberikan penghargaan pada siswa yang memiliki prestasi olahraga minimal di tingkat kecamatan.
4. Memfasilitasi siswa untuk masuk pada salah satu klub olahraga.
5. Memprogramkan penambahan sarana olahraga di sekolah pada setiap penyusunan RAPBS.
6. Mendatangkan pelatih olahraga
7. Menjalin kerjasama dengan klub olahraga yang dapat mendukung peningkatan prestasi siswa.
d. Pada tahun 2011 memiliki produk unggulan sekolah yang mampu menopang sumber dana sekolah
1. Mengadakan kegiatan ekstra keterampilan yang menuju pada penyediaan produk unggulan.
2. Mengadakan pameran produk keterampilan secara berkala dengan melibatkan orang tua siswa.
3. Membuat showroom produk unggulan sekolah.
4. Mengadakan promosi bagi profuk sekolah ke luar sekolah.
5. Memberikan bagi hasil atas kerja produk yang dihasilkan siswa.
e. Pada tahun 2011 memiliki tim sekolah yang handal dalam mendukung program-program sekolah.
1. Membentuk komite sekolah
2. Mengadakan pertemuan secara rutin dengan komite sekolah
3. Mengirimkan tim sekolah pada program pengembangan sumber daya baik melalui seminar, lokakarya maupun pelatihan-pelatihan.
4. Mengadakan evaluasi kinerja tim sekolah secara berkala dan berkelanjutan.
5. Menciptakan indikator keberhasilan yang disepakati oleh tim sekolah.

f. Pada tahun 2014 memiliki manajemen sekolah yang memegang teguh komitmen keterbukaan, akuntabilitas.
1. Menata administrasi sekolah sesuai dengan pedoman administrasi.
2. Mengadakan rapat koordinasi untuk membina personil.
3. Mengadakan evaluasi secara berkala
4. Menentukan indikator kinerja atas dasar akuntabilitas instansi pemerintah (LAKIP).
5. Menentukan tindak lanjut atas hasil evaluasi.
6. Memiliki quality control management yang dibakukan oleh sekolah.
g. Pada tahun 2014 memiliki sarana dan prasarana yang memadai guna mendukung proses pembelajaran, ekstrakurikuler, kesenian dan keterampilan
1. Memprogramkan penambahan sarana pada setiap penyusunan anggaran
2. Menghimpun peran serta masyarakat dalam menyediakan sarana dan prasarana sekolah.
3. Merawat sarana prasarana yang telah dimiliki serta sedapat mungkin menyempurnakannya secara fungsional.
4. Menjalin kerjasama dengan dinas dan instansi lain untuk pengembangan peralatan yang dimiliki.
h. Pada tahun 2014 memiliki sumber daya manusia yang mampu menjadi guru pemandu untuk tiap bidang studi dalam satu gugus sekolah
1. Mengefektifkan keikutsertaan guru dalam kegiatan KKG.
2. Memfasilitasi guru dalam meningkatkan kualifikasi pendidikan.
3. Mengikutsertakan guru dalam setiap pelatihan, workshop dan lokakarya.
4. Mengadakan kunjungan antara guru, gugus untuk sharing pemahaman dan pengetahuan.
5. Memberi penghargaan kepada guru atau karyawan yang berprestasi.
6. Memprogramkan penambahan pustaka secara berkala sebagai referensi guru.
7. Berlangganan koran atau majalah.
8. Memfasilitasi guru dalam mengadakan penelitian di sekolah (Penelitian Tindakan Kelas)
9. Berupaya meningkatkan kesejahteraan guru melalui upaya-upaya legal formal dengan dukungan stakeholder.
i. Memiliki siswa-siswi yang berakhlakul karimah serta mampu menjadi teladan bagi masyarakat
1. Melaksanakan pendidikan budi pekerti, baik terintegrasi dengan mata pelajaran atau secara mandiri.
2. Membiasakan anak didik dengan perilaku yang berbudi dalam setiap kesempatan yang dimiliki.
3. Mengkomunikasikan pendidikan budi pekerti dengan orang tua untuk bersama-sama terlibat dalam penanganan peningkatan budi pekerti anak.
4. Mengefektifkan pengawasan terpadu antara orang tua, sekolah, lingkungan terhadap perilaku anak baik di dalam maupun di luar sekolah.
5. Membuat aturan budi pekerti siswa yang harus dilaksanakan baik di sekolah maupun di rumah.
6. Membuat rumusan sanksi bagi siswa yang melanggar disiplin maupun budi pekerti baik di sekolah maupun di rumah.
Sasaran yang ingin dicapai dalam rangka merealisasi tujuan adalah :
1. Siswa-siswi yang memiliki etos belajar yang tinggi dengan kemampuan menggali pengetahuan secara mandiri yang didukung sumber belajar yang cukup.
2. Siswa-siswi yang mau dan mampu menunjukkan dan mengembangkan potensi diri baik dalam hal berkesenian dan berolahraga serta keterampilan dengan didukung pembina yang profesional dan pembinaan yang intensif.
3. Stakeholder yang berpikiran progresif serta memiliki kesempatan untuk bersama-sama memajukan sekolah.
4. Sumber daya manusia (guru dan karyawan) yang memiliki dedikasi, loyalitas yang tangguh, memiliki komitmen terhadap tugas dan tanggung jawabnya.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Salah satu indikator keberhasilan pencapaian sekolah unggul adalah adanya kesesuaian produk atau hasil kerja dengan kebutuhan yang diinginkan oleh masyarakat, kualitas yang dicapai tidak dapat ditentukan oleh lembaga secara sepihak, melainkan ada pengakuan bahwa hasil kerja lembaga cocok dengan kebutuhan dan keinginan siswa, orang tua siswa, guru dan masyarakat.

3.2 Saran
Salah satu kunci sukses sekolah unggul adalah peningkatan mutu pendidikan sehingga sekolah memiliki keunggulan kompetitif. Faktor penting yang mempengaruhi mutu pendidikan adalah guru. Jadi upaya peningkatan mutu (kualitas) guru merupakan upaya strategis yang harus dilakukan. Guru dapat dianggap bermutu jika guru memiliki kemampuan profesional dalam berbagai kapasitasnya sebagai pendidik.
Diperlukan juga pengelola sekolah yang mempunyai kemampuan dalam mengidentifikasikan berbagai faktor internal sekolah sebagai potensi dan faktor eksternal, karena kemampuan ini sangat dibutuhkan.



DAFTAR PUSTAKA



1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2003. Bandung: Citra Umbara.
2. Fattah, Nanang. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Universitas Terbuka
3. Rencana Strategis Sekolah
4. Winata Putra, Udin. S. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
5. Mikarsa, Hera Lestari., dkk. 2002. Pendidikan Anak SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Lanjuuutt..

Manajemen Pendidikan

1 comments
BAB I
PENDAHULUAN


A. Analisa Situasi Saat Ini
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal 3 menyebutkan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Walaupun pemerintah telah menerapkan kebijakan-kebijakan, sampai sekarang masih dirasakan bahwa masalah yang dihadapi adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang pendidikan, khususnya dalam bidang pendidikan dasar dan menengah.
Lanjuuutt..

KTI UUD Pendidikan

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN


A. Permasalahan
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 disebutkan bahwa semua warga Indonesia berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran yang layak. Untuk itu pemerintah berupaya menerapkan kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan standar nasional, sehingga pemerintah memberikan bantuan operasional sekolah (BOS) kepada sekolah-sekolah dasar dan sekolah-sekolah menengah pertama, agar anak Indonesia bisa bersekolah walaupun mereka dari kalangan tidak mampu.
Dalam Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, Nomor 20 Tahun 2003 dalam Bab I pasal I juga menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
Lanjuuutt..

Asal danau Tobah

0 comments
ASAL USUL DANAU TOBA

Pada suatu pagi, Kokar mengangkat bubunya dari sebuah parit. Alangkah senang hatinya ketika didapatnya seekor dekke (ikan) yang besar. Ikan itu ditaruhnya dalam kolam disamping rumah, lalu ia pergi ke sawah.

Setelah mengerjakan sawah ladangnya, kokar terkejut karena melihat seorang gadis yang sangat cantik berdiri didekat kolam ikannya.

“Jangan takut dan heran, wahai Kokar! Saya adalah seorang putri raja jin penghuni pegunungan disekitar sini. Kau pemuda yang rajin dan baik budi, maka saya disuruh menemuimu dan mendampingimu sebagai seorang istri,” kata putri yang jelita itu.

Belum sempat kokar berkata, putri jin itu melanjutkan kata-katanya.
“Tetapi ada satu syarat yang harus kau penuhi, Kokar. Syarat itu adalah janji yang tidak boleh dilanggar. Bila kita nanti dikaruniai anak, jika itu nakal jangan sekali-kali memarahi dan mengatakan anak dekke! Apabila engkau melanggar, kita akan berpisah untuk selamanya. Engkau dan anak kita akan binasa,” kata putri cantik itu.

Beberapa hari kemudian dilaksanakanlah pernikahan Kokar dengan putri tersebut secara meriah sesuai adapt daerah itu. Setahun kemudian istri Kokar melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samosir. Anaknya baik dan lincah. Akan tetapi, semakin besar sikapnya bertambah nakal.

Suatu hari, Kokar pulang dari sawah. Sehabis membasuh kaki, tangan, dan muka Kokar menuju keruang makan. Ia terkejut karena hidangan di meja telah habis, tentu dimakan oleh Samosir, putranya sendiri. Timbullah amarah Kokar kepada anaknya. Dicarinya Samosir. Ketika hendak tertangkap, Samosir tertawa terbahak-bahak. Kokar semakin marah, maka ia lupa janjinya kepada istrinya dengan berkata, “Pantaslah kamu semakin nakal kepada orang tua karena kamu memang anak dekke (ikan)!”.

Mendengar kata-kata ayahnya, Samosir lari mencari ibunya dan mengatakan seperti ayahnya. Mendengar kata anaknya, ibu Samosir gemetar sambil berkata. “O……., anakku! Tiba juga saat yang mengetikan. Ayahmu telah lupa pada janjinya. Sekarang pergilah ke puncak gunung. Karena kenakalanmu, kita semua harus berpisah. Tempat ini akan dilanda banjir besar, anakku!”

Sebentar kemudian keadaan berubah, gelap. Halilintar menggelegar dan kilat bersautan. Hujan turun tiada hentinya, Banjir segera terjadi. Lembah yang subur digenangi air. Semua penduduk binasa termasuk Kokar. Samosir yang di puncak gunung dicekam ketakutan hingga meninggal di puncak gunung tersebut.

Putri jin kembali ke asalnya. Lembah subur menjadi telaga yang disebut Danau Toba. Gunung tempat Samosir meninggal disebut Pulau Samosir yang ada di tengah Danau Toba.

Unsur intrinsik cerita “Asal Usul Danau Toba”.
1. Tema: Kokar lupa akan janjinya kepada istrinya.
Buki : “……..Kokar semakin marah, maka ia lupa janjinya kepada istrinya dengan berkata, “Pantaslah kamu semakin nakal kepada orang tua karena kamu memang anak dekke (ikan)!”.

2. Penokohan dan perwatakan
a) Tokoh utama → Kokar : Rajin dan pemarah, pelupa.
Bukti : “……Kau adalah pemuda yang rajin dan baik budi, maka saya disuruh menemuimu dan mendampingimu sebagai seorang istri,” (paragraph 2)
→ “……..Timbullah amarah Kokar kepada anaknya. Dicarinya Samosir. Ketika hendak tertangkap, Samosir tertawa terbahak-bahak. Kokar semakin marah, maka ia lupa janjinya kepada istrinya”. (Paragraf 6)
→ Ayahmu telah lupa pada janjinya. Sekarang pergilah ke puncak gunung.” (Paragraf 7)
b) Tokoh sampingan → Samosir : baik dan lincah menjadi nakal.
Bukti : “Setahun kemudian istri kokar melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samosir. Anaknya baik dan lincah. Akan tetapi, semakin besar sikapnya bertambah nakal.” (Paragraf 5).
→ Ayahmu telah lupa pada janjinya. Sekarang pergilah ke puncak gunung.” (Paragraf 7)
→ Karena kenakalanmu, kita semua harus berpisah. Tempat ini akan dilanda banjir besar, anakku!” (Paragraf 7)

3. Alur/Plot : maju
a) Pengenalan
Bukti : Pada suatu pagi, kokar mengangkat bubunya dari sebuah parit. Alangkah senang hatinya ketika didapatnya seekor dekke (ikan) yang besar. Ikan itu ditaruhnya dalam kolam disamping rumah, lalu ia pergi ke sawah.
→ Setelah mengerjakan sawah ladangnya, kokar terkejut karena melihat seorang gadis yang sangat cantik berdiri didekat kolam ikannya.
→ “Jangan takut dan heran, wahai kokar! Saya adalah seorang putrid raja jin penghuni pegunungan disekitar sini. Kau pemuda yang rajin dan baik budi, maka saya disuruh menemuimu dan mendampingimu sebagai seorang istri,” kata putri yang jelita itu.
→ Belum sempat kokar berkata, putri jin itu melanjutkan kata-katanya.
“Tetapi ada satu syarat yang harus kau penuhi, kokar. Syarat itu adalah janji yang tidak boleh dilanggar. Bila kita nanti dikaruniai anak, jika itu nakal jangan sekali-kali memarahi dan mengatakan anak dekke! Apabila engkau melanggar, kita akan berpisah untuk selamanya. Engkau dan anak kita akan binasa,” kata putri cantik itu.

b) Muncul masalah
Bukti : Suatu hari, Kokar pulang dari sawah. Sehabis membasuh kaki, tangan, dan muka Kokar menuju keruang makan. Ia terkejut karena hidangan di meja telah habis, tentu dimakan oleh Samosir, putranya sendiri. Timbullah amarah Kokar kepada anaknya. Dicarinya Samosir. Ketika hendak tertangkap, Samosir tertawa terbahak-bahak. Kokar semakin marah, maka ia lupa janjinya kepada istrinya dengan berkata, “Pantaslah kamu semakin nakal kepada orang tua karena kamu memang anak dekke (ikan)!”.
→ Mendengar kata-kata ayahnya, Samosir lahi mencari ibunya dan mengatakan seperti ayahnya. Mendengar kata anaknya, ibu Samosir gemetar sambil berkata. “O……., anakku! Tiba juga saat yang mengetikan. Ayahmu telah lupa pada janjinya. Sekarang pergilah ke puncak gunung. Karena kenakalanmu, kita semua harus berpisah. Tempat ini akan dilanda banjir besar, anakku!”
→ Sebentar kemudian keadaan berubah, gelap. Halilintar menggelegar dan kilat bersautan. Hujan turun tiada hentinya, Banjir segera terjadi. Lembah yang subur digenangi air. Semua penduduk binasa termasuk Kokar. Samosir yang di puncak gunung dicekam ketakutan hingga meninggal di puncak gunung tersebut.

c) Keadaan mulai memuncak
Bukti : Sebentar kemudian keadaan berubah, gelap. Halilintar menggelegar dan kilat bersautan. Hujan turun tiada hentinya, Banjir segera terjadi. Lembah yang subur digenangi air. Semua penduduk binasa termasuk Kokar. Samosir yang di puncak gunung dicekam ketakutan hingga meninggal di puncak gunung tersebut.

d) Akhir
Bukti : Putri jin kembali ke asalnya. Lembah subur menjadi telaga yang disebut Danau Toba. Gunung tempat Samosir meninggal disebut Pulau Samosir yang ada di tengah Danau Toba.

4. Latar
a) Latar waktu : siang hari
b) Latar tempat : Rumah/sawah
c) Latar suasana : Mengerikan

5. Amanat
“ Jangan sembarang janji kepada orang lain kalau kita tidak mampu menjaganya”.


Unsur Ekstrinsik
1. Nilai moral → Orang yang rutin dan baik pasti akan membuahkan hasil yang bagus.
2. Nilai kebudayaan → Sebuah pernikahan dilaksanakan sesuai adat daerah itu.
Lanjuuutt..

PTK PAI

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan, Standar Proses Pendidikan (SPP) memiliki peran yang sangat penting. Oleh sebab bagaimanapun idealnya standar isi dan standar lulusan standar-standar lainnya, tanpa didukung oleh standar proses yang memadai, maka standar-atandar tersebut tidak akan memiliki nilai apa-apa. Dalam konteks itulah standar proses pendidikan merupakan hal yang harus mendapat perhatian bagi pemerintah. (PP No. 19 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 Ayat 6).
Dalam implementasi SPP, guru merupakan komponen yang sangat penting, sebab keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan sangat tergantung pada guru sebagai ujung tombak. Oleh karena itulah upaya peningkatan kualitas pendidikan seharusnya dimulai dari pembenahan kemampuan guru. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki guru adalah bagaimana merancang suatu strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai, karena kita yakin tidak semua tujuan bisa dicapai oleh hanya satu strategi tertentu.
J. R. Davis (dalam Sanjaya, 2006:124) mengartikan strategi sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal Jadi, dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Menetapkan strategi pembelajaran yang optimal untuk mendorong prakarsa belajar berdasarkan kendali karakteristik tujuan pembelajaran menjadi perhatian penting guru untuk memanipulasi strategi pembelajaran, agar si belajar dapat belajar lebih mudah. Strategi pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning-CTL) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang banyak dibicarakan orang.
Sanjaya (2006:253) menjelaskan bahwa CTL merupakan strategi yang melibatkan siswa secara penuh dalam proses pembelajaran. Siswa didorong untuk beraktivitas mempelajari materi pelajaran sesuai dengan topik yang akan dipelajarinya. Belajar dalam konteks CTL bukan hanya sekedar mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara langsung. Melalui proses berpengalaman itu diharapkan perkembangan siswa terjadi secara utuh, yang tidak hanya berkembang dalam aspek kognitif saja, tetapi juga aspek afektif dan juga psikomotor. Belajar melalui CTL diharapkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang dipelajarinya.
Berdasarkan hal di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap “Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Memahami Pembelajaran PAI Kelas VII di SMP Negeri 1 Pacitan”.

B. Identifikasi Masalah
Dari hasil studi pendahuluan dan diskusi maka dapat teridentifikasi beberapa masalah yang melatar belakangi dilakukannya penelitian tindakan ini, meliputi:
1. Rendahnya pemahaman siswa terhadap penguasaan materi pelajaran PAI khusunya pokok bahasan iman kepada Allah SWT.
2. Rendahnya kemampuan siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat dalam mata pelajaran PAI.
3. Rendahnya kemampuan siswa dalam menunjukkan perilaku siswa sebgai cermin keyakinan sifat-sifat Allah SWT.

C. Pembatasan dan Rumusan Masalah
Penelitian tindakan kelas ini hanya dibatasi pada penerapan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning-CTL) dalam pembelajaran PAI Kelas VII A SMP Negeri 1 Pacitan pada semester 1 tahun pelajaran 2008/2009. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah langkah pembelajaran kontekstual pada pembelajaran PAI agar diperoleh hasil belajar yang sesuai tujuan?
2. Bagaimanakah motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran PAI dengan menggunakan pendekatan kontekstual?

D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendiskripsikan langkah pembelajaran kontekstual pada pembelajaran PAI untuk memperoleh hasil belajar yang sesuai tujuan.
2. Mendiskripsikan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran PAI yang menggunakan pendekatan kontekstual.
E. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
1. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan guna peningkatan mutu pendidikan.
2. Bagi guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas dan peningkatan profesionalisme guru.
3. Dalam bidang ilmu, hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah kepustakaan yang berkaitan dengan kajian pembelajaran Pkn, dan diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk bahan perbandingan dalam penelitian sejenis.

















BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A. Strategi Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Contextual Teaching and Learning-CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari atau menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Dari asumsi dan latar belakang yang mendasarinya, maka terdapat beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam konteks CTL.
a. Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Oleh karena itulah, semakin banyak pengalaman maka akan semakin banyak pula pengetahuan yang mereka peroleh.
b. Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimilki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia, seperti pola pikir, pola bertindak, kemampuan memecahkan persoalan termasuk penampilan atau performance seseorang. Semakin pengetahuan seseorang luas dan mendalam, maka akan semakin efektif dalam berpikir.
c. Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intelektual akan tetapi juga mental dan emosi. Belajar secara kontekstual adalah belajar bagaimana anak menghadapi setiap persoalan.
d. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari yang deserhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu, belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa.
e. Belajar pada hakekatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (real world learning).
Setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar. Perbedaan yang dimiliki siswa tersebut oleh Bobbi Deporter (1992) dinamakan sebagai unsur modalitas belajar. Menurutnya ada tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu tipe visual, auditorial dan kinestetis. Tipe visual adalah gaya belajar dengan cara melihat, artinya siswa akan lebih cepat belajar dengan cara menggunakan indra penglihatannya. Tipe auditorial adalah tipe belajar dengan cara menggunakan alat pendengarannya; sedangkan tipe kinestetis adalah tipe belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh.
Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paolu Freire sebagai sistem penindasan.
Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL.
a. Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasaan pengalaman yang dimiliknya. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sedang berada dalam tahap-tahap perkembangan. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau “penguasa” yang memaksakan kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
b. Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan, kegemaran anaka adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru. Oleh karena itulah belajar bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap persoalan yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.
c. Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui. Dengan demikian, peran guru adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaiatan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.
d. Belajar bagi anak adalah proses menyempurnakan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema baru (akomodasi), dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.
Sesuai dengan asumsi yang mendasarinya, bahwa pengetahuan itu diperoleh anak dari informasi yang diberikan oleh orang lain termasuk guru, akan tetapi dari proses menemukan dan mengkonstruksinya sendiri, maka guru harus menghindari mengajar sebagai proses penyampaian informasi. Guru perlu memandang siswa sebagai subjek belajar dengan segala keunikannya. Siswa adalah organisme yang aktif yang memiliki potensi untuk membangun pengetahuannya sendiri, kalaupun guru memberikan informasi kepada siswa, guru harus memberikan kesempatan untuk menggali informasi itu agar lebih bermakna untuk kehidupan mereka.
Menurut Sanjaya (2006:262), CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. Seringkali asas ini disebut juga komponen-komponen CTL. Selanjutnya ketujuh asas ini dijelaskan di bawah ini.
a) Kontruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyususn pengatahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut pandangan konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut. Kedua faktor itu sama pentingnya. Dengan demikian pengetahuan itu tidak bersifat statis tetapi bersifat dinamis, tergantung individu yang melihat dan mengkonstruksinya. Lebih jauh Jean Piaget (1971) menyatakan hakikat pengetahuan sebagai berikut:
a. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, akan tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan malalui kegiatan subjek.
b. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.
c. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsepsi itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.
Asumsi itu yang kemudian melandasi CTL. Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman. Sebab pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun oleh individu. Pengetahuan yang hanya diberikan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Atas dasar asumsi yang mendasarinya itulah, maka penerapan asas konstruktivisme dalam pembelajaran melalui CTL, siswa didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata.
b) Inkuiri
Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengatahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah, diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intelektual, mental, emosional, maupun pribadinya. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah yaitu:
a. Merumuskan masalah.
b. Mengajukan hipotesis.
c. Mengumpulkan data.
d. Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan.
e. Membuat kesimpulan.
Asas menemukan seperti yang digambarkan diatas, merupakan asa yang penting dalam pembelajaran CTL. Melalui proses berpikir yang sistematis seperti di atas, diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis, yang kesemuanya itu diperlukan sebagai dasar pembentukan kreativitas.
c) Bertanya (Questioning)
Dalam proses pembelajaran melalui CTL, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Karena itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.
d) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar (learning community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerja sama dapat dilakukan melalui berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Hasiul belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antar teman, antar kelompok; yang sudah tahu memberi tahu pada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain. Inilah hakikat dari masyarakat belajar, masyarakat yang saling membagi.
5. Pemodelan (Modeling)
Yang dimaksud dengan asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Bisa terjadi melalui proses refleksi siswa akan mempengaruhi pengetahuan yang telah dibentuknya, atau menambah khazanah pengetahuannya.
7. Penilaian Nyata (Authentic Assassment)
Proses pembelajaran konvensional yang sering dilakukan guru pada saat ini, biasanya ditekankan kepada perkembangan aspek intelektual, sehingga alat evaluasi yang digunakan terbatas pada penggunaan tes. Dengan tes dapat diketahui seberapa jauh siswa telah menguasai materi pelajaran. Dalam CTL, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelekstual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek. Oleh sebab itu, penilaian keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh aspek hasil belajar seperti tes, akan tetapi juga proses belajar melalui penilaian nyata.
Penilaian nyata (authentic assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak; apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.
Penilaian yang autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.
Pada pembelajaran kontekstual (CTL) untuk mendapatkan kemampuan pemahaman konsep, anak mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat. Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima informasi guru, akan tetapi kelas digunakan untuk saling membelajarkan. Untuk itu ada beberapa catatan dalam penerapan CTL sebagai suatu strategi pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1. CTL adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.
2. CTL memandang bahwa belajar adalah proses berpengalaman dalam kehidupan nyata.
3. Kelas dalam pembelajaran CTL bukan hanya sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan.

B. Pendidikan Agama Islam
Dalam kurikulum PAI disebutkan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam, disertai dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
Dalam pedoman pendidikan Islam di sekolah umum Pendidikan Agama Islam (PAI) diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/latihan (Departemen Agama RI, 2004:2). Sehingga PAI yang di samping merupakan sebuah proses, juga di maksudkan sebagai sebuah rumpun mata pelajaran yang diajarkan baik di sekolah umum maupun perguruan tinggi.
Sebagai sebuah mata pelajaran, rumpun mata pelajaran, atau bahan kajian, PAI memiliki ciri khas atau karakteristik tertentu yang membedakannya dengan mata pelajaran lain. Adapun karakteristik tersebut yakni :
a). PAI merupakan rumpun mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok (dasar) yang terdapat dalam agama Islam. Karena itulah PAI merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Ditinjau dari segi isinya, PAI merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi salah satu komponen, dan tidak dapat dipisahkan dari rumpun mata pelajaran yang bertujuan mengembangkan moral dan kepribadian peserta didik.
b). Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai sebuah program pembelajaran, diarahkan pada (a) menjaga aqidah dan ketaqwaan peserta didik, (b) menjadi landasan untuk lebih rajin mempelajari ilmu-ilmu lain yang diajarkan di madrasah, (c) mendorong peserta didik untuk kritis, kreatif dan inovatif, (d) menjadi landasan perilaku dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. PAI bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama Islam, tetapi juga untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (membangun etika sosial).
c). Pembelajaran Pendidikan Agama Islam tidak hanya menekankan penguasaan kompetensi kognitif saja, tetapi juga afektif dan psikomotoriknya.
d). Materi Pendidikan Agama Isalm (PAI) dikembangkan dari tiga kerangka dasar ajaran Islam, yakni aqidah, syari’ah dan akhlaq. Aqidah merupakan penjabaran dari konsep iman, syari’ah merupakan penjabaran dari konsep Islam, dan akhlak merupakan penjabaran konsep ikhsan. Dari ketiga konsep dasar itulah berkembang berbagai kajian keislaman, termasuk kajian-kajian yang terkait dengan ilmu teknologi, seni dan budaya.
Dalam konteks di lapangan pendidikan agama bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan agama dan melatih keterampilan anak dalam malaksanakan ibadah. Lebih dari itu pendidikan agama islam diberikan kepada siswa karena menyangkut keseluruhan diri pribadi anak, mulai dari latihan-latihan amaliah sehari-hari yang sesuai dengan ajaran agama, baik yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lain, manusia dengan alam, maupun manusia dengan dirinya sendiri (Zakiah Daradjat, 2003:124).
Dalam pedoman kurikulum PAI, tujuan umum Pendidikan Agama Islam adalah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan siswa terhadap ajaran agama Islam sehingga menjadi manusia Muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Depag RI, 2004:4). Tujuan Pendidikan Agama Islam ini mendukung dan menjadi bagian dari tujuan pendidikan nasional sebagaimana diamanatkan oleh pasal 3 Bab II Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan umum PAI ini terelaborasi untuk masing-masing satuan pendidikan dan jenjangnya, dan kemudian dijabarkan menjadi kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai siswa.
Oleh karena itu berbicara mengenai Pendidikan Agama Islam, baik makna maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup di dunia bagi anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan di akhirat.
Di dalam kegiatan pembelajaran, Pendidikan Agama Islam di sekolah umum berfungsi sebagai :
1). Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
2). Penanaman nilai, yaitu sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
3). Penyesuaian mental, yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.
4). Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman, dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
5). Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
6). Pengajaran, yakni pengajaran tentang pengetahuan keagamaan secara umum, sistem dan fungsionalnya.
7). Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus bidang Agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain. (Abdul Madjid & Dian Andayani, 2005 : 134).

C. Motivasi Berprestasi
Motivasi merupakan salah satu faktor yang penting dan menentukan dalam proses belajar. keberhasilan organisasi pendidikan dalam pencapaian tujuan sebagian besar bergantung pada kemauan siswa untuk belajar dan berprestasi. Oleh karena itu, penyelenggara pendidikan termasuk guru dan orang tua harus berusaha agar murid yang didiknya mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar dan berprestasi.
Menurut Prench (dalam Suparmin, 2004:11) mendefinisikan motivasi adalah keinginan dan kemauan seseorang untuk mencurahkan segala upayanya dalam mencapai tujuan atau hasil tertentu. Pengertian lain (Steers, 1991) menyebutkan motivasi adalah faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang yang menggerakkan, mengarahkan perilakunya untuk memenuhi tujuan tertentu. Motivasi berhubungan dengan faktor psikologis seseorang yang mencerminkan hubungan atau interaksi antara sikap, kebutuhan dan kepuasan yang terjadi pada diri manusia.
Dari pengertian di atas, disimpulkan bahwa motivasi adalah faktor penggerak yang melatar belakangi perilaku. Orang yang mempunyai motivasi yang kuat cenderung akan melipat gandakan usahanya. sementara orang yang memiliki motivasi yang lemah akan mengurangi atau kurang semangat menjalankan usahanya. Jadi motivasi adalah keinginan dan kemauan seseorang untuk mencurahkan segala upayanya dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu tidak ada motivasi apabila tidak dirasakan adanya suatu keinginan atau kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut merupakan rangsangan atau dorongan timbulnya motivasi untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu.





BAB III
METODE PENELITIAN


A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) atau disingkat dengan PTK. Penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu (Rochiati, 2006:13).
Dalam penelitian ini peneliti selaku guru PAI berkolaborasi dengan teman sejawat di SMPN 1 Pacitan sebagai mitra. Rancangan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di sini bertujuan memperbaiki praktek pembelajaran di kelas dan memandang penelitian tindakan kelas sebagai bentuk refleksi yang dilakukan oleh guru pada situasi alami dan ditunjukkan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis.
Penelitian ini diawali dengan melakukan penelitian pendahuluan sebagai tahap orientasi. Temuan dari hasil studi pendahuluan ini kemudian digunakan untuk melakukan refleksi bersama teman sejawat untuk merancang langkah-langkah kegiatan selanjutnya sehingga tujuan penelitian tercapai.
Prosedur penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Pada tiap siklus dilaksanakan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Secara lebih rinci prosedur penelitian tindakan untuk tiap siklus adalah sebagai berikut.
1. Siklus Pertama
a. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut.
1. Membuat skenario pembelajaran CTL yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi PAI;
2. Membuat lembar pengamatan untuk melihat bagaimana kondisi pembelajaran tersebut ketika diterapkan;
3. Mendesain penilaian untuk melihat sejauh mana kemajuan yang telah dicapai.
b. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah dilaksanakan.
c. Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat.
d. Refleksi
Hasil yang dicapai dalam tahap pengamatan dikumpulkan serta dianalisis dalam tahap ini. Refleksi dilakukan dengan melihat data pengamatan apakah proses pembelajaran yang diterapkan dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil analisis data yang dilaksanakan dalam tahap ini dipergunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus berikutnya.
2. Siklus Kedua
Dilakukan seperti siklus 1 dengan berbagai penyempurnaan.
3. Siklus Ketiga
Dilakukan seperti siklus 2 dengan berbagai penyempurnaan.

B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti. Jika bicara tentang subjek penelitian, sebetulnya juga berbicara tentang unit analisis, yaitu subjek yang menjadi pusat perhatian atau sasaran peneliti (Suharsimi, 2002:122).
Sebagai sumber data, subjek penelitian yang dipilih adalah siswa kelas VII A SMPN 1 Pacitan pada semester 1 tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 40 siswa. Pemilihan subjek dilakukan melalui diskusi dengan teman sejawat.

C. Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah yang sesuai dan mendukung tercapainya data yang diinginkan. Dalam penelitian tindakan kelas ini metode yang digunakan adalah:
1. Observasi
Metode observasi digunakan dalam melakukan penelitian pendahuluan sebagai tahap orientasi. Temuan dari hasil studi pendahuluan ini kemudian digunakan untuk melakukan refleksi bersama guru dan peneliti untuk merancang langkah-langkah kegiatan selanjutnya sehingga tujuan penelitian tercapai.
2. Dokumen
Menggunakan dokumen yang dapat membantu dalam mengumpulkan data penelitian yang ada kaitanya dengan permasalahan dalam penelitian tindakan kelas, misalnya: rencana pembelajaran dan laporan hasil kerja siswa terhadap topik yang dibahas.
3. Angket
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi, 2002:128). Data motivasi siswa dalam penelitian ini dikumpulkan dengan teknik pengumpulan data berupa angket.

D. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil observasi dan studi dokumen dianalisis dengan teknik analisis deskriptif (descriptive analysis). Analisis deskriptif digunakan untuk mengungkap dan mendeskripsikan penggunaan strategi pembelajaran kontekstual dalam upaya peningkatan hasil pembelajaran. Data yang diperoleh melalui angket berupa hasil penilaian sikap siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran PAI dianalisis dengan teknik prosentase.




BAB IV
HASIL PENELITIAN


A. Gambaran Setting
1. Identitas Sekolah
Nama Sekolah : SMP Negeri I Pacitan
Alamat : Jl. A. Yani No. 35 Pacitan
Kecamatan : Pacitan
Kabupaten : Pacitan
Propinsi : Jawa Timur
Kepala Sekolah : Drs. Sutrisno, S.Pd.,M.Pd.
Tenaga Pengajar/Guru : 69 orang
Tenaga Administrasi : 17 orang
Jumlah Siswa : 1097 siswa

2. Visi, Misi dan Tujuan
SMPN I Pacitan mempunyai visi: Unggul dalam Mutu Akademik, Olahraga dan Seni Berlandaskan Iman dan Taqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa .Misi sekolah, yaitu: (1) Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif,sehingga setiap siswa berkembang secara otimal dengan potensi yang dimiliki; (2) Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah; (3) Mendorong dan membantu siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga dapat dikembangkan secara optimal dan (4) Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut, dan juga budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.
Agar proses pendidikan berjalan dengan baik dan terarah tentunya diperlukan tujuan sekolah, yaitu: (1)Unggul dalam perolehan Nilai Ujian Nasional (NUN); (2) Unggul dalam persaingan masuk SLTA Negeri (faforit); (3)Unggul dalam Lomba Karya Ilmiyah (KIR); (4) Unggul dalam lomba keagamaan, kesenian, olah raga.

B. Uraian Penelitian Secara Umum
Dari hasil studi pendahuluan dan diskusi maka dapat teridentifikasi beberapa masalah yang melatar belakangi dilakukannya penelitian tindakan ini, meliputi: (1) Rendahnya pemahaman siswa terhadap penguasaan materi pelajaran PAI; (2) Rendahnya kemampuan siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat dalam mata pelajaran PAI; dan (3) Rendahnya kemampuan siswa dalam menunjukkan perilaku siswa sebagai cermin keyakinan sifat-sifat Allah SWT.
Penelitian ini telah berhasil meningkatkan kemampuan siswa dalam pengusaan materi pelajaran dan meningkatkan keterampilan siswa dalam melakukan diskusi dengan memanfaatkan media yang ada serta sumber belajar yang tersedia serta siswa mampu menunjukkan perilaku siswa sebagai cerminan keyakinan sifat-sifat Allah SWT. Terdapat hambatan-hambatan yang timbul pada penggunaan strategi pembelajaran CTL pada pelajaran PAI. Belum adanya pembimbingan khusus pada arah kecenderungan minat siswa; kemampuan guru yang kurang dalam memadukan seluruh siswa belajar bersama sehingga siswa kurang antusias; dan keterbatasan media pembelajaran.
C. Penjelasan Per-Siklus
Dalam tahap ini diuraikan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran CTL yang dilakukan dengan menggunakan 3 siklus.
Siklus Pertama
1. Kegiatan Awal
a) Menciptakan lingkungan: salam pembuka dan berdoa.
b) Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL:
• Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai jumlah siswa.
• Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi.
• Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan.
2. Kegiatan Inti
a) Siswa melakukan observasi sesuai dengan pembagian tugas kelompok.
b) Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan sesuai dengan hasil observasi yang mereka tentukan sebelumnya.
c) Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
d) Siswa melaporkan hasil diskusi.
e) Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain.
3. Kegiatan Akhir
a) Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai.
b) Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan tentang pengalaman belajar mereka.
4. Pengamatan
Selama pembelajaran berlangsung, peneliti dan teman sejawat mengadakan pengamatan yang hasilnya adalah sebagai berikut: (a) Sudah dilakukan pengembangan materi pelajaran dengan mengangkat hal-hal yang berada sekitar siswa yang sesuai dengan pokok bahasan yang dibahas; (b) Guru belum menjelaskan kompetensi belajar siswa dan langkah-langkah pembelajaran secara detail di awal pembelajaran; dan (c) Penggunaan metode pembelajaran CTL sudah mengarah kepada siswa aktif meskipun ada siswa yang belum mampu mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari dalam setiap proses pembelajaran.
5. Refleksi
Hasil refleksi yang dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) Guru perlu menyampiakan kompetensi belajar dan langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan; dan (b) Sebagai umpan balik guru perlu memberikan beberapa pertanyaan yang relevan dengan materi yang telah disajikan.

Siklus Kedua
1. Kegiatan Awal
a) Menciptakan lingkungan: salam pembuka dan berdoa.
b) Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.
c) Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL:
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai jumlah siswa.
• Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi.
• Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan.
• Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa.
2. Kegiatan Inti
a) Siswa melakukan observasi sesuai dengan pembagian tugas kelompok.
b) Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan sesuai dengan hasil observasi yang mereka tentukan sebelumnya.
c) Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
d) Siswa melaporkan hasil diskusi.
e) Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain.
3. Kegiatan Akhir
a) Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai.
b) Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan tentang pengalaman belajar mereka.
4. Pengamatan
Selama pembelajaran berlangsung, peneliti dan teman sejawat mengadakan pengamatan yang hasilnya adalah sebagai berikut: (a) Sudah dilakukan pengembangan materi pelajaran dengan mengangkat hal-hal yang berada sekitar siswa yang sesuai dengan pokok bahasan yang dibahas; (b) Guru belum melakukan langkah apersepsi di awal pembelajaran, yaitu mengaitkan materi yang lalu dengan yang dipelajari sekarang; dan (c) Penggunaan metode pembelajaran CTL sudah mengarah kepada siswa aktif meskipun ada siswa yang belum mampu mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari dalam setiap proses pembelajaran.
5. Refleksi
Hasil refleksi yang dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) Guru perlu melakukan langkah apersepsi, yaitu langkah menghubungkan materi pelajaran yang lalu dengan materi pelajaran yang akan disampaikan. Langkah ini untuk menciptakan kondisi agar materi pelajaran itu mudah masuk dan menempel di otak; dan (b) Sebagai umpan balik guru perlu memberikan beberapa pertanyaan yang relevan dengan materi yang telah disajikan.

Siklus Ketiga
Pada siklus kedua ini peneliti dan teman sejawat mengubah beberapa teknik pembelajaran sebagai penyempurnaan dengan langkah sebagai berikut:
1. Kegiatan Awal
a) Menciptakan lingkungan: salam pembuka dan berdoa.
b) Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.
c) Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL:
• Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai jumlah siswa.
• Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi.
• Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan.
d) Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa.
e) Guru memberikan sugesti yang positif tentang materi yang dipelajari ini penuh dengan tantangan dan mengasyikkan.
2. Kegiatan Inti
a) Lakukan langkah apersepsi, yaitu langkah menghubungkan materi pelajaran yang lalu dengan materi pelajaran yang akan disampaikan.
b) Siswa melakukan observasi sesuai dengan pembagian tugas kelompok.
c) Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan sesuai dengan hasil observasi yang mereka tentukan sebelumnya.
d) Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
e) Siswa melaporkan hasil diskusi.
f) Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain.
g) Guru menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimilikinya.
h) Sebagai umpan balik guru memberikan beberapa pertanyaan yang relevan dengan materi yang telah disajikan.
i) Diakhir pembelajaran guru menyimpulkan materi.
3. Kegiatan Akhir
d) Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai.
e) Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan tentang pengalaman belajar mereka.
4. Pengamatan
Selama pembelajaran berlangsung peneliti dan teman sejawat mengadakan pengamatan terhadap proses pembelajaran, yang hasilnya adalah sebagai berikut: (a) Langkah apersepsi sudah dilakukan guru di awal pembelajaran, yaitu mengaitkan materi yang lalu dengan yang dipelajari sekarang; (b) Strategi pembelajaran sudah mengarah kepada upaya agar siswa aktif serta mampu mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari dalam setiap proses pembelajaran; dan (c) Keterampilan guru dalam mengelola kelas juga meningkat lebih baik, cara membimbing dan memberi penjelasan kepada siswa semakin baik.
5. Refleksi
Hasil refleksi yang dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat dapat dijelaskan sebagai berikut: (a) Strategi pengajaran yang ditampilkan meningkatkan kualitas pembelajaran yang diselenggarakan; (b) Selama siswa melakukan kerja kelompok, sebaiknya guru mengawasi dan tetap memperhatikan aktivitas semua siswa dalam kelompok dan siswa tidak dibiarkan bekerja sendiri tanpa kendali sehingga mereka tetap aktif dan berpartisipasi dalam kerja kelompok; dan (c) Kelemahan-kelemahan yang ditemukan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model CTL umumnya bersifat teknis belaka akibat dari kurangnya guru menggunakan model ini.

D. Analisis Data
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan data yang terkumpul dianalisis sesuai dengan jenis data dan tujuan penelitian.
1. Data hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran
a) Siklus pertama
Hasil pengamatan terhadap pengelolaan pembelajaran pada siklus pertama dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.1
Data hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran siklus pertama

No Aspek yang Diamati Penilaian
Pengamatan KBM 4 3 2 1
1 Menyampaikan pentingnya materi ini utk dipelajari √
2 Menyampaikan kompetensi yang harus dicapai √
3 Memotivasi siswa √
4 Membimbing siswa untuk aktif √
5 Menjelaskan prosedur pembelajaran CTL √
6 Mengorganisasikan siswa dalam kelompok √
7 Membimbing observasi kelompok √
8 Menyampaikan ide atau pendapat √
9 Menjawab/menanggapi pertanyaan √
10 Memandu diskusi kelas √
11 Merumuskan kesimpulan belajar √
12 Memberikan pengakuan/penghargaan √
13 Memberikan tes berupa resitasi/umpan balik √
14 Membimbing siswa dalam diskusi kelompok dan diskusi kelas √


Suasana Kelas
1 Siswa antusias √
2 Guru antusias √
3 Waktu sesuai dengan alokasi √
4 KBM sesuai dengan skenario pembelajaran √

Dari hasil pengamatan di atas dapat diketahui bahwa dalam mengorganisasikan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran CTL guru belum menguasai prosedur pembelajaran. Strategi belajar mengajar belum mengarah kepada upaya agar siswa aktif. Guru sudah berusaha melibatkan siswa dalam setiap fase kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan.
Metode ini dapat belum meningkatkan memotivasi siswa untuk aktif dalam bertanya, menyampaikan pendapat, melakukan kegiatan diskusi dan observasi namun belum mampu mengantarkan siswa untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
b) Siklus kedua
Hasil pengamatan terhadap pengelolaan pembelajaran pada siklus pertama dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.2
Data hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran siklus pertama

No Aspek yang Diamati Penilaian
Pengamatan KBM 4 3 2 1
1 Menyampaikan pentingnya materi ini utk dipelajari √
2 Menyampaikan kompetensi yang harus dicapai √
3 Memotivasi siswa √
4 Membimbing siswa untuk aktif √
5 Menjelaskan prosedur pembelajaran CTL √
6 Mengorganisasikan siswa dalam kelompok √
7 Membimbing observasi kelompok √
8 Menyampaikan ide atau pendapat √
9 Menjawab/menanggapi pertanyaan √
10 Memandu diskusi kelas √
11 Merumuskan kesimpulan belajar √
12 Memberikan pengakuan/penghargaan √
13 Memberikan tes berupa resitasi/umpan balik √
14 Membimbing siswa dalam diskusi kelompok dan diskusi kelas √


Suasana Kelas
1 Siswa antusias √
2 Guru antusias √
3 Waktu sesuai dengan alokasi √
4 KBM sesuai dengan skenario pembelajaran √

Dari hasil pengamatan di atas dapat diketahui bahwa dalam mengorganisasikan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran CTL guru sudah menguasai prosedur pembelajaran. Strategi belajar mengajar mulai mengarah kepada upaya agar siswa aktif. Guru sudah berusaha melibatkan siswa dalam setiap fase kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan.
Metode ini dapat memotivasi siswa untuk aktif dalam bertanya, menyampaikan pendapat, melakukan kegiatan diskusi dan observasi namun belum mampu mengantarkan siswa untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
c) Siklus ketiga
Hasil pengamatan terhadap pengelolaan pembelajaran pada siklus ketiga dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.3
Data hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran siklus kedua

No Aspek yang Diamati Penilaian
Pengamatan KBM 4 3 2 1
1 Menyampaikan pentingnya materi ini utk dipelajari √
2 Menyampaikan kompetensi yang harus dicapai √
3 Memotivasi siswa √
4 Membimbing siswa untuk aktif √
5 Menjelaskan prosedur pembelajaran √
6 Mengorganisasikan siswa dalam kelompok √
7 Membimbing observasi kelompok √
8 Menyampaikan ide atau pendapat √
9 Menjawab/menanggapi pertanyaan √
10 Memandu diskusi kelas √
11 Merumuskan kesimpulan belajar √
12 Memberikan pengakuan/penghargaan √
13 Memberikan tes berupa resitasi/umpan balik √
14 Membimbing siswa dalam diskusi kelompok dan diskusi kelas √
Suasana Kelas
1 Siswa antusias √
2 Guru antusias √
3 Waktu sesuai dengan alokasi √
4 KBM sesuai dengan skenario pembelajaran √

Dari hasil pengamatan di atas dapat diketahui bahwa dalam mengorganisasikan pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran CTL guru sudah menguasai prosedur pembelajaran. Strategi belajar mengajar sudah mengarah kepada upaya agar siswa aktif. Guru sudah berusaha melibatkan siswa dalam setiap fase kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan.
Strategi ini dapat memotivasi siswa untuk aktif dalam bertanya, bereksperimen secara mandiri dan menyampaikan pendapat serta mampu mengantarkan siswa untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Media pengajaran yang medukung strategi pengajaran dalam meningkatkan aktivitas siswa sudah digunakan. Guru sudah memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar tetapi belum maksimal.
Selama siswa melakukan diskusi kelompok, guru mengawasi dan tetap memperhatikan aktivitas semua siswa dalam kelompok dan siswa tidak dibiarkan bekerja sendiri tanpa kendali sehingga mereka tetap aktif dan berpartisipasi dalam kerja kelompok


2. Data hasil motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran
Motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran pada siklus pertama, kedua dan ketiga dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Tabel 4.4
Prosentase motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran

Indikator Siklus 1 (%) Siklus 2 (%) Siklus 3 (%)
Tinggi 5 38 49
Sedang 77 52 51
Rendah 18 10 -
Jumlah 100 100 100

Dari tabel di atas pada kondisi awal pembelajaran hanya terdapat 5 % siswa berada pada kategori motivasi yang tinggi, 77 % siswa berada pada kategori motivasi sedang dan 18 % siswa berada pada kategori motivasi rendah. Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus pertama terjadi perubahan tingkat motivasi siswa dimana terdapat 38 % siswa berada pada ketegori motivasi yang tinggi, 52 % siswa berada pada kategori motivasi sedang dan 10 % siswa berada pada kategori motivasi rendah.
Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus kedua terjadi perubahan tingkat motivasi siswa yang sangat signifikan, dimana terdapat 49 % siswa berada pada kategori motivasi yang tinggi, 51 % siswa berada pada kategori motivasi sedang dan tidak ada siswa yang berada pada kategori motivasi rendah.

E. Pembahasan
Berdasarkan hasil temuan penelitian tindakan, terdapat peningkatan hasil belajar PAI kelompok subjek yang menggunakan pembelajaran CTL. Berdasarkan kenyataan di atas, pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran CTL memiliki kemampuan dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam menggali pengetahuan dan dalam menemukan dan menyelesaikan masalah yang dimunculkan. Perbedaan yang timbul dengan diberlakukannya teknik pendekatan pembelajaran terletak pada keaktifan siswa dalam menemukan dan menyelesaikan masalah dalam pembelajaran serta perolehan hasil belajar siswa setelah diberlakukannya strategi pembelajaran.
Penggunaan strategi pembelajaran CTL dimaksudkan agar peserta didik terhindar dari perasaan jenuh dan membosankan, yang menyebabkan perasaan malas menjadi muncul. Pengajaran sepantasnya tidak monoton, berulang-ulang dan menimbulkan rasa jengkel pada diri peserta.
Dari uraian-uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa teknik dan prosedur mengajar yang bervariasi efektif untuk memelihara minat/motivasi peserta didik. Pengajaran yang bermotivasi menuntut kreatifitas dan imajinitas pada guru untuk berusaha secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasi guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar peserta didik. Motivasi yang telah dimiliki oleh peserta didik, apabila diberi semacam penghalang seperti ujian mendadak, akan menyebabkan kegiatan kreatifnya tumbuh sehingga ia akan lolos dari penghalang tadi dan ia akan memperoleh hasil memuaskan, terutama dalam mata pelajaran PAI.
Keterampilan guru dalam mengelola kelas juga meningkat lebih baik, cara membimbing dan memberi penjelasan kepada siswa semakin baik. Media pengajaran mampu dimanfaatkan guru untuk mendukung strategi pengajaran. Siswa mampu menunjukkan kemampuan perilaku siswa sebagai cerminan keyakinan sifat-sifat Allah SWT. Dari tugas yang diberikan guru, menunjukkan tingkat pemahaman siswa terhadap materi sudah sangat baik.
Terdapat hambatan-hambatan yang timbul pada penggunaan strategi pembelajaran CTL. Belum adanya pembimbingan khusus pada arah kecenderungan minat siswa; kemampuan guru yang kurang dalam memadukan seluruh siswa belajar bersama sehingga siswa kurang antusias; dan keterbatasan alat peraga atau media pembelajaran. Namun demikian hambatan-hambatan tersebut bukan merupakan halangan dalam menerapkan strategi pembelajaran, karena hambatan mampu untuk diatasi oleh guru dan lembaga pendidikan. Hambatan lain yang ditemukan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan CTL umumnya bersifat teknis belaka akibat dari kurangnya guru menggunakan strategi pembelajaran kontekstual.




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Pembelajaran dengan menggunakan CTL pada pembelajaran PAI di SMPN 1 Pacitan memiliki kemampuan dalam meningkatkan keterampilan siswa dalam pembelajaran PAI. Perbedaan yang timbul dengan diberlakukannya teknik pembelajaran terletak pada keaktifan siswa dalam kerja kelompok dan perolehan hasil belajar siswa setelah diberlakukannya strategi pembelajaran. Hambatan-hambatan yang timbul dikarenakan belum adanya pembimbingan khusus pada arah kecenderungan minat siswa; kemampuan guru yang kurang dalam memadukan seluruh siswa belajar bersama sehingga siswa kurang antusias; dan keterbatasan media pembelajaran.
2. Berdasarkan hasil temuan penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa teknik dan prosedur mengajar yang bervariasi efektif untuk memelihara minat/motivasi peserta didik..

B. Saran dan Tindak Lanjut
Berdasarkan kesimpulan di atas dapat disampaikan saran-saran sebagai langkah tindak lanjut sebagai berikut:
1. Bagi guru, khususnya guru mata pelajaran PAI, hendaknya menggunakan pembelajaran CTL dalam proses belajar mengajarnya, sehingga efektifitas belajar mengajar akan meningkat. Dengan adanya efektifitas belajar mengajar, maka tujuan belajar dapat tercapai yang dapat ditunjukkan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa.
2. Bagi pihak sekolah diharapkan untuk lebih meningkatkan sarana dan prasarana berupa penyediaan media pengajaran yang memadai, sehingga pelaksanaan belajar mengajar akan lebih efektif dan efisien.
3. Bagi pihak pemerintah diharapkan untuk melakukan kegiatan pelatihan, seminar atau lokakarya pendidikan dan pembelajaran guna peningkatan kompetensi guru dalam mengajar.

























DAFTAR PUSTAKA





Departemen Agama RI. (2004). Pedoman Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum. Jakarta : Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, Direktorat Madrasah dan Pendididkan Agama Islam pada Sekolah Umum.
Elliot, J. (1993). Action Research and Education Change. Philadhelphia: Open University Press.

Rochiati, W. (2006). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana, Prenada Media Group.

Suharsimi, Arikunto. (2002). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukmadinata, Nana Sy. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Suparmin. (2004). Motivasi dan Etos Kerja: Modul Orientasi Pembekalan Calon PNS. Jakarta: Biro Kepegawaian Sekretariat Jenderal Departemen Agama Republik Indonesia.

Tim MGMP PAI. (2005). Perangkat Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam. TIM MGMP PAI
Lanjuuutt..

PTK IPA

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Semua orang menyadari bahwa interaksi dan segala macam kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh tanpa bahasa, bahasa yang berfungsi sebagai alat komunikasi makin dirasakan dan diperlukan oleh semua orang, untuk memperlancar keberhasilan tersebut diperlukan ketrampilan berbahasa. Ketrampilan berbahasa meliputi ketrampilan menyimak, ketrampilan membaca, ketrampilan menulis dan ketrampilan berbicara.
Kualitas ketrampilan berbahasa seseorang bergantung pada kuantitas dan kualitas membaca pemahaman yang dimilikinya. Dalam dunia pendidikan rapor merupakan cermin kualitas dan kuantitas siswa selama belajar, sebab bidang studi yang mereka peroleh di sekolah sesuai dengan kurikulum selalu berhubungan dengan membaca untuk memahami bidang studinya. Hal ini kurang disadari oleh banyak orang, kalau hal ini disadari benar-benar maka dapatlah kita mengerti betapa pentingnya fungsi bahasa sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun secara tulisan.
Dengan membaca akan diperoleh sejumlah informasi mengenai moral, peradaban, ilmu, dan teknologi. Banyak membaca akan meluaskan cakrawala seseorang sehingga dapat membuka dunia baru bagi si pembaca.
Surat Al-Alaq adalah ayat yang pertama diwahyukan Allah kepada Rosul Muhammad SAW dengan perantara Malaikat Jibril adalah perintah membaca. Allah menciptakan manusia dari benda yang mulia kemudian memuliakan manusia dengan mengajar membaca, menulis, dan memberi manusia dengan berbagai pengetahuan. Adapun terjemahan surat Al-Alaq ayat 1-5 sebagai berikut :
1. Bacalah
2. Dengan nama Tuhanmu Yang Maha Pencipta
3. Menciptakan manusia dari segumpal darah
4. Bacalah dengan nama TuhanmuYang Maha Mulia
5. Yang memberi pelajaran dengan pena. )

Mengingat pentingnya fungsi membaca perlu pembinaan dan peningkatan mutu pengajaran bahasa Indonesia baik tingkat dasar maupun tingkat lanjutan atas.
Maka sudah seharusnya siswa MAN diberi materi pelajaran Bahasa Indonesia, pemberian materi ini diantaranya bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilan yang terandalkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih atas lagi.
Dengan demikian bagi siswa MAN keterampilan berbahasa khususnya materi membaca berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi juga berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan keberhasilan studinya dan sebagai bekal untuk terjun di masyarakat.

B. Identifikasi Masalah
Berbagai faktor yang diperkirakan dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam membaca pemahaman antara lain : Apakah kemampuan penguasaan kosakata dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam membaca pemahaman, apakah kemampuan IQ dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam membaca pemahaman, apakah teknik membaca dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam membaca pemahaman, apakah kebiasaan membaca dapat mempengaruhi siswa dalam membaca pemahaman, apakah penentuan informasi fokus dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam membaca pemahaman, dan masih banyak lagi faktor lain yang dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam membaca pemahaman.
C. Pembatasan Masalah
Melihat luasnya cakupan masalah tersebut, belum seluruhnya dapat diteliti dalam waktu yang sangat terbatas, apalagi jika dihubungkan dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki oleh penulis. Karena itulah penelitian ini dibatasi dengan kemampuan membaca pemahaman melalui metode kontekstual.

D. Rumusan Masalah
Setelah masalah tersebut dibatasi, selanjutnya masalah diatas dirumuskan dalam bentuk pertanyaan seperti dibawah ini :
Apakah metode kontekstual dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman.

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh diskripsi kemampuan membaca pemahaman melalui metode kontekstual.

F. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah untuk dasar pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pengajaran-pengajaran bahasa Indonesia, khususnya pengajaran membaca pemahaman. Dengan demikian dapat digunakan untuk mengetahui faktor apa yang berpengaruh dalam proses belajar mengajar.
Selain tersebut diatas hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan umpan balik dalam kegiatan belajar mengajar membaca pemahaman, sehingga kekurangan dalam kegiatan belajar mengajar dapat diperbaiki dengan cara meningkatkan faktor-faktor yang mendukung.

BAB II
KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS

A. Pengkajian Teori yang Digunakan
Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan atas sumber-sumber yang berupa situasi lapangan (sikon dan siswa), dan buku-buku yang memiliki relevansi dengan penelitian ini, sumber yang dicantumkan harus memiliki relevansi yang cukup besar.
Kerangka teori ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
1. Membaca pemahaman.
2. Metode kontekstual
Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan dibawah ini :
1. Membaca
a. Hakikat Membaca
Dilihat dari segi proses membaca merupakan kegiatan yang sangat rumit, oleh karena itu timbul bermacam-macam rumusan membaca. Dalam hal tersebut Tarigan berpendapat, bahwa membaca adalah :
“Suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis”. )
b. Ragam Membaca
Membaca disini merupakan membaca yang masih umum sifatnya, sebab didalam membaca terdapat bermacam-macam ragam membaca. Ragam membaca tersebut diorientasikan pada tujuan yang ingin dicapai pembaca berbeda.
Menurut ahli bahasa, secara keseluruhan ragam membaca meliputi :
“Membaca dalam hati, membaca cepat, membaca teknik, membaca bahasa, membaca estetis, membaca kritis, dan membaca kreatif”. )
c. Hakikat Membaca Pemahaman
Hakekat membaca pemahaman adalah suatu kegiatan dimana pembaca berusaha memahami bacaan secara keseluruhan dengan mendalam sambil menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman maupun pengetahuan yang dimiliki pembaca tanpa diikuti gerak lisan maupun suara.
Uraian tersebut sesuai dengan tujuan membaca pemahaman itu sendiri. Adapun tujuan membaca pemahaman adalah untuk memahami isi bacaan secara keseluruhan dan mendalam dalam memahami norma-norma kesastraan resensi kritis, drama tulis, dan pola fiksi baik yang tersirat maupun yang tersurat.
d. Teknik Membaca Pemahaman
Didalam membaca pemahaman diperlukan teknik-teknik membaca pemahaman diantaranya :
1. Mengetahui jenis buku yang akan dibacanya, hal tersebut untuk membantu pembaca dalam membuat dugaan tentang isi buku dan dalam menentukan sikap serta cara membacanya.
2. Mengetahui struktur buku yang akan dibacanya, hal ini untuk membantu pembaca dalam pemahaman pemikiran yang dikemukakan oleh pengarang dan bermanfaat dalam menemukan informasi-informasi tertentu dalam buku.
e. Metode Membaca Pemahaman
Metode yang digunakan dalam membaca pemahaman diantaranya :
1. Menentukan informasi fokus yang berupa pikiran pokok.
2. Mencari butir-butir penting dari informasi fokus dalam bacaan.
3. Membuat rangkuman sendiri dengan kata-kata secara tegas.
4. Mengevaluasi benar atau tidaknya sehingga dapat dilihat kelemahan, kekuatan, dan pengertian yang dimaksud.
Hal tersebut diatas didukung oleh pendapat ahli bahasa Tampubolon yang berbunyi :
“ …. untuk tujuan membaca, pembaca efisien dan efektif perlu mengadakan persiapan tertentu dan mengetahui metode-metode membaca disamping teknik-teknik membaca ”.
f. Pengukuran Membaca Pemahaman
Pengukuran membaca pemahaman merupakan kegiatan yang bertujuan dan dilakukan melalui proses dan prosedur tertentu. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dari pengukuran ini. Hal tersebut mengandung pengertian bahwa perbedaan tujuan akan diikuti oleh hasil yang dicapainya.
Pengukuran tersebut dilakukan dengan menggunakan alat berupa tes obyektif dengan pertimbangan : hasilnya dapat dinilai secara obyektif, mudah mengoreksinya, dapat dinilai secara statistik, dan sampel bahan ujian memadai.
Agar informasi yang terjaring sesuai dengan harapan, tes yang dipergunakan dituntut memiliki tingkat fasilitas yang memadai.
2. Metode
a. Hakikat Metode
Penulis mencoba berpendapat metode adalah cara atau upaya bagaimana guru dapat menyampaikan materi pembelajaran kepada siswanya dengan memperhatikan aspek-aspek proses pembelajaran.
b. Ragam Metode Membaca
Metode mempunyai banyak ragam, metode membaca diantaranya :
b.1. Metode Audiolingual
b.2. Metode Reseptif dan Produktif
b.3. Metode Langsung
b.4. Metode Komunikatif
b.5. Metode Integratif
b.6. Metode Tematik
b.7. Metode Kuantum
b.8. Metode Konstruktivistik
b.9. Metode Partisipatori
b.10. Metode Kontekstual
c. Metode Kontekstual
Pada hakekatnya metode kontekstual memungkinkan siswa menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan di luar sekolah agar siswa dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang disimulasikan. )

B. Hipotesis
Berdasarkan teori yang telah dikemukakan dapat dirumuskan hipotesisnya sebagai berikut :
“Ada hubungan positif yang signifikan antara kemampuan membaca pemahaman dengan metode kontekstual”.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian
Secara operasional tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan deskripsi mengenai kemampuan membaca pemahaman melalui metode kontekstual.

B. Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam penelitian ini tempat pengambilan datanya di MAN Denanyar Jombang, dan dimulai pada tanggal 13 Oktober s.d 12 November 2007.

C. Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian, penulis dapat menggunakan berbagai macam metode. Pemilihan metode didasarkan kepada rancangan penelitian, sedang keputusan rancangan yang akan dipakai tergantung dalam tujuan penelitian, maka metode yang digunakan untuk melaksanakan penelitian ini adalah Metode Deskripsi Korelasional.
Tujuan Metode Deskripsi Korelasional adalah : untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan koefisien korelasi.

D. Populasi dan Sampel
Dalam penelitian yang menjadi sampel adalah siswa MAN Denanyar Jombang kelas XI IPA tahun pelajaran 2006-2007. Pengambilan sampel tersebut didasarkan sifat populasi homogin yaitu, diasuh oleh guru yang sama, dan tempat belajar yang sama pula.


E. Teknik Pengumpulan Data
Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini berupa skor masing-masing siswa yang dikumpulkan melalui alat pengumpul data. Data diperoleh dengan menjawab pertanyaan secara tertulis dalam tes ragam bentuk objektif tipe multiple choice sebanyak 20 soal masing-masing dengan bobot 5, hal tersebut dilakukan setelah siswa melakukan membaca wacana dalam hati. Dengan demikian skor yang diharapkan adalah maksimal 100.

F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik statistik. Teknik statistik digunakan sesuai dengan data kuantitatif atau data yang dikuantitatifkan, yaitu data dalam bentuk angka atau bilangan.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Skor Kemampuan
Membaca Pemahaman SKBM 70
No Perolehan Skor Banyak Siswa Keterangan
1 85 1 Tuntas
2 80 10 Tuntas
3 75 9 Tuntas
4 70 4 Tuntas
5 65 4 Belum Tuntas
6 60 2 Belum Tuntas
Jumlah 30

Tabel 2
Distribusi Frekuensi Skor Siswa yang Remidi
No Perolehan Skor Banyak Siswa Keterangan
1 85 5 Tuntas dengan remidi
2 80 1 Tuntas dengan remidi
Jumlah 6


Tabel 3
Distribusi Frekuensi Skor Siswa yang Pengayaan
No Perolehan Skor Banyak Siswa Keterangan
1 100 5 Sangat baik
2 95 6 Sangat baik
3 90 5 Sangat baik
4 85 4 Baik
Jumlah 20

Tabel 4
Distribusi Frekuensi Skor Kemampuan
Membaca Pemahaman dengan SKBM 70
No Perolehan Skor Banyak Siswa Keterangan
1 100 9 Tuntas
2 95 7 Tuntas
3 90 1 Tuntas
4 75 3 Tuntas
Jumlah 20

B. Pembahasan
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa MAN Denanyar Jombang kelas XI IPA khususnya, dan semua siswa MAN Denanyar Jombang melalui metode kontekstual.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dalam penelitian ini masalah yang dibahas adalah optimalisasi kemampuan membaca pemahaman melalui metode kontekstual. Hal tersebut diteliti karena untuk mendapatkan metode yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman.
Adapun hasil penelitian menunjukkan ada hubungan positif metode kontekstual sangat sesuai digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa MAN Denanyar Jombang khususnya siswa kelas XI IPA.
Dengan demikian dapat dinyatakan semakin baik kemampuan penguasaan kosakatanya akan semakin baik pula kemampuan membacanya, tetapi sebaliknya jika kurang menguasai kosakata akan semakin kurang pula kemampuan membacanya.

B. Pengajuan Saran
Sesuai dengan kesimpulan hasil penelitian, bahwa ada hubungan positif yang signifikan metode kontekstual dengan mengoptimalkan kemampuan membaca pemahaman, adapun pengajuan saran tersebut ditujukan kepada :
Pertama, kepada guru khususnya guru Bahasa Indonesia agar lebih meningkatkan latihan-latihan kepada siswanya untuk menulis kata-kata sulit atau kata-kata yang dianggap sulit sebanyak mungkin sekaligus dibuat dalam kalimat.
Kedua, kepada siswa agar lebih meningkatkan minat baca sehingga akan memperoleh kosakata yang lebih banyak karena kosakata akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan manusia.
Ketiga, kepada Kepala Sekolah agar lebih memperhatikan perpustakaan sekolah beserta fasilitasnya, karena perpustakaan sekolah merupakan salah satu tempat menggali kosakata bagi siswa sekaligus merupakan jantung sekolah.
Lanjuuutt..

PTK Sosiologi 4

3 comments
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sekolah yang bertujuan memberikan bantuan kepada siswa baik perorangan maupun kelompok agar menjadi pribadi yang mandiri dan berkembang secara optimal. Apalagi berkaitan dengan lembaga pendidikan yang secara khusus menjurus atau memilih ketrampilan tertentu seperti di Sekolah Menengah Kejuruan dan sekolah lainnya.
Fenomena yang nampak dalam keseharian dimana anggapan masyarakat umum tentang kenakalan siswa/pelajar disebabkan karena ketidakmampuan sekolah yang bersangkutan dalam mendidik dan membimbing siswa, padahal sekolah adalah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang bertanggung jawab dalam mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan pikiran dan emosional siswa. Idealitas dengan realitas tersebut memang tidak selamanya benar apabila digeneralisasikan pada semua lembaga pendidikan. Tentunya masih banyak lembaga pendidikan yang memiliki nilai plus dan bahkan dijadikan proyek pengembangan.
Namun demikian, untuk memenuhi harapan tersebut, harus memperhatikan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap hasil akhirnya. Laporan dari beberapa rekan sesama Guru Pembimbing di SMP Negeri 1 Jombang, menyatakan bahwa terdapat kecenderungan frekwensi kenakalan siswa, walaupun tidak drastis. Khususnya siswa laki-laki., apabila dibandingkan dengan siswa perempuan (Sekilas informasi dari Bapak Drs. Subachi, Guru Pembimbing di SMP Negeri 1 Jombang).
Kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh para remaja/siswa di sekolah ini seharusnya mendapat perhatian yang lebih dan seyogyayanya diusahakan penanggulangannya secara sungguh-sungguh dalam arti penanggulangan yang setuntas-tuntasnya, usaha ini merupakan aktivitas yang tidak mudah, akan tetapi bisa saja dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait dari sekolah-sekolah terutama adanya kerja sama yang baik antara individu yang satu dengan individu yang lain.
Sehubungan dengan hal tersebut, para ilmuwan. Cendikiawan pemuka masyarakat dan pemerintah telah berusaha secara maksimal melalui berbagai cara, baik dengan adanya penyuluhan-penyuluhan untuk para remaja, serta usaha untuk memperbaiki para remaja yang sudah terlibat dalam kenakalan. Adapun pihak lain yang ikut bertanggung jawab dalam upaya penanggulangan kenakalan sekaligus pembinaan para remaja adalah para guru sekolah.
Pembinaan ini dilakukan secara formal dalam proses belajar-mengajar. Karena dalam interaksi proses belajar-mengajar ini bukan semata-mata menghasilkan hal-hal yang positif, akan tetapi ada pula dampak negatifnya.
Dalam mengatasi permasalahan tersebut, tentunya pihak-pihak sekolah tidak tinggal diam untuk mencapai tujuan pendidikan sekaligus untuk membentuk kepribadian siswa yang baik, di SMP Negeri 1 Jombang ini pihak sekolah mengambil alternatif dengan lebih menekankan Pendidikan Agama Islam, baik melalui kegiatan intra kurikuler maupun ekstra kurikuler untuk menanamkan nilai-nilai ajaran Islam, dan mengoptimalkan pelayanan bimbingan, serta adanya kerja sama yang baik antara Guru Pembimbing dan Guru PAI-nya.
Menanggulangi kenakalan remaja/kenakalan siswa merupakan suatu pekerjaan dan cita-cita yang sangat mulia, akan tetapi hal itu tidaklah mudah karena adanya berbagai faktor yang dapat menjadi penghambat dalam pelaksanaan tugas mulia tersebut. Sejumlah hasil penelitian juga menyebutkan bahwa kualitatif dan kuantitatif kenakalan remaja dari tahun ke tahun semakin meningkat. Contohnya, pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, dan tindak kejahatan lainnya yang dilakukan oleh para remaja.
Berdasar latar belakang tersebut di atas, kiranya penulis tertarik untuk mengetahui hasil dari upaya-upaya yang dilakukan oleh Guru Pembimbing bersama Guru PAI dalam menanggulangi kenakalan siswa guna untuk mewujudkan cita-cita luhur Pendidikan Nasional Indonesia dan Agama Islam itu sendiri.
1.2 Rumusan Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, permasalahan yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah:
1. Apa saja bentuk kenakalan siswa baik secara kualitatif maupun kuantitatif yang terjadi di SMP Negeri 1 Jombang?
2. Upaya apa saja yang dilakukan Guru Pembimbing dan Guru PAI dalam menanggulangi kenakalan siswa di SMP Negeri 1 Jombang?
3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam upaya penanggulangan kenakalan siswa di SMP Negeri 1 Jombang?

1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui gambaran yang jelas mengenai bentuk kenakalan siswa di SMP Negeri 1 Jombang.
2. Untuk mengetahui sejauh mana upaya yang dilakukan oleh Guru Pembimbing dalam menanggulangi kenakalan siswa di SMP Negeri 1 Jombang.
3. Untuk mengetahui faktor pendukung dan pengambat dalam penanggulangan kenakalan siswa di SMP Negeri 1 Jombang.

1.4 Manfaat Penelitian
1. Sebagai sumbangan pemikiran khususnya Guru Pembimbing di SMPN 1 Jombang, dalam usaha meningkatkan kualitatif proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah.
2. Untuk menambah wawasan penulis tentang pemahaman terhadap Guru Pembimbing.
3. Dengan hasil yang diperoleh dalam penulisan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Guru Pembimbing di SMP Negeri 1 Jombang untuk mengembangkan ilmu dan profesionalnya lebih lanjut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bimbingan dan Konseling
2.1.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling
Menurut Rahman (2003:13) bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan kepada seseorang agar ia mampu memahami diri, menyesuaikan diri sehingga mencapai kehidupan yang sukses dan bahagia. Sedangkan konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara oleh seorang konselor terhadap individu guna mengatasi suatu masalah atau mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
Sukardi (1987:65) menyatakan bahwa bimbingan adalah suatu proses bantuan yang diberikan kepada seseorang agar memperkembangkan potensi-potensi yang dimiliki, mengenal dirinya sendiri, mengatasi persoalan-persoalan sehingga mereka dapat menentukan sendiri, mengatasi persoalan-persoalan sehingga mereka dapat menentukan sendiri jalan hidupnya secara bertanggung jawab tanpa bergantung kepada orang lain.
Menurut Ad-Dzaky (2002:180), konseling adalah suatu aktivitas pemberian nasehat dengan atau berupa anjuran-anjuran dan saran-saran dalam bentuk pembicaraan yang komunikatif antara konselor dan klien, yang mana konseling datang dari pihak klien yang disebabkan karena ketidaktahuan atau kurangnya pengetahuan sehingga ia memohon pertolongan kepada konselor agar dapat memberikan bimbingan dengan metode-metode psikologis dalam upaya sebagai berikut:
1. Mengembangkan kualitas kepribadian yang sungguh.
2. Mengembangkan kualitas kesehatan mental.
3. Mengembangkan perilaku-perilaku yang lebih efektif pada diri individu dan lingkungannya.
4. Menganggulangi problema hidup dan kehidupan secara mandiri.

2.1.2 Tujuan Bimbingan dan Konseling
Dalam rumusan bimbingan dan konseling terdapat dua tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus, tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. Dalam kaitan ini bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan, pandangan interpretasi, pilihan; penyesuaian, dan ketrampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya.
Sedangkan tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran dari tujuan umum yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya. Masalah-masalah individu yang bermacam-macam ragam jenis, intensitas dan sangkut-pautnya serta masing-masing bersifat unik. Oleh karena itu, tujuan khusus bimbingan dan konseling untuk masing-masing individu berbeda dari (dan tidak oleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya (Ermananti, 199:114).

2.1.3 Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Menurut Belkin (dalam Ermananti, 1999:116) ada sedikitnya enam prinsip untuk menegakkan dan menumbuhkembangkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah yaitu:
1. Konselor harus memulai kariernya sejak awal dengan program kerja yang jelas, dan memiliki kesiapan yang tinggi untuk melaksanakan program tersebut.
2. Konselor harus mempertahankan sikap profesional tanpa mengganggu keharmonisan hubungan antara konselor dengan personal sekolah lainnya dan siswa.
3. Konselor bertanggung jawab untuk memahami perannya sebagai profesional dan menterjemahkan peranannya ke dalam perbuatan nyata.
4. Konselor bertanggung jawab kepada semua siswa, baik siswa-siswa yang gagal, yang menimbulkan gangguan, yang berkemungkinan putus sekolah, yang mengalami permasalahan emosional, yang mengalami kesulitan belajar, maupun siswa-siswa yang memiliki bakat istimewa, yang berpotensi rata-rata, yang pemalu dan menarik diri dari khalayak ramai, serta yang bersikap menarik perhatian atau mengambil muka guru, konselor dan personal sekolah lainnya.
5. Konselor harus memahami dan mengembangkan konpetensi untuk membantu siswa-siswa yang mengalami masalah dengan kadar cukup parah dan siswa-siswa yang menderita gangguan emosional, khususnya melatih penerapan program-program kelompok, kegiatan pengajaran di sekolah, serta bentuk-bentuk kegiatan lainnya.
6. Konselor harus mampu bekerja sama secara efektif dengan kepala sekolah, memberikan perhatian dan peka terhadap kebutuhan harapan, dan kecemasan-kecemasannya.

2.2 Kenakalan Remaja
2.2.1 Pengertian Kenakalan Remaja
Istilah kenakalan remaja merupakan terjemahan dari kata “juvenile” dan “delinquency” yang dipakai di dunia Barat. Istilah ini mengandung pengertian tentang kehidupan remaja yang menyimpang dari berbagai pranata dan norma yang berlaku umum, baik yang menyangkut kehidupan masyarakat, tradisi maupun agama (Arifin 1982:79-80). Dalam pengertian yang lebih luas tentang kenakalan remaja ialah perbuatan/kejahatan/pelanggaran yang dilakukan oleh anak remaja yang bersifat melawan hukum, anti sosial, anti susila, dan menyalahi norma-norma agama (Sudarsono, 1989:1).
Dari definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kenakalan remaja itu adalah suatu perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh anak remaja yang bertentangan dengan hukum, agama, maupun norma-norma dalam masyarakat yang menjadi tempat tinggalnya, sehingga perbuatannya itu dapat merugikan orang lain dan dirinya sendiri.


2.2.2 Bentuk-bentuk Kenakalan Remaja
Simanjutak (1975:75-76) memberikan gambaran secara umum tentang perbuatan-perbuatan yang melanggar norma-norma yang bersifat anti-sosial yaitu:
1. Ngebut, yaitu mobil atau sepeda motor ditengah-tengah keramaian kota dengan kecepatan tinggi yang dilakukan para pemuda belasan tahun.
2. Membentuk kelompok-kelompok dengan norma yang menyeramkan, dan bila terjadi perselisihan akan melakukan tindakan-tindakan main hakim sendiri.
3. Peredaran pornografi di kalangan pelajar baik dalam bentuk majalah cabul, cerita-cerita dan gambar-gambar yang menusuk, peredaran obat perangsang nafsu seksual.
4. Berpakaian mewah dengan mode dan gaya yang tidak selaras dengan selera ketimuran.
Sedangkan bentuk-bentuk kenakalan remaja yang sering terjadi di sekolah maupun di luar sekolah menurut Sukeni dan Warsito (1983:95-96) antara lain:
1. Berbohong, memutar-balikan kenyataan dengan tujuan meniup orang atau menutup kesalahan.
2. Membolos, pergi tanpa pamit meninggalkan sekolah tanpa sepengetahuan pihak sekolah.
3. Kabur, meninggalkan rumah tanpa izin orang tua atau menantang keinginan orang tua.
4. Keluyuran, pergi sendirian atau berkelompok tanpa tujuan yang jelas dan mudah menimbulkan perbuatan iseng yang negatif.
5. Memiliki dan membawa benda yang membahayakan orang lain, sehingga, mudah terserang untuk menggunakannya. Misalnya pisau, pistol, silet, dan sebagainya.
6. Bergaul dengan teman yang memberi pengaruh buruk, sehingga mudah terjerat dalam perkara yang benar-benar kriminal.
7. Berpesta pora semalam untuk tanpa pengawasan, sehingga mudah timbul tindakan-tindakan yang kurang bertanggung jawab.
8. Membaca buku-buku porno dan biasa mempergunakan kata-kata yang tidak sopan dan tidak senonoh.
9. Makan di warung dan naik bis tanpa membayar.
10. Turut dalam pelacuran atau melacurkan diri baik dengan alasan tujuan ekonomi maupun tujuan lain.
11. Berpakaian tidak pantas dan minum-minuman keras atau menghisap ganja sehingga merusak diri maupun orang lain.


2.2.3 Upaya-upaya dalam Menanggulangi Kenakalan
Sekeni dan Warsito )1983:95-96) menyatakan bahwa proses penanggulangan kenakalan remaja dapat dilakukan secara:
1. Preventif
a. Pencegahan secara umum, yaitu dengan mencegah timbulnya kenakalan remaja secara umum seperti :
1) Mengetahui kesulitan-kesulitan umum-umum yang dimiliki para remaja.
2) Usaha mengetahui dan mengenal ciri umum dan ciri khas remaja.
3) Usaha pembinaan remaja seperti menguatkan mental remaja, pendidikan mental dan pribadi, penyediaan sarana demi perkembangan yang optimal dari remaja, perbaikan lingkungan sekitar, sosial ekonomi dan masyarakat.
b. Pencegahan secara khusus
Pencegahan secara khusus ini dapat dilakukan oleh seorang pendidik/guru dengan pendidikan mental serta pendidikan pembentukan pribadi melalui kegiatan ekstrakurikuler. Usaha ini harus diarahkan kepada remaja dan selalu mengamati dan memberikan perhatian khusus.
2. Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi
Dimana merupakan tindakan yang berikutnya setelah tindakan yang lain dilaksanakan serta menganggap perlu untuk merubah tingkah laku siswa pelanggar Sukeini dan Warsito (1983:96-97) antara lain :
Adapun tindakan kuratif lainnya bagi usaha penyembuhan anak delinquent menurut Kartono (1986:96-97) antara lain :
a. Menghilangkan semua sebab musabab timbulnya kejahatan remaja, baik yang berupa pribadi familiar, sosial ekonomi dan kultural.
b. Melakukan perubahan lingkungan dengan jalan mencarikan orang tua asuh dan memberikan fasilitas yang diperlukan bagi perkembangan jasmani dan rohani anak-anak remaja.
c. Memindahkan anak-anak yang nakal ke sekolah yang lebih baik, atau ke tengah lingkungan sosial yang lebih baik.
d. Memberikan latihan bagi para remaja untuk hidup teratur, tertib dan disiplin.
e. Memanfaatkan waktu senggangnya untuk hal-hal yang bermanfaat, bekerja, belajar, dan melakukan rekreasi sehat serta disiplin tinggi.
f. Mengingatkan organisasi pemuda dengan program-program latihan vokasional untuk mempersiapkan anak remaja delinquent itu bagi pasaran kerja dan hidup di tengah masyarakat.
g. Memperbanyak lembaga latihan kerja dengan program kegiatan pembangunan.
h. Mendirikan klinik psikologi untuk meringankan dan memecahkan konflik emosional dan gangguan kejiwaan lainnya.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah Classroom action research (CAR) yaitu action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas yang dibantu oleh konselor, kepala sekolah, wali murid di dalam atau di luar kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan-…”, yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Action research termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Action research berbeda dengan penelitian formal, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun demikian hasil Action research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang mirip dengan yang dimiliki peneliti.

3.2 Metode Penentuan Subjek
Penentuan subjek merupakan langkah awal dalam melaksanakan penelitian. Penelitian tindakan kelas ini mengambil sampel pada kelas SMA 1 Negeri Jombang yang masing-masing kelas berjumlah 30 siswa. Pengambilan sampel tersebut berdasarkan pendapat Arikunto (2002:107), yaitu :
“Untuk sekedar ancer-ancer, apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15%, atau 20-25% atau lebih.”
Berdasarkan acuan di atas penulis mengambil seluruh siswa yang ada di Kelas III-A semester 2, yaitu sejumlah 30 siswa. Jadi dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik total sampling dalam pengambilan sampel penelitian tindakan kelas.

3.3 Metode Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode yaitu:
1. Metode Observasi
Observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki (Hadi, 1981:136). Dengan metode observasi dimaksudkan untuk mengadakan pengamatan secara langsung terhadap bentuk pembinaan penanggulangan kenakalan siswa yang dilakukan pihak sekolah.
2. Metode Interview
Interview sering juga disebut wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara Arikunto, (2002:133). Teknik interview digunakan untuk mencari data dari Guru Pembimbing, Guru Pendidikan Agama Islam, dan guru-guru lainnya tentang bentuk kenakalan, serta pembinaan yang dilakukan pihak sekolah dalam usaha menanggulangi kenakalan siswa.
3. Metode Angket
Kuesioner / angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden tentang hal-hal yang ia ketahui (Surahmat, 1990:128). Dalam penelitian ini, angket diberikan kepada para siswa yang menjadi responden dalam bentuk angket tertutup yaitu responden tinggal memilih jawaban yang sudah tersedia.
Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang bentuk –bentuk kenakalan yang dilakukan oleh siswa SMP Negeri 1 Jombang.
4. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengambil data dari dokumentasi-dokumentasi yang tersedia. Menurut Surahmat (1990:134) dokumen sebagai laporan tertulis dari penjelasan dan pemikiran terhadap peristiwa dan ditulis sengaja untuk menyimpan atau merumuskan keterangan mengenai peristiwa tersebut,. Metode ini dipergunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan penelitian.

3.4 Siklus Penelitian











Gambar 3.1
Siklus Penelitian

3.5 Metode Analisis Data
Metode ini digunakan untuk memberi interpretasi terhadap data yang telah diseleksi baik data yang diperoleh melalui observasi, interview, angket, maupun dokumentasi. Setelah datanya terkumpul kemudian diklasifikasikan menjadi data kualitatif dan kuantitatif.
1. Metode Analisis Kualitatif
a. Metode Induktif
Metode induktif adalah suatu penganalisaan data, dimana dalam menarik kesimpulan dengan jalan mengambil atau memilih data yang bersifat khusus kemudian dianalisa dan ditarik yang bersifat umum (Barnadib, 1994:127).
b. Metode deduktif
Metode deduktif adalah penganalisaan data dimana dalam menarik kesimpulan berpijak pada kaidah-kaidah umum kemudian dianalisa dan ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. (Batnadib:127).
2. Metode Analisa Kuantitatif
Metode ini digunakan untuk menganalisa daya yang berupa angka-angka, dengan menggunakan rumus statistik sederhana dalam bentuk tabel distribusi frekwensi (persentase) (Sujiono, 1995:40).
Adapun rumus persentase tersebut adalah sebagai berikut :

Keterangan :
P = Persentase
F = Frekwensi
N = Number of eases (Jumlah Frekwensi/jumlah sampel)
100% = Bilangan Konstan.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

41. Siklus 1 (Upaya Guru Pembimbing Mendeskripsikan Kenakalan Siswa)
4.1.1 Perencanaan
1. Menentukan bentuk dan jenis kenakalan siswa secara kualitatif.
Bentuk dan jenis kenakalan siswa ini akan dibedakan dalam kategori kenakalan ringan, kenakalan sedang, dan kenakalan berat.
a. Bentuk kenakalan ringan, antara lain :
1) Tidak mengerjakan PR
2) Mengganggu teman
3) Terlambat masuk sekolah
4) Menyontek saat ulangan/ujian
b. Bentuk kenakalan sedang, antara lain:
1) Melanggar pakaian seragam sekolah
2) Membolos pada jam pelajaran
3) Melakukan corat-coret di lingkungan sekolah
4) Merokok di lingkungan sekolah
c. Bentuk kenakalan berat, antara lain :
1) Membawa senjata tajam
2) Membawa buku-buku/majalah porno
3) Berkelahi di lingkungan sekolah
4) Mencuri di lingkungan sekolah
2. Menyusun instrumen untuk mengungkap kenakalan siswa berdasarkan bentuk dan jenisnya secara kuantitatif.
Instrumen ini disajikan dalam skala ordinal dengan kategori respon sering, pernah, dan tidak pernah. Jawaban diberikan dengan cara menandai respon dengan tanda cawang (). Instrumen dimaksud adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1
Instrumen Penelitian
No Pernyataan Sering Pernah Tidak pernah
1. Tidak mengerjakan PR
2. Mengganggu teman
3. Terlambat masuk sekolah
4. Melanggar pakaian seragam sekolah
5. Membolos pada jam pelajaran
6. Melakukan corat-coret di lingkungan sekolah
7. Merokok di lingkungan sekolah
8. Membawa senjata tajam
9. Membawa buku-buku/majalah porno
10. Berkelahi di lingkungan sekolah
11. Mencuri di lingkungan sekolah
12. Dst.........
3. Menyusun tabel klasifikasi pelanggaran dan skor siswa
Tabel klasifikasi dimaksudkan untuk menempatkan bentuk dan jenis pelanggaran sesuai dengan posisinya dalam tiap kategori. Tabel klasifikasi pelanggaran dan skor siswa sidudun format sebagai berikut :

Tabel 4.2.
Format Tabel Klasifikasi Pelanggaran dan Skor Siswa
No Klasifikasi Jenis Pelanggaran Skor
1 A
2 B
3 C
4 D
5 E
6 F
7 G
8 H
9 Dst.....
10 Dst.....

4.1.2 Pelaksanaan
Instrumen (angket) untuk mengungkap kenakalan siswa berdasarkan bentuk dan jenisnya secara kuantitatif disajikan secara klasikal. Dalam hal ini instrumen disajikan dalam kelas III-A. Penyajian instrumen ini dibantu oleh seorang guru kelas di luar jam pelajaran, yaitu pada jam pulang sekolah. Instrumen disajikan dalam waktu 7 menit.


4.1.3 Pengamatan
Selanjutnya bentuk kenakalan siswa secara kuantitatif berdasarkan penyebaran angket yang penulis lakukan adalah sebagai berikut:
a. Tidak mengerjakan PR
Tugas PR merupakan salah satu unsur yang dapat mempengaruhi nilai para siswa. Berdasarkan hasil penyebaran angket, diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.3.
Tidak Mengerjakan PR
No. Alternatif jawaban F P (%)
1. a. Sering 3 10,00%
2. b. Pernah 17 53,34
3. c. Tidak Pernah 11 36,66
Jumlah 30 100

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari jumlah yang dijadikan sampel diperoleh data sebagai berikut: yang menjawab sering 3 siswa (10,00%), yang menjawab pernah 17 siswa (53,34%) dan yang menjawab tidak pernah 11 siswa (36,66%).
Dari data dalam tabel, dapat diambil kesimpulan bahwa masih banyak sebagian siswa yang melanggar kenakalan ini yaitu sebesar 53,34%, sedangkan yang tidak pernah jumlahnya yaitu 36,66%.

b. Mengganggu teman
Untuk menjaga kenyaman bagi para siswa di SMP Negeri 1 Jombang, para siswa dilarang mengganggu, apalagi hal ini juga bertentangan dengan nilai kesopanan dan agama, jadi pihak sekolah juga bertingak apabila ada para siswanya yang beruat hal yang demikian. Berdasarkan angket terhadap siswa Kelas III-A, tentang pelanggaran ini diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 4.4
Mengganggu Teman
No. Alternatif jawaban F P (%)
1. a. Sering 2 6,66%
2. b. Pernah 5 16,66
3. c. Tidak Pernah 23 76,66
Jumlah 30 100

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dari jumlah yang diajdikan sampel diperoleh data sebagai berikut: yang menjawab sering 2 siswa (6,66%), yang menjawab pernah 5 siswa (16,66%), dan menjawab tidak pernah siswa (76,66%).
Jadi dari data tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa bentuk kenakalan ini jarang dilakukan oleh siswa yaitu hanya 6,66% yang menjawab pernah selebihnya menjawab tidak pernah.
c. Terlambat masuk sekolah
Tentang pelanggaran terhadap tata tertib ini, melalui penyebaran angket dapat diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.5.
Terlambat Masuk Sekolah
No. Alternatif jawaban F P (%)
1. a. Sering 0 0
2. b. Pernah 11 36,66
3. c. Tidak Pernah 19 63,34
Jumlah 30 100

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari jumlah yang diajdikan sampel diperoleh data sebagai berikut: yang menjawab sering 0 siswa (0%), yang menjawa pernah 11 siswa (36,66%), dan yang menjawab tidak pernah 19 siswa (63,34%).
Dari data dalam tabel, dapat diambil kesimpulan bahwa masih ada siswa yang terlambat masuk sekolah yaitu sebesar 11 siswa (36,66%).
1. Bentuk kenakalan sedang
a. Membolos pada jam pelajaran
Menurut tata tertib yang berlaku di SMP Negeri 1 Jombang, setiap siswa diharuskan/ wajib mengikuti proses belajar-mengajar berdasarkan waktu yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah, jadi setiap siswa dilarang untk meningglkan jam pelajaran, kecuali ada ijin dari sekolah. Tentang berapa prosentase pelanggaran terhadap tata tertib tersebut, diperoleh data dan penyebaran angket sebagai berikut:
Tabel 4.6.
Membolos Pada Jam Pelajaran
No. Alternatif jawaban F P (%)
1. a. Sering 0 0
2. b. Pernah 5 16,66
3. c. Tidak Pernah 25 83,34
Jumlah 30 100

Berdasarkan tabel di atas menujukkan bahwa dari jumlah yang dijadikan sampel diperoleh data sebagai berikut: yang menjawab sering 0 siswa (0%), yang menjawab pernah 5 siswa (16,66%), yang mejawab tidak pernah 25 siswa (13,34%).
Dari data tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa kenakalan membolos pada jam pelajaran relatif sedikit berdasarkan bukti yaitu sebesar 83,34% atau 25 siswa.
b. Melanggar pakaian seragam sekolah
Menurut tata tertib yang berlaku di SMP Negeri 1 Jombang, sertiap siswa diharuskan berpakaian seragam, rapi dan sopan. Tentang berapa besar prosentase kenakalan tersebut dapat dilihat dari hasil penyebaran angket dibawah ini :
Tabel 4.7.
Melanggar Pakaian Seragam Sekolah
No. Alternatif jawaban F P (%)
1. a. Sering 0 0
2. b. Pernah 5 17,74
3. c. Tidak Pernah 25 82,66
Jumlah 30 100

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa dari 30 siswa yang menjadi sampel diperoleh data sebagai berikut: yang menjawab sering siswa (0%), yang menjawab pernah 10 siswa (17,74%), dan yang menjawab tidak pernah 50 siswa (82,26%).
Dari dat di atasm dapat diambil kesimpulan bahwa bentuk kenakalan yang berupa melanggar pakaian seragam, dapat dikatakan masih ada beberapa siswa yang pernah memakai pakaian tidak seragam, meskipun hanya sebagian kecil yaitu 14,74%, sebab sebagian siswa menjawab tidak pernah (82,26%).
c. Melakukan corat-coret di lingkungan sekolah
Berdasarkan hasil penyebaran angket terhadap siswa kelas III-A, tentang bentuk kenakalan yang berupa corat-coret di lingkungan sekolah jdiperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.8
Corat-coret di Lingkungan Sekolah
No. Alternatif jawaban F P (%)
1. a. Sering 0 0
2. b. Pernah 2 6,64
3. c. Tidak Pernah 28 93,33
Jumlah 30 100

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dari jumlah yang dijadikan sampel diperoleh data sebagai berikut: yang menjawab sering 0 siswa (0%), yang menjawab pernah 2 siswa (6,64%), dan yang menjawab tidak pernah 28 siswa (93,33%).
Dari data tabel di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa bentuk kenakalan yang berupa corat-coret di lingkungan sekolah, dapat dikatakan sebagaian kecil saja siswa yang menjawab pernah (4,84%), sedangkan sisanya menjawab tidak pernah (93,33%).
d. Merokok di lingkungan sekolah
Salah satu bentuk pelanggaran tata tertib sekolah yang dapat menyebabkan kesehatan diri sendiri dan orang lain terganggu adalah merokok, sehingga pihak sekolah mengkategorikan ini sebagai bentuk pelanggaran. Dari penyebaran angket dapat diperoleh data para siswa yang merokok di lingkungan sekolah adalah sebagai berikut:
Tabel 4.9.
Merokok di Lingkungan Sekolah
No. Alternatif jawaban F P (%)
1. a. Sering 1 3,23
2. b. Pernah 20 66,12
3. c. Tidak Pernah 9 30,65
Jumlah 30 100

Bedasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dari jumlah yang dijadikan sampel diperoleh data sebagai berikut: yang menjawab sering 1 siswa (3,2%), yang menjawab pernah 20 siswa (66,12%), dan yang menjawab tidak pernah 9 siswa (30,65%).
Jadi, dari data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa di lingkungan SMP Negeri 1 Jombang ini sebagian besar siswanya pernah merokok di sekolah, terbukti dengan prosentasenya sebesar (66,12%).

2. Bentuk kenakalan berat
a. Membawa senjata tajam
Membawa senjata tajam di lingkungan sekolah merupakan salah satu larangan yang harus dipatuhi oleh para siswa, kecuali alat praktek atau ada izin dari sekolah. Berdasarkan angket pelanggaran terhadap aturan ini diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.10
Menyimpan Senjata Tajam
No. Alternatif jawaban F P (%)
1. a. Sering 0 0
2. b. Pernah 2 8,06
3. c. Tidak Pernah 28 91,94
Jumlah 30 100

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dari jumlah yang diajadikan sampel diperoleh data sebagai berikut: yang menjawab sering 0 siswa (0%), yang menjawab pernah 2 siswa (8,06)%), dan yang menjawab tidak pernah 28 siswa (91,94%).
b. Membawa buku-buku majalah porno
Membawa bacaan, gambar, dan video yang berbau pornografi merupakan salah satu yang termasuk dalam pelanggaran tata tertib sekolah, karena hal ini dapat merusak fikiran para siswa sehingga cenderung untuk hal-hal yang negatif. Dari hasil penyebaran angket dapat diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.11
Membawa Buku/ majalah Pornografi
No. Alternatif jawaban F P (%)
1. a. Sering 0 0
2. b. Pernah 1 4,48
3. c. Tidak Pernah 29 95,16
Jumlah 30 100

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dari jumlah yang dijadikan sampel diperoleh data sebagai berikut : yang menjawab sering 0 siswa (0%), menjawab pernah 1 siswa (4,84%), dan yang menjawab tidak pernah 29 siswa (95,16%)
Jadi dari data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar siswa tidak pernah membawa majalah/buku porno ke sekolah (95,16%)
c. Berkelahi di lingkungan sekolah
Tentang kenakalan berkelahi baik di dalam kelas maupun di lingkungan SMP Negeri 1 Jombang dapat diketahui dari hasil penyebaran angket dan diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 4.12
Berkelahi di Lingkungan Sekolah
No. Alternatif jawaban F P (%)
1. a. Sering 0 0
2. b. Pernah 0 0
3. c. Tidak Pernah 13 100
Jumlah 30 100
Tabel di atas menunjukkan bahwa dari jumlah yang dijadikan sampel diperoleh data sebagai berikut : yaitu jawaban sering 0 siswa (0%), yang menjawab pernah 0 siswa (0%), dan yang menjawab tidak pernah 30 siswa (100%).
Dari data dalam tabel dapat diambil kesimpulan bahwa semua siswa td pernah berkelahi di lingkungan sekolah terbukti dengan prosentasenya yang 0%.
d. Mencuri di Lingkungan Sekolah
Mencuri adalah suatu tindakan kenakalan yang dapat dikategorikan sebagai tindakan kiriminal. Apabila pihak yang diragikan melaporkan pada pihak yang berwajib. Tentang kenakalan mencuri di lingkungan sekolah dapat diketahui dari hasil penyebaran angket, diperoleh data sebagai berkut :
Tabel 4.13
Mencuri di Lingkungan Sekolah
No. Alternatif jawaban F P (%)
1. a. Sering 0 0
2. b. Pernah 1 0
3. c. Tidak Pernah 30 100
Jumlah 30 100

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa dari jumlah yang dijadikan sampel diperoleh data sebagai berikut: yang menjawab sering 0 siswa (0%), yang menjawab pernah 0 siswa (0%), dan yang menjawab tidak pernah 60 siswa (100%).
Jadi dari data tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada yang melakukan pencurian di lingkungan sekolah (prosentasenya 0%)
4.1.4 Refleksi
Tabel 4.14
Klasifikasi Pelanggaran dan Skor Siswa
No. Alternatif Jenis Pelanggaran Skor
1 B Berurusan dengan pihak berwajib karena tindakan kriminal/kejahatan 100
2 B Mencuri di lingkungan sekolah 75
3 B Berkelahi / terlibat perkelahian 75
5 C Membawa senjata tajam 50
4 C Membawa bacaan, gambar, video pornografi 50
5 D Corat-coret di lingkungan sekolah 30
6 D Merokok di lingkungan sekolah 30
7 E Membolos pada jam pelajaran 25
8 F Bersifat tidak sopan / mengganggu teman 15
9 G Berseragam tidak sesuai aturan sekolah 10
10 H Menyontek pada saat ulangan/ujian 5
11 H Tidak mengerjakan PR 5

1. Mencuri dasarnya tidak hanya termasuk dalam pelanggaran tata tertib sekolah, akan tetapi dapat dikategorikan sebagai tindakan kriminal yang dapat melibatkan pihak yang berwajib, pihak sekolah mempunyai pencurian ini terjadi di lingkungan sekolah mempunyai kebijakan tersendiri dan tidak melibatkan pihak Kepolisian dalam menangani masalah ini, agar pihak sekolah juga tidak mengalami kerugian, baik secara material maupun immaterial.
2. Berkelahi di lingkungan sekolah merupakan tindakan yang dapat mencemarkan nama bail sekolah, sehingga hal ini harus ditindak sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia. Karena kalau tidak akan lebih membayangkan lagi jika perkelahian itu dilakukan dengan siswa sekolah lainnya kenakalan ini termasuk dalam bentuk kenakalan berat.
3. Membawa senjata tajam ke sekolah kecuali ada ijin dari sekolah untuk praktek, merupakan perbuatan yang dapat merangsang untuk menggunakannya karena usia remaja merupakan usia yang emosinya masih labil, sehingga ini termasuk dalam bentuk kenakalan berat.
4. Membawa majalah/buku yang berbau pornografi termasuk dalam bentuk kenakalan berat karena dapat menimbulkan hal-hal yang berakibat fatal bagi siswa itu sendiri, contohnya tindakan pencabulan, pelecehan seksual dan lain-lain.
5. Corat-coret di lingkungan sekolah merupakan perbuatan yang dapat merusak keindahan dari sekolah itu sendiri, sehingga dalam tabel klasifikasi mempunyai skor 30 dan termasuk kenakalan sedang, pelanggaran ini dianggap dapat merugikan secara materi bagi sekolah.
6. Merokok adalah suatu perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain yaitu terutama dapat menyebabkan gangguan kesehatan, maka dari itu pada tabel 4.14 kenakalan ini diberi skor 30 dan termasuk kenakalan sedang.
7. Tindakan membolos pada jam pelajaran ini termasuk dalam kenakalan sedang karena dalam label klasifikasi mempunyai skor 25, dan hal ini dapat merugikan siswa karena selain ketinggalan pelajaran siswa juga biasanya ketika membolos melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti duduk-duduk diluar sekolah dan lain-lain.
8. Mengganggu teman termasuk perbuatan yang dapat merugikan orang lain, karena selain orang tidak merasa nyaman hal ini juga dapat mengganggu dalam proses kegiatan belajar mengajar, kenapa dikatakan kenakalan ringan, karena hal ini masih bisa ditolerir, sehingga mempunyai skor 15 dalam tabel klasifikasi.
9. Tidak menggunakan seragam sesuai dengan aturan sekolah adalah suatu perbuatan yang dianggap memberikan asumsi bahwa ada pembedaan status sosial di sekolah, karena itu hal ini tidak boleh dilakukan karena akan menyebabkan kecemburuan sosial bagi siswa yang lain.
10. Kenakalan ini sudah biasa terjadi di kalangan siswa sekolah maupun dan hanya termasuk dalam kategori pelanggaran tata tertib sekolah, hal ini dapat merugikan siswa, karena siswa tidak mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri.
11. Terlambat masuk sekolah mempunyai skor 5 dan termasuk kenakalan ringan karena banyak faktor-faktor yang masih bisa ditoleransi misalnya karena tidak semua siswa mempunyai kendaraan, tidak semua transportasi berjalan lancar dan lain-lain.
12. Tidak mengerjakan PR dianggap sebagai kenakalan ringan karena sudah terbiasa dilakukan oleh siswa sehingga dalam tabel klasifikasi pelanggaran dan skor siswa mempunyai skor yang relatif kecil yaitu hanya 5 sebagaimana diperlihatkan dalam tabel 4.16 di atas.




42. Siklus 2 (upaya Guru Pembimbing)
4.2.1 Perencanaan
1. Mempersiapkan bentuk bimbingan sesuai dengan empat bidang dalam bimbingan konseling pola 17.
2. Penyediaan fasilitas bimbingan konseling.
3. Mengadakan tinjauan kasus dan kunjungan rumah (home visit) bagi siswa yang bermasalah, agar dapat mencari solusi yang terbaik.
4. Bekerja sama dengan orang tua siswa.
4.2.2 Pelaksanaan
1. Bimbingan Pribadi
Bimbingan pribadi merupakan suatu layanan yang diberikan kepada siswa untuk mengenal bakat, minat dan cita-cita yang diinginkan oleh siswa, sehingga dalam hal ini siswa perlu bimbingan dan diarahkan sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal ini penting untuk dilakukan karena jika siswa tidak diarahkan dan bimbingan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Maka dikhawatirkan akan berdampak buruk dalam perkembangan masa depan siswa. Biasanya hal ini akan membuat hidupnya tertekan dan cenderung untuk melakukan hal-hal yang negatif.
Bimbingan pribadi ini dilakukan oleh guru pembimbing dengan cara memberikan pelayanan kepada siswa dalam bentuk konseling perorangan yaitu setiap individu dapat menyampaikan permasalahannya kepada guru pembimbing.
2. Bimbingan sosial
Merupakan suatu layanan yang diberikan kepada siswa, agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah serta dapat mentaati peraturan dan tata tertib sekolah dan penggunaan fasilitas sekolah, sehingga siswa dapat bersosialisasi dengan baik antara siswa dengan siswa. Siswa dengan guru maupun dengan personel sekolah lainnya. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar para para siswa dapat belajar dengan situasi dan kondisi yang nyaman dan dapat mendukung proses kegiatan belajar mengajar.
Bimbingan sosial ini dilakukan dengan mengadakan kegiatan-kegiatan seperti, Masa Orientasi Siswa (MOS) bagi siswa baru, diadakannya perlombaan-perlombaan antar kelas agar dapat meningkatkan hubungan sosial menjadi lebih baik.
3. Bimbingan Mengajar
Bimbingan belajar merupakan suatu layanan yang diberikan kepada siswa agar dapat meningkatkan motivasi belajar, kemampuan belajar, serta mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Hal ini penting dilakukan agar siswa dapat memanfaatkan kondisi, baik kondisi fisik, sosial dan budaya bagi pengembangan pengetahuan.
Bimbingan belajar di sini diberikan kepada siswa dalam bentuk kerjasama antara guru bidang studi dan guru pembimbing dalam mencarikan jalan bagi siswa yang bermasalah dalam kegiatan belajar mengajar, apakah dengan cara membagi kelompok-kelompok belajar siswa atau dengan memberikan pelajaran tambahan (les).
4. Bimbingan Karier
Layanan bimbingan karier bertujuan untuk memecahkan masa depan siswa, baik mengenai sistem pengembangan pemasaran dan kelanjutannya setelah lulus SMP Negeri 1 Jombang, dan langkah yang akan ditempuh dalam menetapkan pilihan kariernya serta dapat mengetahui informasi tentang perkembangan dunia kerja.
5. Penyediaan Fasilitas Bimbingan
Untuk menghindari berbagai macam dampak buruk yang ditimbulkan siswa, maka disini pihak sekolah menyediakan fasilitas yang dapat menunjang kegiatan bimbingan, diantaranya adalah :


a. Ruang bimbingan untuk konsultasi siswa.
b. Alat perlengkapan ruangan, seperti meja, kursi, tempat untuk menyimpan data, papan tulis dan papan pengumuman.
c. Fasilitas teknik seperti angker untuk siswa, angket untuk orang tua, serta kotak masalah dan lain0lain.
Karena dengan adanya penyediaan fasilitas tersebut adalah sebagai salah satu usaha untuk mencegah timbulnya kenakalan siswa dan diharapkan mampu untuk menampung kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa serta mampu menemukan solusi permasalahan siswa dengan baik.
6. Mengadakan tinjauan kasus dan kunjungan rumah (home visit) bagi siswa yang bermasalah, agar dapat mencari solusi yang terbaik.
7. Bekerja sama dengan orang tua siswa
Kerja sama yang dilakukan oleh guru pembimbing dengan orang tua siswa sangat perlu dilakukan un mencari solusi yang terbaik bagi siswa yang bermasalah, karenan hal-hal yang dapat menyebabkan siswa bermasaah adalah dari banyak faktor, salah satunya adalah keluarga. Jadi disini pihak keluarga juga harus memberikan informasi secara terbuka kepada guru pembimbing agar masalah yang dihadapi oleh siswa dapat segera terselesaikan.
4.2.3 Pengamatan
Memebrikan skor terhadap bentuk kenakalan merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh guru pembimbing dan guru agama Islam atas nama sekolah. Adapun pelaksanaannya adalah dengan memberikan skor pada setiap bentuk kenakalan, lalu skor dijumlahkan secara keseluruhan menurut berapa banyak skor yang diberikan pada setiap bentuk kenakalan siswa. Pemberian skor ini dapat dilihat pada tabel 4.14. Klasifikasi Pelanggaran dan Skor Siswa.
Berdasarkan skor-skor yang ada pada tabel di atas, maka ditentukan bentuk sanksi dan pembinaan, yaitu :
1. Bentuk Sanksi
a. Pelanggaran tata tertib dengan skor kurang dari 20 akan dibina oleh Bapak/Ibu Guru yang bersangkutan.
b. Skor 21 s/d 40 akan dibina oleh Bapak/Ibu wali kelas.
c. Skor 41 s/d 60 akan dibina guru pembimbing dan mendapat peringatan ke-1 (orang tua /wali dipanggil un mengetahuinya).
d. Skor 61 s/d 75 akan dibina oleh urusan kesiswaan dan mendapat peringatan ke-2 (orang tua/wali dipanggil untuk mengetahuinya.
e. Skor 76 s/d 100 akan dibina oleh kepala sekolah dan mendapat peringatan le-3 (orang tua/wali dipanggil untuk mengetahuinya)
f. Skor 100 ke atas akan dikeluarkan dari sekolah (untuk selanjutnya diserahkan tanggung jawab pendidikannya kepada orang tua/wali)
2. Bentuk pembinaan
a. Nasehat dan teguran dari guru, wali kelas, kepala sekolah, petugas sekolah.
b. Memberikan kegiatan lain yang bersifat mendidik.

4.2.4 Refleksi
Pemberian sanksi terhadap siswa yang melakukan kenakalan perlu dilakukan oleh guru / pihak sekolah, agar para siswa dapat mengambil hikmah dari apa yang dilakukannya.
Berdasarkan angket yang diberikan kepada siswa diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 4.15
Pemberian Sanksi

No. Alternatif jawaban F P (%)
1. a. Sering 0 0
b. Pernah 29 96,77
c. Tidak Pernah 1 2,23
Jumlah 30 100

Berdasarkan data dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa pernah diberi sanksi oleh pihak sekolah jika melakukan kenakalan atau melanggar tata tertib sekolah yaitu 96,77%.
Berdasarkan penyebaran angket tentang bentuk sanksi yang diberikan oleh pihak sekolah diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 4.16
Bentuk Sanksi
Tabel 4.15
Pemberian Sanksi

No. Alternatif jawaban F P (%)
2 a. Teguran 23 76,66
b. Surat Peringatan 1 3,33
c. Disuruh lapor 2 6,06
d. Tidak boleh mengikuti pelajaran 4 13,33
Jumlah 30 100

Berdasarkan data tabel di atas dapat diambil bahwa bentuk sanksi yang lebih banyak diberikan kepada siswa adalah teguran, terbukti dengan prosentasenya sebesar 76,66%. Sedangkan bentuk sanksi yang hampir tidak pernah adalah surat peringatan. Diantara 30 siswa hanya seorang siswa yang menyatakan pernah diberi sanksi berupa surat peringatan.
Bentuk-bentuk kenakalan siswa tentunya sangat banyak terjadi di kalangan sekolah maupun di lingkungan kita, baik jumlah dan jenisnya, dan sudah barang tentu tidak seluruhnya dapat diketahui oleh pihak sekolah. Hal ini disebabkan karena siswa tidak hanya tinggal di sekolah, akan tetapi juga dalam keluarga dan masyarakat.
Bentuk-bentuk kenakalan siswa secara kualitatif dan secara kuantitatif yang terjadi di SMP Negeri 1 Jombang sebenarnya masih dalam taraf pelanggaran taat tertib sekolah dan belum sampai kepada tindakan-tindakan kriminal yang melibatkan pihak yang berwajib.
Adapun yang terjadi menjadi faktor-faktor penghambat dalam upaya penanggulangan kenakalan siswa adalah antara lain :
1. Terjadinya keanekaragaman bentuk pelanggaran yang dilakukan siswa, sehingga membuat guru pembimbing agak kewalahan.
2. Kurangnya motivasi yang diberikan oleh keluarga/ pihak sekolah, sehingga siswa sulit untuk dibimbing dan diarahkan.
3. Kurangnya kesadaran dan perhatian orang tua/wali murid terhadap permasalahan yang dihadapi oleh putra-putrinya, sehingga dapat mempersulit dalam upaya mencarikan penyelesaian.
4. Adanya ketidakterbukaan pihak keluarga siswa, karena merka beranggapan bahwa hal itu dianggap rahasia keluarganya dan orang lain tidak boleh tahu, termasuk pihak sekolah.
5. Minimnya dana menjadi salah satu faktor penghambat dalam mengadakan kegiatan penanggulangan kenakalan siswa.


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana di bahas di muka, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Upaya guru pembimbing dalam mendeskripsikan bentuk dan jenis-jenis kenakalan siswa secara kualitatif dan kuantitatif terlihat cukup berhasil. Klasifikasi bentuk dan jenis kenakalan siswa telah dapat dikategorikan kedalam kategori kenakalan ringan, kenakalan sedang, dan kenakalan berat.
2. Upaya guru pembimbing dalam menanggulangi kenakalan siswa tampak lebih komprogensif dibanding dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh guru PAI. Tetapi, upaya yang dilakukan oleh guru pembimbing tidak akan berhasil tanpa disertai oleh upaya yang sejalan sebagaimana dilakukan oleh guru PAI.
3. Upaya guru pembimbing dapat dikatakan sebagai dua upaya yang saling terkait dan bersinambungan satu sama lain dalam upaya menanggulangi kenakalan siswa.
4. Upaya penanggulangan siswa di SMP Negeri 1 Jombang tempaknya menjadi wewenang dan tanggung jawab utama guru pembimbing. Kondisi ini membuat komponen-komponen lain di sekolah sebagai bagian dari keseluruhan terkesan hanya sebagai kepanjangan tangan dari keputusan dan kebijakan guru pembimbing. Tetapi di satu sisi kondisi ini memotivasi guru pembimbing untuk melaksanakan tugas-tugas yang diamanatkan dalam menanggulangi kenakalan siswa.

5.2 Saran-saran
1. Kerjasama yang baik antar guru dengan kepala sekolah, guru dengan personil sekolah lainnya hendaknya lebih dapat diintensifkan lagi, sehingga dapat meningkatkan kemajuan sekolah secara bersama-sama.
2. Hendaknya pihak sekolah mengadakan kegiatan pembinaan bagi orang tua/wali agar mereka lebih menyadari akan pentingnya perhatian dalam mendidik putra-putrinya, sehingga dapat meminimalisir kenakalannya.
3. Para siswa hendaknya dapat menyadari bahwa melakukan kenakalan dan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah, di rumah dan di masyarakat adalah merupakan tindakan yang tidak terpuji.
Lanjuuutt..

Popular Posts